Tak banyak yang mengetahui, bahkan Kartina dan Gusti Aida, apalagi Nenek Rakena dan Teta, bahwa hampir setiap Jumat, Alyn pulang dari sekolah membawa sepotong rendang, kadang-kadang talua balado, ayam goreng, atau ikan bakar. Pernah juga ia pulang membawa sebungkus sate padang.
Semua itu tergantung kesepakatan dengan teman laki-laki yang memintanya untuk membuatkan surat cinta. Bagaimana bisa? Pesanan surat cinta ini hanya terjadi pada hari Jumat, ketika sekolah pulang lebih cepat. Alyn memiliki waktu untuk menulis surat rahasia di kelas, sesuai pesanan!
Suatu ketika, ada lomba menulis surat saat pelajaran Bahasa Indonesia. Pak Zaimar menugaskan murid-murid untuk membuat surat di selembar kertas dengan tema bebas, asalkan jelas ditujukan kepada siapa. Waktunya cukup panjang, yaitu 45 menit, sesuai jam pelajaran. Alyn pun menulis surat kepada teman lamanya, Benget Simbolon, hanya dalam tiga paragraf, sekadar memenuhi syarat tugas.
Dear Benget Simbolon, sahabatku,
Masih terasa dinginnya Sungai Musi. Betapa senangnya aku ketika bisa berlatih renang di pinggir sungai itu dengan ban mobil milikmu. Kau memegang tali panjang yang diikatkan ke ban, membawaku berenang lebih jauh. Kita pun berjalan-jalan bersama di sore hari, belajar menari di Sanggar Tari Melayu. Saat itu, kau masih tergabung dalam kelompok Lenggang Patah Sembilan, sementara aku di Serampang Dua Belas.
Kini, aku merasa begitu sedih, tinggal di kampuang nan jauh di mato, tak bisa lagi menari atau berenang karena terkurung dalam dunia nenek sihir. Nenekku bukan seperti yang terlukis dalam buku cerita yang pernah kita baca bersama. Meski begitu, harapanku tetap menyala, ingin kita bertemu lagi, berenang dan menari bersama.
With love, Alyn
Surat sederhana itu ternyata menjadi yang terbaik di antara karya murid-murid di kelas 2. Alyn mendapatkan hadiah berupa buku cerita, yang tentu saja tidak bisa dijual. Pak Zaimar kemudian menjelaskan mengapa surat karangannya menjadi karya terbaik. Menurutnya, selain tulisannya yang jelas dan tidak terlalu panjang, surat Alyn berhasil membangun kedekatan dengan teman lama. Bukan sekadar basa-basi menanyakan kabar atau berharap agar selalu sehat, seperti yang biasa dilakukan.
“Buatlah surat yang tidak perlu panjang-panjang,” katanya sambil menunjukkan kertas surat teman-teman yang penuh dengan tulisan, dua halaman. “Nah, ini adalah contoh surat cinta yang sopan,” tambah Pak Zaimar sambil menunjukkan kertas surat Alyn. Ia terkejut, karena tak pernah berniat untuk membuat surat cinta. “Wah, Pak, mana mungkin anak SMP membuat surat cinta. Apa itu cinta?” kata Alyn dalam hati. Kata-kata dear dan love dalam surat itu adalah hal yang biasa dalam pelajaran Bahasa Inggris Bu Rohana.
Begitulah, gara-gara memenangkan lomba menulis surat, entah siapa yang memulainya, nama Alyn kini dikenal di sekolah sebagai pembuat surat cinta. Dia mulai dicari-cari oleh teman-teman laki-laki, bahkan oleh kakak kelas yang sudah berada di kelas 3 SMP. Mereka sebenarnya ingin memiliki teman dekat, bukan untuk membuat surat cinta, mengingat mereka masih di bangku SMP. Sejak menjual buku hadiah dari Bu Rohana, pikiran Alyn hanya tertuju pada uang, uang, uang, untuk makan siang adiknya. “Ini adalah peluang untuk mencari uang,” pikir Alyn dalam hati.
Orang pertama yang meminta dibuatkan surat khusus adalah Yanuar. “Tolonglah Alyn, awak ingin labiah dakek dengan Gusti Aida,” katanya sambil berbisik saat jam istirahat di kantin sekolah. Alyn berpikir sejenak, apakah dia bisa melakukannya. Namun, dorongan untuk mendapatkan uang dan kebetulan dia kenal baik dengan Gusti Aida, membuatnya menyatakan siap. Alyn menjelaskan bahwa surat itu hanya bisa dibuat dalam tiga paragraf, hari Jumat, tanpa amplop, dengan tulisan miring, dan harus diserahkan langsung kepada orangnya. Yanuar setuju.
“Bara ongkos,” kataku pada Yanuar. Tentu saja dia terkejut karena tidak menyangka aku akan meminta bayaran. Namun, dia akhirnya setuju: cukup dengan dua potong rendang yang akan dibelinya saat pulang salat Jumat. Ketika kelas mulai kosong karena sebagian anak laki-laki pergi ke masjid untuk salat Jumat, Alyn pun mulai menjalankan tugas sekaligus bisnis barunya yang menyenangkan. Sebelumnya, ada wawancara singkat untuk paragraf pertama. Lalu ia mulai menulis, seperti suratnya yang memenangkan lomba, diawali dengan kata dear dan diakhiri dengan kata love.
Dear Gusti Aida, sahabatku,
Hari Senin adalah hari yang istimewa bagiku karena bisa melihat Ida memimpin upacara bendera di halaman sekolah. Apalagi setiap hari, Ida juga memimpin barisan masuk kelas kita, dengan sigap mencatat nama teman yang terlambat atau tidak masuk.
Aku selalu berusaha menyamai langkahmu, namun baru di pelajaran Bahasa Inggris kita selalu sama-sama mendapatkan nilai 9. Aku masih harus berusaha belajar agar nilai kita selalu sama. Aku ingin sekali bergabung dengan kelompok belajar Ida, supaya bisa dekat denganmu, tapi belum berhasil karena sudah dibentuk oleh guru kita.
Sebenarnya, setiap malam Jumat aku ikut latihan silat di halaman surau di seberang rumah Ida, sambil berharap bisa bertemu denganmu.
Love,
Yanuar
Surat itu ditulis di kertas buku hadiah Bu Rohana. Jadi, cukup istimewa. Warna kertasnya biru muda. Sebelum dilipat rapi, Yanuar membaca isi surat dan tersenyum. Lalu surat itu dilipat model segitiga, siap diserahkan langsung kepada Gusti Aida. Tentu saja, di laci meja sudah ada rendang sebagai ongkos membuat surat rahasia. Senin depan, mereka pulang sekolah berdua, meski rumah mereka berlawanan arah.
Saat menikmati lontong sayur di kantin sekolah, Kartinah membujuk Alyn untuk membuatkan surat spesial. “Buek ciek Alyn, untuk Yanuar,” kata Kartina sambil berbisik. Alyn terkejut. Rupanya, Kartinah sudah lama, bahkan sejak kelas 1 SMP, menyimpan rasa pada Yanuar. Alyn hanya mengangguk tanpa komentar. Bagaimana mungkin? Adik-adiknya di rumah sudah menikmati rendang dari Yanuar. Gusti Aida dan Yanuar sudah seiring sejalan berdua. Tapi ini permintaan Kartinah, sahabatnya dalam suka dan duka. Alyn terus berusaha mengalihkan pembicaraan ketika Kartinah mendesak untuk membuatkannya surat. Ia serba salah. Ia tidak mungkin membuka rahasia Yanuar yang lebih dulu memesan surat spesial untuk Gusti Aida.
Suatu kali, Faisal, kakak kelas yang membayar dengan dua potong ayam goreng, menemuinya. Surat cinta buatan Alyn tidak berhasil. Dian Putri, teman sekelasnya, tidak pernah mau membaca surat Faisal. Belakangan, barulah diketahui bahwa Dian Putri menaruh hati pada guru muda di sekolah itu: Pak Rizal, guru Ilmu Ukur. Dian mengaku jatuh cinta pada guru itu, namun akhirnya tersadar bahwa Pak Guru sudah memiliki hati yang lain.
“Cari gantinyo, kak, tak usah pakai ongkos lagi,” kata Alyn pada Faisal. Lalu dia dikenalkan dengan Kartinah yang sedang duduk di sebelahnya. Faisal hanya tersenyum. Alyn merasa semakin mahir menjadi mak comblang. “Alyn ini mak comblang tiga paragraf,” kata Kartinah pada Faisal yang menyukai selera humor teman sebangku Alyn itu. Dua minggu kemudian, Faisal datang lagi padanya dan meminta dibuatkan surat untuk Kartinah. Tentu saja, Kartinah langsung menolaknya karena ada Yanuar yang telah mengisi hatinya.