Liburan kenaikan kelas masih beberapa hari lagi. Seperti biasa, Alyn sudah mandi pagi-pagi sekali dan sekarang sudah bisa shalat Subuh. Dia punya mukena cantik. Selesai shalat, ia mengaji sambil menunggu Umi dan Lely bangun. Tentu saja masih ada drama nenek mencubit cucunya, tetapi pagi ini Umi dan Lely tidak menangis lagi. Resep Nurjaman betul juga, sehingga drama cubitan hanya sebentar. Ketika mereka berdua mandi di ember besar, paha, kaki, dan tangan Ium Lely tetap saja ada bekas cubitan warna merah dan biru. Bukan main tajamnya cubitan nenek ini.
Alyn lalu mengajak adik-adiknya jalan-jalan ke pinggir laut sambil melihat kehidupan nelayan. Lely kecil gembira sekali, berlari-lari dan mengorek pasir sambil mencari keong. Tidak lama kemudian, ada ibu-ibu penjual talua katuang atau telur penyu yang masih panas. Telur penyu itu bentuknya bulat sebesar bola pingpong, tetapi kulitnya sangat lembek.
“Bara ciek,” tanya Alyn sambil memilih telur itu. “Bali sapuluah,” tambahnya sambil melihat isi dompet. Dompet itu kecil berbordir buatan ibunda Nurjaman sebagai hadiah ulang tahun Alyn. Dia sendiri sebenarnya belum pernah beli telur penyu itu. Ibu penjual mengajarkan cara makan telur penyu. Hanya dengan menggigit kulitnya sedikit lalu isap isinya. Kulitnya terasa asin sekali, tetapi isinya sama sekali tidak asin. “Wow, enak ya!” ujar Alyn yang ditimpali anggukan adik-adiknya.
“Besok pagi beli lagi ya, Kak,” kata Lely. Pedagang telur ini hanya ada pagi-pagi sekali. Pantaslah, ketika siang, saat di pantai bersama Nurjaman, memang tidak tampak ibu penjual telur penyu ini.
Bersama adik-adiknya, Alyn lalu mendekati perahu nelayan yang baru saja selesai melaut. Mereka memilih-milih ikan yang akan dijual. Teringat Nurjaman yang sangat antusias pada keluarga nelayan. “Awak akan tetap pergi melaut setelah lulus,” katanya beberapa waktu lalu. Dia sudah berjanji pada Fachrudin, teman sekelasnya, yang ayahnya nelayan. Ketika jalan-jalan di pantai, ada beberapa teman kakak kelas yang sedang membantu ayahnya. Mereka lalu mendekati Alyn sambil menanyakan kabar Nurjaman. Alyn duduk di bangku panjang tempat dia dan Nurjaman selalu menghabiskan waktu berdua di pinggir pantai.
“Yuk kita ke sekolah kakak sambil makan kacang hijau di warung,” kata Alyn pada adiknya yang kelihatannya mulai bosan main pasir. Setelah itu, mereka jalan-jalan ke pasar untuk mencari bola bekel baru. Bola bekel lama yang dibelikan Nurjaman sudah dibuang anak Teta ke dalam sumur. Sebelum pulang, mereka sempat beli lima potong rendang untuk makan siang.
“Kamaaa malala pagi-pagi,” sambut nenek begitu mereka sampai di rumah. Seperti biasa, Alyn dan adiknya diam saja. Tapi baju Umi dan Lely kelihatan kotor bekas pasir laut. Nenek melihat Umi membawa bungkusan plastik berisi rendang dan dua telur penyu. Nenek tambah marah lagi.
“Dari ma ko dapek randang jo talua katuang,” tambah nenek lebih meradang.
“Awak bali, nek,” jelas Alyn tenang. Ia lalu menata rendang ke piring kecil dan menyisihkan satu potong untuk nenek dan langsung menyerahkannya.
“Ooo.. lah banyak pitih kau,” tambah nenek yang terus saja penasaran bagaimana Alyn bisa membeli makanan enak. “Yang penting halal, nek,” jawabnya tenang. Alyn ke dapur dan sudah ada empat piring nasi putih setinggi gunung dan sambalado secuil. Alyn lalu mengambilnya secukupnya dan menyisihkan cabai mentah ke piring lain. Mereka dengan sadar sudah tidak mau lagi makan dekat kandang ayam yang kotor. Keseruan melempar nasi ke kandang ayam juga sudah tidak ada lagi.
Masih ada liburan tiga hari lagi. Umi dan Lely masih ingin main ke pantai mengumpulkan keong. “Pagi-pagi, awak makan talua katuang ya, Kak,” ujar Lely. Alyn tersenyum. Ia senang bisa menyenangkan adiknya. Selama liburan, mereka masih main di pinggir laut, bertemu tak sengaja dengan teman-teman sekelas juga. Tentu saja makan telur penyu dulu. Lalu, berempat mereka ke pasar, membeli nasi bungkus dengan talua balado dan pical. Lalu dibawa pulang. Masing-masing membawa satu bungkus untuk sendiri. Makan di beranda yang bersih dan sejuk. Lagi-lagi nenek melihat kejadian itu dengan heran, tetapi tetap menaruh curiga bagaimana Alyn bisa punya uang.