Rumah Nenek di Atas Bukit

Dwi Tirtowinoto
Chapter #5

BAB 5 SEKOLAH BARU

Seminggu setelah liburan, hari yang ditunggu Alyn akhirnya tiba: saatnya masuk sekolah SMP Negeri 1 Sungai Limau! Bukan saja ia akan bertemu guru dan teman baru, ia juga bisa bebas keluar dari rumah yang menakutkan dan melelahkan ini! Eri dan Umi pun bersemangat menyambut hari masuk sekolah. Tinggal Lely sendirian di rumah. Ia merajuk sepanjang pagi ingin ikut. Alyn iba melihatnya dan sudah membayangkan seharian ini Lely akan menjadi sasaran empuk kejahilan anak-anak Teta tanpa ada yang membelanya. 

Pagi-pagi sekali Alyn sudah berjalan menuju sekolah barunya diantar Celok sampai pintu gerbang. Sekolah itu terletak tak jauh dari pantai. Debur ombak bahkan terdengar hingga Alyn memasuki ruang kepala sekolah. Nama kepala sekolah “Ahmad Zaimar” tertulis di papan meja kerjanya. Dari balik lemari kepala Pak Zaimar menyembul. Di tangannya ada map berisi data-data dan rapor Alyn dari SMP Xaverius Putri Palembang. “Alyn ya? Silakan duduk, Nak!” ucap Pak Zaimar menyambut Alun yang mematung di depan pintu. Surat pendaftaran dan kelengkapan data Alyn ternyata sudah diserahkan oleh Celok beberapa hari sebelumnya.

”Mengapa pindah ke kampung? Bukankah lebih enak sekolah di kota?” tanya Pak Zaimar mencairkan suasana. Alyn tersenyum lalu menjawab, “Iya, Pak. Ada urusan orang tua. Insya Allah sambil mengenal kampung halaman.” Pak Zaimar membuka rapor Alyn dan menyusuri lembar demi lembar isinya. “Wah, kamu anak pintar ya! Nilainya sembilan semua!” suara Pak Zaimar meninggi dan wajahnya berseri melihat deretan angka di rapor Alyn. Rupanya ia begitu bangga ada murid pindahan yang berprestasi. “Harus lebih pintar lagi ya di sini!” tambahnya sambil beranjak menuju kelas. 

Alyn mengekor di belakang Pak Zaimar. Mereka menuju ruang kelas 2 di mana pelajaran pertamanya adalah Bahasa Indonesia. Gurunya, Pak Zaimar, sang kepala sekolah. Setelah mengucap salam pada seisi kelas, Pak Zaimar meminta Alyn memperkenalkan diri. “Nama saya, Alesha Naufalyn Yumna. Nama panggilan, Alyn. Saya murid pindahan dari SMP Xaverius Palembang. Terima kasih,” suara Alyn bergetar menahan rasa gugup. Murid-murid bertepuk tangan. Alyn lalu mencari bangku kosong di antara tiga puluh siswa di kelasnya. Yanuar mengangkat tangan, memberi tanda bahwa kursi di sebelahnya kosong. Alyn duduk di sebelah Yanuar tanpa canggung. Ia merasa beruntung sempat berkawan dekat dengan Benget Simbolon sehingga tidak takut duduk bersebelahan dengan murid laki-laki. 

Di hari pertama sekolah Alyn belajar hal baru yang tidak ada di buku pelajaran. Saat Pak Zaimar mengumpulkan dan memeriksa tugas Bahasa Indonesia, sementara murid-muridnya membaca penjelasan perbedaan tulisan deskriptif, persuasif, argumetatif. “Baadiiiiteekkkk!!!” suara Pak Zaimar menggelegar membuat jantung Alyn hampir copot. Ia tak menyangka suara lembut Pak Zaimar bisa berubah keras seperti itu. Ia juga tidak paham artinya baditek. “Apo tu Baditek?” Alyn bertanya dengan polos pada Yanuar. “Shhhttt! Itu nama ayahnya Kartinah!” jawab Yanuar sambil berbisik. Belakangan Alyn baru tahu kebiasaan di kampung: jika seseorang sangat marah pada orang lain, maka ia akan meneriakkan nama orang tuanya. Kartinah hari itu tidak membuat pekerjaan rumah pelajaran Bahasa Indonesia. 

Kartinah tertunduk malu. Ia sadar telah melakukan kesalahan yaitu tidak membuat pekerjaan rumah. Ia maju ke depan kelas, menuggu teman lainnya yang akan dipanggil pula nama ayahnya. Pagi itu ternyata hanya Kartinah yang tidak mengerjakan tugas. Hukumannya, menulis ulang tugas itu di papan sebanyak 10 kali. Belum selesai satu baris ia menulis di papan tulis, pecah suara gelak tawa teman-teman sekelasnya. Tulisan ceker ayam di papan itu seperti cacing kepanasan yang tengah mengikuti upacara bendera: benar-benar tak terbaca! Nama Baditek kembali menggelegar di kelas yang kecil itu. 

Tiba-tiba saja Pak Zaimar memanggil Alyn. “Mana anak baru itu. Alyn, coba maju,” perintah Pak Zaimar. Alyn benar-benar ketakutan setelah mendengar gelegar Baditek dari mulut guru Bahasa Indonesia sekaligus kepala sekolah itu. Namun suara Pak Zaimar melunak. Ia meminta Alyn menceritakan kepada teman-temannya, alasan ia pindah dari kota Palembang ke Sungai Limau, siapa saja guru-guru dan kawan-kawannya di Palembang. Saat itu rupanya Pak Zaimar akan memulai pelajaran bab bercerita. Saat Alyn menceritakan kisahnya di depan kelas, Pak Zaimar melihat korengan besar di kaki Alyn. “Segera ke balai klinik dekat pasar ya,” ucapnya saat kelas pelajaran Bahasa Indonesia berakhir. Pak Zaimar yang bisa keras dan ketus saat marah itu ternyata juga peduli pada murid-muridnya. 

Ketika ada tugas pelajaran mengarang yang harus dikumpulkan saat itu juga, Pak Zaimar kembali memanggil Alyn. “Tulisan Alyn ini bagus sekali. Sungguh kontras dengan tulisan murid-murid lain seperti ceker ayam. Tak bisa terbaca!” puji Pak Zaimar. Setelah itu ia menugaskan murid-murid kelas 2 untuk berlatih menulis tipis-tebal pada jam istirahat sekolah. Saat itulah Alyn menjadi pusat perhatian kerumunan siswa yang ingin melihat dan mencontek teknik tulisan tangannya. 

Namun ada satu siswa yang mencemooh, “Buek apo tulisan bagus tapi kaki bakada!” Namanya Irfandi. Beberapa siswa laki-laki lainnya ikut mencemooh dan menertawakan. Alyn tidak marah. Ia sibuk berlatih tulisan tipis-tebal walau tulisan tangannya sudah dinilai bagus. Ia hanya berdoa agar mulut orang-orang yang menghinanya penuh korengan. Yanuar ternyata teman baru yang baik. Ia langsung memarahi teman-teman yang mengejek Alyn. Rupanya mereka takut pada Yanuar yang berbadan besar. 

Setiap jam pelajaran Bahasa Indonesian, Pak Zaimar menugaskan Alyn untuk menulis soal atau catatan di papan tulis. Tentu saja Alyn senang. Teman-temannya memperhatikan dengan seksama bagaimana ia memulai garis untuk membentuk huruf, bagaimana ia membelokkan kapur sampai kata-kata tertulis dengan indah. Alyn pun tak ragu membimbing teman-temannya satu per satu, persis seperti Suster Huberdine, gurunya asal Belanda, seorang biarawati sekaligus wali kelasnya di SD Xaverius. Dengan penuh kesabaran suster itu memegang tangan murid-muridnya satu per satu, memberi contoh bagaimana membentuk huruf hingga jelas terbaca. Di sekolah itu ia ingat tak seorang pun murid dibiarkan belajar menulis sendiri. Di tiap kelas pasti ada dua suster yang bertugas. Tak heran tak ada lulusannya yang memiliki tulisan seperti ceker ayam. 

Alyn menyukai pelajaran Bahasa Indonesia bukan hanya Pak Zaimar selalu memintanya menulis di papan tulis, tetapi ia mulai menyukai proses bercerita baik melalui tulisan maupun lisan. Namun ada satu hal yang ia takutkan setiap jam pelajaran ini, maupun pelajaran lainnya: teriakan Pak Zaimar dan guru-guru pengampu lainnya, memanggil nama ayah para siswa yang lalai mengerjakan tugas atau tak bisa menjawab soal. Bagi Alyn, soal-soal di papan tulis itu, baik pelajaran Bahasa Indonesia atau pelajaran lainnya, terlalu mudah. Standar sekolah yang ditinggalkannya, SMP Xaverius Palembang, jelas jauh di atas SMP Negeri di kampung seperti ini. Guru-guru pun senang ada murid yang beberapa langkah lebih maju. Mereka berharap Alyn bisa menjadi inspirasi murid-murid lain agar lebih giat belajar. 

Selesai Bahasa Indonesia, pelajaran dilanjutkan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial. Gurunya, Pak Badaruddin. “Anak-anak, ketahuilah, sekarang ini tahun 1963, Sumatera Barat menempati peringkat tertinggi penderita busung lapar di kalangan anak-anak”, ucap Pak Badaruddin membuka kelas. “Hal ini sungguh sangat memprihatinkan. Kenyataannya, Sumatera Barat adalah daerah subur dengan hasil pertanian dan perkebunan yang unggul. 80 persen perempuan di Sumatera Barat pun berprofesi sebagai guru.” lanjutnya menjelaskan dengan wajah yang sungguh-sungguh prihatin. “Siapa yang tahu, apa penyebab fenomena ini?” Pak Badaruddin melempar pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Tak ada yang menjawab. Sebagai menunduk, menghindari tatapan mata pak guru. 

Lihat selengkapnya