Tak terasa, hari kelulusan kelas 3 SMP Sungai Limau yang ditunggu sudah tiba. Sebuah papan tulis besar di depan sekolah menjadi rebutan murid kelas 1 dan 2 untuk melihat nama-nama kakak kelas yang lulus. SMP Sungai Limau tahun ini lulus 100%.
Alyn pun sambil setengah berlari, ingin melihat pengumuman. Seperti perkiraannya, tanpa susah payah mencari, ia melihat nama Nurjaman di urutan paling atas. Ia mendapat nilai ujian tertinggi. Alyn memandang sekeliling, ternyata sang lulusan terbaik belum datang. Alyn langsung masuk kelas sesaat bel tanda masuk berdering. Namun, dari balik jendela kelas yang besar, dia bisa melihat kakak-kakak kelasnya mengerubungi papan pengumuman.
Nurjaman baru datang setelah agak siang. Terlihat dia langsung menuju papan pengumuman, dan mendekap kedua tangannya sebagai tanda syukur. Alyn tidak tahan dan segera minta izin pada Pak Achirudin, guru menggambar, untuk keluar sebentar. Lalu ia langsung berlari ke dekat papan pengumuman dan menarik tangan Nurjaman. “Selamat ya, Kak,” katanya. Nurjaman kaget, langsung menjawab, “Alhamdulillah, Dik,” Alyn pun segera kembali ke kelas. Nurjaman dan teman-teman sekelas langsung syukuran di warung depan sekolah.
Ketika jam pulang sekolah, tidak terlihat Nurjaman di depan pintu kelas. Namun, baru beberapa langkah berjalan bersama Kartinah, tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya dari belakang. Ternyata Nurjaman, yang baru saja bertemu ayahnya di ruang guru. “Kita makan sate di warung, ya,” katanya sambil mengajak Kartinah juga. Nurjaman suka sekali makan sate padang. Kami makan bertiga. Seperti biasa, setiap kali makan, Nurjaman akan menyisihkan makanannya, apa pun itu, dua tiga sendok ke piring Alyn. Ini sudah dilakukannya sejak awal mereka bersama. Kartinah melihatnya dan terus saja menatap Nurjaman. Lalu, sempat-sempatnya berbisik pelan ketika Nurjaman izin ke toilet.
“Lyn, Nurjaman lebih gagah dibanding Yanuar,” kata Kartinah. “Hahaha, ka buek surek ciek,” kata Alyn sambil menawarkan ongkosnya cukup 10 butir sala. Alyn sedih juga mendengar jawabannya, karena katanya tidak mungkin Alyn akan membuatkan surat untuk Nurjaman.
“Untuk Yanuar saja, ndak jadi-jadi sureknyo. Apalagi untuk Nurjaman, tentu berang si Indira,” katanya lagi, yang tentu saja sedikit banyak dia juga tahu hubungan pertemanan Alyn dengan Nurjaman. Sambil makan sate, Nurjaman mengeluarkan kotak pensil dari tas sekolahnya. “Ini untuk Alyn, buat ujian nanti,” katanya. Itu adalah kotak pensil yang sudah dipakainya sejak kelas 1 SMP, tetapi masih bagus sekali, kokoh kuat, dengan gambar Jam Gadang Bukittinggi. Ia juga memberi sekantong buku-buku kelas 3 sebagai persiapan ujian nanti.
Selesai makan, Nurjaman memesan satu bungkus sate lagi untuk dibawa pulang. Ketika dia akan membayar, kasirnya mengatakan sudah dibayar semuanya. Kami bertiga tentu heran, tetapi ketika akan pulang, terlihat Bu Rohana dan Uda Buyung baru keluar dari warung sate.
Kami bertiga langsung berlari mengejarnya. “Terima kasih Bu, terima kasih Uda!” kata kami bergantian sambil bersalaman. Keduanya tersenyum, dan Bu Rohana langsung mengucapkan selamat atas kelulusan Nurjaman. “Saya kebetulan masuk tim koreksi ujian mata pelajaran Bahasa Inggris, Nurjaman dapat 10, masih mau hadiah buku tuliskah?” kata Bu Rohana sambil matanya berbinar terharu.
“Tentu saja mau, Bu. Selama ini dapat 9 taruih,” jawab Nurjaman sambil menambahkan bahwa dia akan ke rumah Bu Rohana nanti bersama Alyn. Bu Rohana tersenyum. Uda Buyung juga tersenyum. Dia juga sudah kenal ketika mengobati korengan Alyn saat diantar Nurjaman ke balai klinik.
Kami pulang. Kartina berbelok ke arah rumahnya dan Nurjaman, seperti biasa, mengantar Alyn ke rumah nenek Rakena. Selama di jalan, mereka lebih banyak diam, sudah terasa seolah-olah mungkin tidak bisa bersama lagi. Nurjaman akan masuk SMA di Bukittinggi.
“Nanti sore awak langsuang ke Bukittinggi ya, mau kasih tahu lulus sama Bundo,” kata Nurjaman sambil menyerahkan sebungkus sate untuk Lely. Alyn mengangguk. Sudah terasa betapa sedihnya akan ditinggal Nurjaman.
“Jangan sedih Alyn, setiap liburan sekolah nanti, awak ke Sungai Limau,” katanya ketika melihat wajah Alyn seperti mau menangis. “Janji ya kak.” Alyn memang menangis, karena selama ini Nurjaman lah, sahabat tempat dia mengadu semua kesusahan dan penderitaannya. Dia sempat duduk sebentar di beranda yang kini terasa sejuk.