Rumah Nenek di Atas Bukit

Dwi Tirtowinoto
Chapter #10

BAB 10 LAPEK KOCI JO RANDANG JARIANG

Suatu kali, pada Sabtu siang, ketika nenek Rakena dan Teta akan pergi ke rumah mertua Teta, nenek langsung memberi perintah kepada Alyn agar nanti sore memasak nasi. Alyn terkejut dan benar-benar ketakutan. Selama ini, dia tidak pernah memasak nasi di atas tungku dengan kayu bakar.

Tugasnya adalah menggiling cabai, mencuci piring, mencuci baju, dan menyalakan lampu minyak tanah. Hari Sabtu, Alyn memang melihat Teta dan nenek sibuk membuat kue. Namun, Alyn pun tidak peduli, karena sudah tahu persis bahwa dia tidak akan dibagi.

Mereka membawa dua bakul besar berisi lapek pisang dan lapek koci. Lapek pisang adalah kue lepat dari tepung beras yang di tengahnya ada pisang. Alyn sering menikmati lapek pisang ini yang ditraktir Farida di kantin sekolah. Sedangkan lapek koci, dia hanya mendengar ceritanya saja. Lapek koci adalah kue lepat dari tepung ketan yang bentuknya segitiga piramid dengan bulatan tepung kacang hijau di tengahnya. Kue ini istimewa karena biasanya hanya dibuat oleh anak menantu jika mau menemui ibu mertua sebagai tanda hormat. Itu adalah kue istimewa yang tidak pernah dijual di warung atau toko kue.

Kedua bakul itu diletakkan di atas pagu, dekat langit-langit rumah, bukan di meja makan. Tidak akan ada yang bisa mencurinya. “Rupanya mereka sudah curiga nanti aku akan mencuri kue itu,” kata Alyn dalam hati. Memang iya, karena anak perempuan ini penasaran untuk mencicipi lapek koci. Namun, niat ini tidak pernah tercapai karena dia tidak pernah berhasil mencurinya.

Jam dinding berjalan cepat, dan sore hari yang ditakutkan akhirnya menjadi drama yang memilukan hati. Nasi yang dimasak hanya setengah tanak. Bagian atasnya masih mentah. Alyn tidak pernah tahu takaran air dan beras yang akan dimasak. Dia juga tidak pernah berurusan dengan tungku dan kayu bakar, sehingga api untuk memasak nasi pun menjadi tidak jelas. Kadang hidup, kadang mati. Alyn harus meniupnya sampai matanya pedih. Dalam hatinya, ia berharap ada Celok yang akan datang membantu, tetapi dia tidak kunjung datang. 

Alyn kebingungan sendiri karena nasi yang dimasak itu masih mentah di lapisan atasnya. Beruntung sore itu ada si Kenek, adik Celok, yang bermain ke rumah. Tidak ada sambalado atau ikan untuk menyuruh si Kenek makan nasi mentah, kecuali ikan nenek yang tersimpan dalam lemari pakaian. Dengan tekad bulat, ikan itu diberikannya untuk si Kenek agar dia mau menghabiskan nasi mentah. Nasi itu habis dan ikan sepiring juga habis. Ia lega, tetapi muncul ketakutan baru dengan habisnya ikan nenek.

Drama berikutnya betul-betul drama senja yang menakutkan. Nenek ingin makan malam dengan ikan yang disimpannya di lemari. Namun, ikan itu lenyap. Ia lalu menuduh Alyn yang telah menghabiskannya. Alyn belum pernah melihat seorang perempuan tua marah-marah dengan suara melengking tinggi. Dia pun bersiap-siap. Jika nenek memukul, akan ia lawan dengan batu koral hitam, sekaligus sebagai balasan bagi nenek yang telah mencubiti adik-adiknya setiap pagi.

Lihat selengkapnya