Rumah Nenek di Atas Bukit

Dwi Tirtowinoto
Chapter #6

BAB 6 RUMAH TEDUH

Kartinah, si pemilik tulisan ceker ayam, sering mendekati Alyn untuk belajar menulis. Dia berusaha untuk bisa duduk dekat-dekat Alyn, atau di sebelah Alyn, namun selalu saja gagal. Yanuar datang lebih pagi dari Kartinah karena rumahnya hanya beberapa langkah saja dari sekolah. Sejujurnya Alun tidak tahan duduk bersebelahan dengan Yanuar. Walau anak laki-laki bertubuh tambun itu rajin mentraktir, wangi parfum bercampur keringat yang menguar dari tubuhnya sering membuat Alyn sakit kepala. Semakin siang, aromanya semakin tidak karuan. Alyn terkadang bingung bagaimana seorang anak nelayan bisa punya banyak uang. Tak hanya uang sakunya banyak, ia juga selalu punya uang untuk membeli minyak wangi di toko kosmetik dekat Pasar Pagi. Yanuar juga berusaha duduk menempel dan menyenggol tangan Alyn. 

“Mungkin dia naksir kamu, Lyn” kata Kartinah suatu siang. “Ada-ada saja kamu!” jawab Alyn sambil membayangkan teman sebangkunya yang bergigi kuning itu. Alyn teringat saran Teta saat ia meminta pasta gigi di awal kedatangannya di kampung ini. “Ambil batu bata merah, pecahkan, lalu giling halus. Jadilah itu pasta gigi!” demikian katanya. Alyn tersenyum membayangkan Yanuar akan percaya dan benar-benar melakukan tips membersihkan gigi ala Teta itu. 

Namun saat ia bertemu lagi dengan Yanuar, ia tak sampai hati menyampaikannya. Bau minyak wangi bercampur keringatnya memang mengganggu. Gigi kuningnya juga sedikit menyeramkan. Tapi Yanuar adalah kawan yang baik sejak hari pertama Alyn masuk sekolah. Ia lalu memperhatikan susunan kursi murid-murid kelas 2 itu. Ternyata hampir semua duduk sesama perempuan atau sesama laki-laki. Hanya Alyn dan Yanuar yang berbeda. Nampaknya inilah alasan paling tepat untuk berpisah dengannya. 

“Yanuar, bagaimana kalau kita berganti tempat duduk. Dalam agama Islam, tak elok anak laki-laki dan anak perempuan duduk berdekatan. Apalagi teman-teman yang lain duduk sesama lelaki dan sesama perempuan. Tak ada yang campur seperti kita,” ujar Alyn dengan suara selunak mungkin. Namun ternyata Yanuar menerima dengan mudah permintaan itu. Ia tidak marah. Dengan sigap ia pindah duduk ke belakang, sebangku dengan Irfandi. 

Kartinah yang memang selalu memperhatikan Alyn sepanjang waktu, dengan sigap berlari ke depan dan duduk di bangku kosong yang ditinggalkan Yanuar. Wajah Kartinah penuh sukacita, seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan impiannya. Ia tersenyum sepanjang hari. Matanya terus melirik tulisan tangan Alyn. Ia berusaha sekuat tenaga meniru garis lurus dan lekuk-lekuk yang dibentuk Alyn di buku tulis. Hasilnya sungguh berbeda. Kartinah meringis melihat tulisan tangannya sendiri. Ia lalu mengiba untuk bisa meminjam dan membawa buku catatan Alyn ke rumah untuk disalin ulang. 

Kartinah sungguh-sungguh bahagia menjadi teman sebangku Alyn. Ia makin semangat pergi ke sekolah. Tak pernah lagi terlambat walau masih malas mengerjakan pekerjaan rumah. Setiap pagi, ia tiba lebih cepat dari biasanya. Ia menunggu Alyn di gerbang sekolah. Ia melambaikan tangannya bersemangat melihat Alyn dari kejauhan. Yang ia lakukan pertama-tama setiap pagi adalah menggeret Alyn ke kantin, memesan semangkuk kacang padi, sebutir ketupat ketan, dan segelas teh manis hangat. 

“Makan bubua kacang padi jo katan,” kata Kartinah. Inilah sarapan pagi khas warung-warung di Sungai Limau yaitu bubur kacang hijau yang dinikmati dengan selembar roti tawar atau ketan kelapa putih. Para petani yang akan ke sawahnya biasanya mampir dulu di warung untuk sarapan kacang hijau dan minum kopi hitam. Sarapan ini hanya ada di warung-warung kecil. Selain itu, tentu saja ada ketupat lontong sayur yang dimakan bersama sala lauak. Sebetulnya mata Alyn tidak bisa lepas dari gorengan bulat berwarna kuning kesukaannya itu. Namun ia tahan, mengingat ia berada di kantin ini berkat traktiran Kartinah sementara ia sendiri tak punya uang jajan sepeser pun. 

Mentraktir Alyn makan di kantin rupanya menjadi kebanggaan tersendiri bagi teman-temannya. Tak hanya Kartinah, ada lima orang lainnya yang siap-siap mentraktir Alyn sarapan pagi, namun selalu kalah sigap dari Kartinah. Walau tak dapat giliran mentraktir, kelima anak ini, Sarinah, Yunita, Mutiara, Upik, dan Andriyati, tetap pergi ke kantin mengerubungi Alyn yang tengah menikmati suapan demi suapan seperti orang kelaparan. Melihat orang kota makan dengan lahap menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak kampung. 

Mereka memang anak nelayan namun mereka tak pernah kelaparan. Mutiara, bahkan ibunya bekerja sebagai buruh cuci baju. Namun ia tak pernah ke sekolah dengan perut kosong. Uang jajan pun selalu ada di sakunya. Ia juga pernah membeli buku tulis hadiah Ibu Rohana. Terselip rasa cemburu dalam hati Alyn melihat kelima teman itu, dan Kartinah, yang memiliki orang tua yang peduli pada persoalan makan anak-anaknya. Alyn tersenyum mendapat traktiran, namun hatinya terluka. Ia dan adik-adiknya tak pernah mendapat kepedulian dan kehangatan itu dari orang-orang dewasa di rumahnya. 

Tentu saja tak semua anak di SMP Negeri 1 Sungai Limau membawa cukup uang jajan untuk sarapan dan makan siang di sekolah. Sebagian besar berasal dari keluarga nelayan yang miskin. Mereka pergi ke sekolah dengan perut lapar dan mengantuk. Akibatnya, sulit berkonsentrasi apalagi memahami apa yang diajarkan ibu dan bapak guru. Dengan kondisi seperti ini, nama-nama ayah mereka bergema di ruang kelas secara bergantian. 

Uang jajan Kartinah sebenarnya tidak banyak. Pas saja untuk dirinya seorang membeli bubur kacang padi dan ketupat ketan. Namun ia rela menyerahkan sarapan nikmat itu untuk Alyn, kawan yang ingin sekali ia jadikan sahabat. Matanya berbinar menyaksikan Alyn menandaskan kacang padi dan meneguk teh hangatnya hingga tetes terakhir. Kartinah selalu menjawab sudah makan nasi goreng di rumah tadi pagi, tiap kali Alyn bertanya mengapa ia tidak ikut sarapan. Kartinah rela perutnya berkicau sepanjang pagi asalkan Alyn, si anak kota nan pintar itu, mau mengajarkannya menulis indah dan meminjamkan catatannya untuk dibawa pulang. 

“Sungguh beruntung awak bisa duduk dekat Alyn,” kata Kartinah suatu pagi. Kartinah adalah bungsu dari lima bersaudara. Keempat kakaknya, laki-laki semua, hanya tamat sekolah rakyat. Mereka sudah bertekad membantu dan melanjutkan perjuangan ayah mereka menjadi nelayan. Hanya Kartinah yang diharapkan sekolah sampai perguruan tinggi. Dari cerita-cerita Kartinah, Alyn bisa menyimpulkan bahwa ia adalah limpapeh rumah gadang atau sosok yang paling dimanja dan dibanggakan keluarganya. 

Setiap jam pulang sekolah, Kartinah tak lelah membujuk Alyn untuk mampir ke rumahnya. “Ayo, mainlah ke rumah awak,” ajaknya dengan wajah penuh harap. Alyn selalu teringat Lely, adiknya yang pasti sudah menunggu kakaknya pulang sekolah. Bila tak ada kerja kelompok atau rencana meminjam buku di perpustakaan sekolah, ia memilih langsung pulang ke rumah. Namun Kartinah pantang menyerah. Ia punya kunci rahasia untuk menarik Alyn jalan-jalan ke rumahnya di Kampung Sungai Sirah, sekitar tujuh kilometer dari Sungai Limau. “Seberang rumahku adalah rumah Nenek Saraik, salah satu istri Angku Zubir!” katanya suatu siang menjelang akhir pelajaran. Alyn tentu tergoda. Ia ingin bertemu Nenek Saraik. Entah untuk apa. Ada naluri detektif yang menggerakkannya berkat membaca buku Lima Sekawan. 

Alyn membayangkan rumah keluarga Kartinah pastilah lebih besar dan lebih bagus daripada rumah Nenek Rakena. Kartinah selalu memakai sepatu dan tas bagus, buku dan alat tulisnya pun selalu baru. Hanya saja ia seringkali tidak membuat tugas sekolah sehingga nama Baditek selalu bergema di ruang kelas. Kartinah sepertinya sudah terbiasa karena itulah yang terjadi sejak ia kelas 1 SMP. Dia tidak malu atau risih lagi nama ayahnya disebut oleh para guru. Malah kelihatannya dia bangga menjadi hiburan teman-temannya. 

Ternyata rumah Kartinah cukup jauh dari sekolah. Alyn merasa kelelahan. Setelah berjalan sekitar satu jam, sampailah mereka di halaman rumah Kartinah di Kampung Sungai Sirah. Rumah panggung itu terbuat dari susunan kayu. Pohon jambu dan pohon mangga memayungi atapnya. Alyn tergoda untuk segera memanjat dan memetik buah-buahan yang bergelantungan seperti rangkaian lampu di pohon Natal. Ia urungkan niatnya. Selain sudah lelah berjalan, saat itu ia melihat kepala menyembul dari pintu. “Masuklah..” ujar perempuan itu dengan senyuman hangat. Untuk mencapai pintunya, mereka perlu memanjat 10 anak tangga dari kayu yang berdecit saat dipijak. 

Mak Zahirah, ibunda Kartinah, menyambut dua anak gadis itu dengan bungah. Baru kali ini Alyn melihat seorang perempuan dewasa berwajah cahaya. Baju kurung usang yang melekat di tubuh kurusnya, urat-urat yang mencuat di kedua belah punggung tangan dan kakinya, tak mampu meredam sinar ketulusan di kulit wajahnya yang terbakar mentari. Alyn terpukau beberapa saat sebelum meraih tangan kanan Mak Zahirah dan menciumnya takzim. 

Mak Zahirah membentangkan tikar anyaman daun pandan ke atas lantai kayu. Dengan sigap ia menyusun piring-piring berisi nasi yang asapnya masih mengepul dan lauk pauk khas Minang yang baru dimasak: ayam goreng rempah, ikan asam padeh, sala lauak, dan telur asin. Aroma bumbu kuning menyeruak. Alyn tak sadar mulutnya terbuka. Ia tak menyangka sajian mewah terhampar di hadapannya seperti doa yang dikabulkan Tuhan secara tiba-tiba. Alyn merasa diperlakukan demikian istimewa, untuk pertama kali dalam hidupnya. Sambil mengunyah pelan-pelan, Alyn memperhatikan sekeliling rumah Kartinah. Tak ada barang berharga yang terpajang, namun ia bisa merasakan kekayaan batin penghuninya. Keluarga yang baik, orang tua yang peduli, tempat tinggal yang nyaman, adalah kekayaan sejati yang tidak ia miliki. 

Selesai makan siang yang nikmat, ia duduk di pojok ruangan. Meja belajar Kartinah penuh kertas berserakan. Isinya, tulisan tangan Kartinah yang menjadi sumber olok-olok di sekolah: ceker ayam yang sungguh sulit dibaca. Rupanya Kartinah rajin berlatih menulis rapi berlembar-lembar. Alyn terharu melihat kegigihan yang diukir di atas kertas-kertas itu. 

Pertemuan mereka ditutup dengan sajian rujak buah dengan bumbu kacang pedas buatan Mak Zahirah. Mangga-mangga dan jambu bergelantungan yang Alyn incar sejak tadi kini tersaji dan siap dinikmati. Kalau tidak ingat adik-adiknya yang menunggu di rumah Nenek Rakena, ia ingin pindah ke rumah Kartinah. 

“Alyn, berteman selamanya dengan Kartinah, ya, Nak,” ucap Mak Zahirah saat Alyn pamit. Suara lembut itu terngiang di telinganya sepanjang perjalanan pulang. Mungkin ia merindukan suara emaknya sendiri nun jauh di Jakarta. Tapi Mak Zuarni tak pernah bicara selembut itu. 

Lihat selengkapnya