Rumah Nenek di Atas Bukit

Dwi Tirtowinoto
Chapter #9

BAB 9 LANGKITANG DAN DRAMA BERKEPANJANGAN

Teta sudah mendengar dari temannya sesama guru di sekolah rakyat tentang Alyn yang disayang oleh guru-guru SMP Sungai Limau dan memiliki banyak teman. Kini, dia pun tahu dari mana Alyn mendapatkan uang untuk membeli berbagai lauk untuk adik-adiknya. Tentu saja, kemarahan Teta meluap, sehingga Alyn dibebani dengan banyak tugas di rumah itu, bertubi-tubi. Padahal, Alyn selalu menyisihkan lauk untuk nenek dan Teta.

Setelah makan siang, selain menggiling cabai dua kali pada sore hari, Alyn juga harus mencuci baju anak-anak Teta. Tanpa sabun, baju-baju itu dicuci berkali-kali dengan sikat besar dan air sumur berember-ember. Suatu siang, Teta menyuruhnya mencari langkitang, yang akan dimasak dengan kuah sate padang. Alyn mulai berani melawan, menolak karena tidak tahu langkitang.

“Jangan melawan! Nanti sama Celok, carilah langkitang di muaro,” kata Teta dengan suara keras. Alyn hanya diam lalu pergi ke gudang untuk tidur siang bersama adiknya. Menjelang petang, Celok datang dan mengajak Alyn ke muaro untuk menangkap langkitang. Muaro adalah muara, bagian hilir sungai yang berhubungan langsung dengan laut, tak jauh dari seberang rumah nenek Rakena. Dengan membawa ember, Alyn pergi bersama Celok untuk menangkap langkitang. Alyn hanya diam, karena kepalanya agak pusing saat itu.

“Itu muaro, ado langkitang yang menempel di batu,” kata Celok sambil berdiri di pinggir muara. Dia sendiri tidak ikut mencari langkitang. Ternyata, langkitang itu sangat banyak dan menempel di batu besar. Langkitang mirip keong atau siput berwarna hitam. Setelah dimasak, mulut langkitang itu terbuka dan daging isinya bisa dihirup.

Alyn merasa jijik melihatnya, apalagi menangkapnya. Setelah sekali mencoba, dia senang juga karena langkitang itu gampang sekali ditangkap. Selain itu, dia merasa lega karena air muaro itu hanya sebatas lutut, dan batu besar yang diinjak sangat dingin menyejukkan. Dia teringat Sungai Musi. Setelah beberapa waktu, dia berhasil mendapatkan seember langkitang. Ember penuh langkitang itu tentu saja sangat berat ketika dibawa pulang, sementara Celok hanya melenggang dan membiarkan Alyn sendiri.

“Celok jo Teta samo jahek,” kata Alyn dengan suara agak keras sambil menangis. Celok diam saja.

Sesampainya di rumah nenek Rakena, Alyn baru saja meletakkan ember penuh langkitang dekat sumur. Lelahnya belum hilang ketika ia mendengar Teta berteriak, “Haaaa, langsuang giliang lado,”. Setengah piring cabe merah diserahkannya pada Alyn untuk digiling dan dimasukkan dalam bumbu gulai sate padang. Alyn benar-benar tak berdaya untuk sekadar menjawab. Dia langsung duduk di bangku kecil di lantai untuk menggiling cabai. Cabainya banyak sekali, harus dua kali gilingan. Namun, dia paksakan dalam satu kali gilingan saja. Tentu saja cabainya berhamburan,  tumpah-tumpah. Ia terpaksa memungut lagi cabai-cabai itu dengan tangan.

Entah dari mana idenya, namun sungguh dia tidak berniat jahat. Agar cepat halus, dia tambahkan garam yang banyak. Dia merasa mendapat inspirasi baru untuk menggiling cabai agar lebih cepat halus dan memudahkan kerjanya. Setiap sebentar, dia tambahkan garam. Hasilnya, cabai menjadi sangat halus. Celok yang sedang membersihkan langkitang, tak melihat itu. Alyn bersyukur tidak disuruh membersihkan langkitang yang menjijikkan itu. 

Selesai menggiling cabai, dengan tangan panas dan melepuh bekas gilingan, Alyn langsung masuk ke gudang. Adiknya sudah makan dan langsung tidur. Ketika mulai terlelap, dia mendengar suara Teta marah-marah. 

“Ka balaki kau!” teriaknya. Alyn tidak mau keluar. Ia melanjutkan tidur. Pagi-pagi, Celok sudah datang, tetap membawa pisang goreng karena, seperti biasa, mau meminjam baju Alyn. Lalu dia menceritakan drama semalam di mana Teta marah-marah akibat kuah gulai sate padang sangat asin. Ini gara-gara cabai yang digiling Alyn sangat asin sekali. Alyun teringat idenya memasukkan garam yang banyak agar cabai cepat halus.

Akhirnya, menurut Celok, gulai sate padang langkitang dibuat encer untuk mengurangi rasa asin. Teta marah sekali, meski tetap makan langkitang, tetapi tidak jadi makan gulai sate yang enak. Kata-kata ka balaki kau dalam bahasa Minang adalah bentuk kemarahan pada anak gadis yang selalu membuat masakan yang asin, yang menurut kepercayaan di kampung dapat diartikan sebagai sikap sudah kebelet atau sangat ingin sekali menikah.

Alyn menceritakan itu semua pada Nurjaman saat mereka bertemu sepulang sekolah. “Beberapa menit lagi, Alyn pasti dimakan buaya,” kata Nurjaman dengan cemas setelah Alyn menceritakan pengalaman menangkap langkitang di muara menjelang Magrib. “Langkitang itu bukan menempel di batu, tapi di kulit buaya yang sedang tidur, dan batu yang diinjak sebenarnya adalah badan buaya, bukan batu besar,” kata Nurjaman masih dengan nada cemas. “Muaro itu adalah rumah buaya, tempat bertemunya air sungai dan laut yang sangat disukai buaya,” tambahnya. Kampiun SMP ini memang pintar. Alyn kaget setengah mati, langsung meringis ketakutan, badannya terasa lunglai mau pingsan, dan tanpa terasa ia merasa tubuhnya melayang. Nurjaman memapahnya untuk minum teh manis panas di kedai, tak jauh dari rumah Nenek Rakena.

“Sabar ya, Dik,” kata Nurjaman sambil memegang erat tangan Alyn. Alyn merasa mendapatkan pelindung yang baik hati. Dalam tas sekolahnya, sebenarnya ada plastik sala lauak, karena hari Kamis adalah hari yang ditunggu-tunggu adiknya untuk makan siang dengan sala, namun kakaknya pulang sudah agak sore. Eri dan Umi melihat kakaknya pucat dan langsung memapahnya ke dipan. Sala itu dimakan begitu saja tanpa nasi.

Setelah kejadian langkitang yang membuatnya hampir mati, Alyn merasa semakin berat tinggal di rumah Nenek Rakena.

Hari demi hari tinggal di rumah nenek terasa semakin mencekam, terutama pada hari Minggu. Biasanya, Minggu merupakan hari yang sangat menggembirakan, apalagi  ketika dia masih tinggal di Palembang. Tentu saja ketika dia belum tahu ayahnya seorang pemarah. Sebelumnya, ayahnya selalu mengajak anak-anaknya ke restoran besar yang penuh dengan sajian pempek istimewa. Alyn bisa menghabiskan lima porsi berbagai macam pempek, mulai dari pempek selam, pempek lenjer, pempek bakar, pempek telur, atau pempek keriting, ditambah lagi sebungkus pempek yang bisa dibawa pulang untuk makan malam. Namun, itu adalah kenangan sebelum ia beranjak remaja dan dipanggil tengak oleh ayahnya.

Sekarang, setiap Minggu di rumah nenek adalah daftar tugas rodi yang berkepanjangan. Alyn harus mencuci baju adik-adiknya dan kadang-kadang ditambah baju anak Teta, hanya dengan air sumur. Tidak ada sabun untuk mencuci baju, kecuali sikat hitam yang sangat besar. Sungguh tidak berdaya, karena tangannya juga masih kecil untuk memegang sikat hitam yang besar. Saat mencuci itu, nenek dan Teta juga melempar baju kotor mereka. “Iko ciek,” kata mereka sambil melempar baju kotornya. Seringkali pula baju itu hampir mengenai muka Alyn. Rupanya mereka juga tidak perlu sabun cuci. Mereka juga tidak tahu, kalau bajunya tidak disikat, tetapi langsung dibilas dengan air sumur.

Lihat selengkapnya