Rumah Nenek di Atas Bukit

Dwi Tirtowinoto
Chapter #7

BAB 7 SARANG KUTU JO BAKADA

Selama tinggal di kampung, Alyn belum pernah mencuci rambutnya dengan shampo. Rambut tipis bergelombang itu lama kelamaan terlihat tebal dan membal, bukan karena tumbuh subur melainkan karena kotor, tidak pernah dicuci, dan tidak pernah disisir. Tiap pagi ia hanya menyiram kepala dan tubuhnya dengan air sumur dingin. Kulit kepalanya ia garuk-garuk dengan kuku, terkadang karena gatal, ia terus menggaruk sampai kulit kepalanya iritasi dan terasa perih. Tak ada sabun mandi, tak ada shampo, tak ada sikat dan pasta gigi. Yang ada hanya sabut cuci piring yang ia ambil sedikit-sedikit untuk memandikan adik-adiknya, Umi dan Lely. 

Rambut yang hanya dicuci dengan air dan tak pernah disisir itu lama kelamaan bergelung membentuk bola seperti disasak. Rambut kusut itu ia rapikan dengan jemari lalu kuncir kuat-kuat dengan karet gelang. Makin lama rambutnya makin kusut hingga tak bisa diurai lagi. Uang hasil menjual buku tulisnya selalu habis untuk membeli sala demi adik-adiknya. Ada sedikit rasa sesal, mengapa ia tidak kumpulkan uang sekali-kali untuk membeli sisir dan shampo?

Teman-teman mengira Alyn sengaja menyasak rambutnya agar tinggi seperti model rambut berjambul yang sedang tren saat itu. Alyn malu menjadi pusat perhatian gara-gara jambul kusutnya yang semakin lama semakin menjulang. 

Rambut kusut itu makin lama makin telingsut. Alyn tak berdaya meluruskan atau merapikannya. Beberapa hari kemudian muncul rasa gatal yang sangat hebat di kulit kepalanya. Setiap kali ia garuk, kutu-kutu hitam berjatuhan di baju seragam dan buku tulis. Saat ia diam pun kutu-kutu itu terasa menjalar-jalar di kulit kepalanya, berpindah ke balik telinga, ke pipi! Alyn jijik sekaligus bingung harus berbuat apa: kini rambut kusutnya menjadi sarang bagi kutu-kutu hitam yang tak henti menghisap darah di kepalanya!

“Itu sebab hantu Malapari di hutan belakang, Alyn! Makanya jangan mandi subuh-subuh. Hantu mengincar kepala anak-anak lalu menampar dan membuatnya kusut!” Celok memeriksa gumpalan sasak di atas kepala Alyn sambil bercerita soal mitos hantu Malapari di kampung. Alyn makin kesal. Bukannya memberi solusi, Celok yang sudah dewasa itu malah menakut-nakutinya.

”Celok sih, tidak mau meminjamkan sisir!” kata Alyn dengan suara kesal. Selama ini ia pikir Celok selalu berpihak padanya. Sepiring pisang goreng hampir tiap pagi yang diantarnya untuk Alyn dan adik-adiknya ternyata hanya basa-basi di awal. Beberapa kali setelahnya, ia selalu meminjam baju-baju kemeja Alyn yang bagus-bagus. Baju-baju itu dibeli Mak Zuarni di toko besar di Palembang. Baju yang dipinjam Celok tak pernah dikembalikan. Di mata Alyn, Celok sama saja dengan Nenek Rakena dan Teta. Orang-orang dewasa yang berlaku semena-mena pada anak-anak. 

Di sekolah, Kartinah dan Gusti Aida akhirnya tahu perihal kutu di kepala Alyn. Kartinah, teman sebangkunya, bahkan bisa melihat langsung bagaimana kutu-kutu itu berjatuhan di buku tulis atau menjalar dekat pipi Alyn. Tanpa ragu, Kartinah langsung membuang kutu-kutu itu dengan tangannya. Kartinah tidak merasa jijik. Dia tetap mentraktir Alyn di kantin sekolah. Kartinah, mengajak teman-teman lainnya, beramai-ramai mencari kutu di kepala Alyn. Alyn cuek saja. Toh tak ada temannya yang mengejek. Ia biarkan saja tangan-tangan temannya sibuk memburu kutu di kepalanya. 

Mereka tertawa gembira setiap kali berhasil mendapat kutu, bahkan berlomba siapa yang paling banyak dapat kutu. Alyn sama sekali tidak merasa terusik, malu, atau marah. Ia malah senang membawa sedikit kegembiraan atau keisengan yang menggembirakan bagi teman-temannya. Ia justru bersyukur kutu-kutu itu berkurang dan perutnya tetap kenyang. Walau sesungguhnya, Alyn menangis di dalam hatinya. Di titik itu ia marah besar pada Mak Zuarni dan ayahnya yang membuangnya dan adik-adiknya di rumah Nenek Rakena. Kutu-kutu ini adalah saksi kejahatan orang-orang dewasa itu. 

Lihat selengkapnya