Rumah Nenek di Atas Bukit

Dwi Tirtowinoto
Chapter #12

BAB 12 NURJAMAN, LAUTKU, CINTAKU!

Suatu Jumat, saat pulang sekolah, seperti biasa Alyn dan Nurjaman berjalan-jalan di pinggir pantai dan duduk di bangku panjang. Itu adalah pantai Air Manis, pinggiran Samudra Hindia yang membentang sepanjang provinsi Sumatera Barat. Bangku itu sebenarnya adalah batang pohon kelapa yang sudah kering. Sebelum makan atau ngobrol, Nurjaman biasanya duduk sejenak sambil memandang laut jauh ke depan. Ia sangat menikmati bunyi debur ombak yang terus menghempas tanpa henti.

Siang itu, tiba-tiba Nurjaman berdiri, lalu tangannya membentang sambil berteriak, “Lautku, cintaku!” “Dengar Alyn, bunyi ombak berdebur tak berhenti, terus menghempas ke pinggir, lalu lanjut debur berikutnya,” katanya sambil menarik tangan Alyn agar ikut berdiri di sebelahnya. “Luar biasa. Inilah cintaku, lautku,” ujar Nurjaman sambil menengadahkan tangannya, tanda syukur pada ciptaan Allah.

Bunyi deru ombak sangat menyenangkan hatinya. Rumahnya tidak jauh dari pantai, membuat Nurjaman benar-benar cinta laut. Dia bisa tidur nyenyak setelah menikmati bunyi debur ombak yang biasanya terdengar lebih keras pada malam hari. Sejak kecil, hampir setiap hari dia akan bermain pasir atau berlari-larian dengan anak-anak nelayan di pantai pinggir laut.

Dia juga punya koleksi keong laut yang sangat indah. Ayahnya, Pak Zaimar, secara khusus membelikannya rak lemari terbuka untuk memamerkan keong-keong temuannya sejak kecil. “Koleksi keong itu juga bukti cintaku pada lautku,” tambah Nurjaman ketika menceritakan betapa besar cintanya pada laut. Keong-keong itu setiap saat disusun berulang-ulang berpindah tempat dan selalu dibersihkan. Dia seperti bermain catur sendirian dengan memindah-mindahkan posisi keong. Tidak pernah diberikannya pada orang lain.

“Suatu hari nanti, kito jalan-jalan ka Japan yo. Jepang adalah negara yang cinta laut dan makan ikan laut setiap hari sehingga bisa menjadi negara hebat,” katanya bersemangat. Sejak kelas 1 SMP, dia terus mendesak izin ayahnya agar boleh melaut mencari ikan. Untuk cita-citanya melaut, ia sudah berteman akrab dengan Fachrudin, teman sekelasnya, anak nelayan yang juga tetangganya.

“Awak lah bajanji jo Fachrudin pai malauik kalau sudah lulus SMP,” ujar Nurjaman kepada Alyn sambil mengajak makan. Meski masih kelas 3 SMP, Nurjaman sudah terlihat lebih dewasa. Dia terlihat lebih tinggi dan atletis dibanding temannya sebaya. Sudah seperti anak SMA. Maklum, dia adalah atlet voli dan pencak silat. Anak kepala sekolah ini sering memanggil Alyn dengan nama Indira. Bukan hanya sebagai anak kepala sekolah, Nurjaman cukup disegani, karena dia adalah kampiun yang selalu mewakili sekolah dalam berbagai lomba di Padang. Dia juga selalu juara kelas serta jadi komandan upacara bendera, bergantian dengan Gusti Aida.

Nah, sekarang cerita Nurjaman bertambah seru, karena selalu bersama Alyn setiap pulang sekolah. Bagi Alyn, Nurjaman adalah sahabat dekat. Kata Bu Rohana ketika Alyn dan teman-temannya saling curhat di rumahnya, pertemanan dengan Nurjaman itu disebut best friends. “Teman sehati, Nurjaman bisa merasakan hati Alyn, dan sebaliknya,” tambah Bu Rohana.

Nurjaman adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Namun, adik-adiknya yang semuanya perempuan masih di sekolah rakyat dan tinggal bersama ibunya di Bukittinggi. Dia tinggal bersama ayahnya dan tantenya yang juga jadi guru di sekolah rakyat. Setiap Sabtu siang, Nurjaman naik bus kota ke Bukittinggi sendirian. Pulang ke Sungai Limau Senin pagi-pagi sekali, langsung berlari masuk barisan paling belakang saat upacara bendera di halaman sekolah.

Suatu hari, Nurjaman bercerita, ia juga punya drama keluarga yang dipendamnya sendiri. “Bukan hanya Alyn yang susah karena ulah neneknya,” katanya sedih. Oleh sebab itu, katanya lagi, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan belajar, membaca buku cerita, bermain di pinggir pantai, bermain voli, dan silat. Namun, seperti yang selalu dinasihatkannya, kita harus tetap tampil ceria, suka bergurau dengan teman lain, meski ada luka dalam hati.

“Dan saya punya teman Indira,” katanya tersenyum. Ibunya, Bunda Zuraida, asal Bukittinggi, sibuk dengan pekerjaannya sehari-hari sebagai penjahit bordir di Bukittinggi. Ia menjahit bordir untuk kebaya, mukena, atau blus perempuan di perusahaan konveksinya sendiri.

“Bunda sudah tidak mau ke Sungai Limau sejak ayah punya istri lagi,” kata Nurjaman pelan. Alyn terkejut mendengarnya. Keadaan ini sudah berlangsung sejak ia kelas 5 sekolah rakyat. “Kenapa ya laki-laki suka punya istri lebih dari satu? Angku Zubir juga punya istri banyak,” ia membatin. “Di berbagai desa di Pariaman, ada saja perempuan yang mau dijadikan istri kesekian,” kata Celok beberapa waktu lalu.

Nurjaman tidak bisa menjelaskannya karena masih kecil, namun dia tahu banyak laki-laki di Pariaman ini punya istri lebih dari satu. Ayahnya yang kepala sekolah itu asal Pariaman juga tergoda punya istri kedua, sehingga Bunda Zuraida memilih pergi. Nurjaman bolak-balik Sungai Limau-Bukittinggi. Namun, kata Nurjaman, walaupun masih kecil, ia banyak belajar tentang laki-laki yang punya istri banyak akan menghancurkan keluarga sendiri. Sekurang-kurangnya, anak-anak mereka akan kebingungan.

Lihat selengkapnya