Duduk di kelas 3 SMP, bekas bangku Nurjaman, membuat suasana hatinya agak berbeda. Alyn tentu saja senang bisa naik kelas 3, yang berarti tak lama lagi akan meninggalkan rumah nenek. Tapi, dia juga risau, karena sebentar lagi akan ke Jakarta dan berarti meninggalkan sahabat terbaiknya, Nurjaman. Lebih risau lagi nanti ketemu ayahnya yang labiah pamberang dibanding nenek Rakena.
Rasanya dia ingin bertekad bulat melanjutkan sekolah nanti ke Bukittinggi saja. Tapi hati kecilnya sudah mengatakan tidak mungkin karena ayahnya pastilah tidak mengizinkan. Namun, di sisi lain, dia juga sudah siap menghadapi ujian akhir nasional nanti, berkat buku-buku lengkap dari Nurjaman. Semua buku itu penuh coretan catatan, bahkan semua soal sudah dijawab. Kartina dan kawan-kawan termasuk Gusti Aida dan Yanuar tahu kalau Alyn sudah punya buku bekas Nurjaman. Maka, setiap kali ada tugas, mereka dengan santai meminjam buku itu.
Nurjaman hanya tertawa ketika diceritakan buku-bukunya dipinjam bergilir oleh teman-teman, apalagi kalau ada tugas. Hampir setiap dua minggu sekali Nurjaman masih sempat ke Sungai Limau. Memakai celana panjang, dia kelihatan semakin dewasa meski baru kelas 1 SMA. Berangkat subuh, setiap Sabtu, dia selalu langsung ke sekolah setibanya di Sungai Limau. Tentu saja Alyn sudah bisa melihatnya, karena posisi kelas 3 tidak jauh dari pintu gerbang sekolah. Ia akan pergi lagi ke Bukittinggi Sabtu sore pukul empat. Mereka hanya punya waktu beberapa jam saja.
Biasanya, dia masih sempat membeli sate padang atau nasi bungkus sebelum jalan berdua ke pantai lalu duduk-duduk di bangku panjang sambil ngobrol. “Awak sanang bana di sekolah baru ini, pelajaran baru dan guru-gurunya santiang bana,” kata Nurjaman. Sekarang, tema ngobrol sudah berbeda. Nurjaman lebih banyak bercerita tentang pelajarannya dan harapan-harapannya.
Ketika jam menunjukkan pukul empat, giliran Alyn mengantar Nurjaman ke terminal untuk naik bus ke Bukittinggi. Nurjaman naik bus persis ketika sopir bus naik ke dalamnya. Dari balik kaca, dia melambaikan tangannya, dan Alyn hanya bisa memandangnya dengan sedih. Hari-hari berikutnya, Alyn berusaha keras menghilangkan bayangan Nurjaman dengan cara belajar sampai tengah malam, hingga minyak lampu habis dan rumah menjadi gelap. Risikonya, dia tidak bisa mandi pagi-pagi seperti biasa. Pohon Malapari yang tinggi besar tumbuh persis di belakang tembok dapur. Daunnya terus melambai bergoyang dengan desir angin yang menakutkan. Alyn masih saja merinding kalau ambil air sumur.
Sementara itu, Kartinah terus berusaha mengajak Alyn menginap di rumahnya untuk belajar bersama. Gusti Aida juga terus membujuk Alyn belajar bersama di rumahnya. Apalagi Alyn sudah punya buku-buku bekas Nurjaman. “Ndak bisa Kartinah, ndak bisa Gusti Aida, awak harus menjago adiak-adiak,” kata Alyn ketika mereka bertiga makan bubur kacang hijau di warung.
Di kelas 3 ini, mereka duduk di bangku berdekatan. Jadi mudah belajar bersama. Guru-guru di kelas 3 ini juga sudah tidak marah-marah lagi. Saat kelas 3 ini, sudah tidak terdengar lagi bentakan atau panggilan nama seorang ayah. Tak terdengar lagi panggilan Baditek. Teman-teman rajin mengerjakan PR atau tugasnya berkat buku bekas Nurjaman yang bisa dipinjam bergiliran. Mereka juga jarang ke kantin atau warung depan sekolah. Jam istirahat bahkan dipakai untuk berlatih soal.
Guru Bahasa Inggris di kelas 3 masih Bu Rohana, dan tentu saja masih ada hadiah buku cantik buat mereka yang ulangan atau tugasnya dapat nilai 10. Di kelas 3, nilai ulangan bahasa Inggris 10 masih menjadi milik Alyn. Adik-adik kelas 1 dan 2 selalu beli buku hadiah Bu Rohana. “Awak lah satangah mati baraja bahasa Inggris, tapi alun jo bisa dapek 10,” kata Yanuar. Tabungan Alyn tentu saja bertambah karena hanya dipakai sedikit beli sala, rendang, atau ayam goreng untuk makan siang adiknya. Alyn tetap saja melebihkan beli lauk untuk nenek dan Teta, seberapa pun berangnya mereka kepadanya.
Hari Minggu pagi tak jarang Alyn membentangkan tikar di beranda, lalu sengaja mengajak nenek dan Teta makan nasi bungkus padang bersama adik-adiknya. Kelihatannya wajah nenek terenyuh saat makan bersama. Alyn pun bahagia bisa makan bersama.
Saat berjalan-jalan ke pasar bersama adik-adiknya, Alyn membeli sapu ijuk. Sejak itulah, dia dengan sigap setiap pagi menyapu beranda dan semua lantai rumah sebelum berangkat ke sekolah. Nenek terpana melihatnya. Rumahnya belum pernah disapu selama ini.
“Awak ke lauik yo,” kata Yanuar sepulang sekolah. Terasa juga lelah belajar terus. Kami berempat duduk-duduk di bangku panjang. “Ancak awak baraja manari Lenggang Patah Sembilan dan Serampang Dua Belas, bisa nanti untuk acara perpisahan,” kata Alyn pada temannya. Wow, mereka senang sekali, dan Yanuar akan membeli gendang. Anak juragan ikan ini tentu saja mau, karena dia nanti yang akan jadi penabuh gendang. Siang itu juga Alyn langsung mengajarkan ketukan irama gendang, dan Yanuar langsung mahir. Ia juga langsung mengajarkan gerakan jinjit kaki pada temannya, Kartinah dan Gusti Aida.
Senin awal Januari, mereka mulai belajar menari. Yanuar sangat bersemangat menabuh gendang. Gendang dipukul keras sesuai irama. “Nanti saat acara kelulusan, Insya Allah, kito manari di panggung yo,” kata Alyn memberi semangat juga pada Gusti Aida dan Kartina.
Sebenarnya Alyn sudah terbiasa menari dengan jumlah peserta cukup banyak ketika latihan di Palembang. Penampilan dengan penari kolosal akan terlihat lebih meriah.
Ia lalu memberi usul pada Gusti Aida dan Kartinah agar mereka menambah teman-teman yang lain, baik perempuan maupun laki-laki, untuk ikut menari. Peminatnya cukup banyak, termasuk Irfandi. Akhirnya semuanya berjanji akan belajar menari rutin dua kali seminggu pas pulang sekolah di pinggir laut atau di kelas. Peserta sudah pas sepuluh pasang. Mereka latihan menari dengan riang, sehingga kelas 3 terlihat kompak. Guru-guru, termasuk Pak Zaimar dan Bu Rohana, yang lewat depan kelas tersenyum melihat anak-anak kelas 3 latihan menari.
Suatu Sabtu, saat mereka serius latihan menari di kelas, Nurjaman muncul dari balik pintu. Alyn kaget setengah mati, karena sudah cukup lama sahabatnya itu tidak bisa ke Sungai Limau. Dia lalu duduk di sebelah Yanuar sambil belajar irama gendang. Cepat sekali dia bisa mengambil alih keahlian Yanuar memukul gendang. Ketika Nurjaman sudah lancar menabuh gendang, Yanuar masuk barisan penari. Kebetulan ada satu penari yang izin tidak masuk. Yanuar menari berpasangan dengan Gusti Aida. “Sabananyo, awak labiah suko manari,” kata Yanuar.
Tiba-tiba Nurjaman memberi aba-aba agar stop. “Coba teman-teman semua perhatikan dulu gerakan tari, cara kaki jinjit dan bagaimana tangan bisa meliuk. Sekarang ini awak liek masih alun kompak bana, karena yang di belakang ndak bisa maliek yang di muko,” katanya. “Buek satangah lingkaran, pelatihnya di depan, tunjukkan gerakannya step by step dan teman lainnya juga ikut, ya,” katanya menjelaskan. “Tapi sebelumnya, pelatihnya menari sendirian saja dulu, jadi peserta dapat gambaran secara menyeluruh seperti apa gerakan tarinya, baru nanti selangkah demi selangkah, pasti cepat mahir,” tambahnya. Jiwa kepemimpinan Nurjaman tampak semakin bersinar.
Alyn lalu maju ke depan. Nurjaman kembali menabuh gendang. Baru belajar beberapa menit, ia sudah bisa menabuh dengan irama Melayu. Tentu saja Alyn meliuk dengan riang, sambil tersenyum, terbawa kerinduan latihan di Sanggar Tari Melayu di Palembang. Alyn juga menari dengan penuh perasaan, karena penabuh gendangnya kali itu adalah Nurjaman.
Setelah Alyn memberi contoh, barulah mereka mulai latihan bersama lagi. Nurjaman memanggil Yanuar untuk kembali menabuh gendang. Nurjaman lalu loncat dan berdiri di sebelah Alyn. Ia juga latihan menari. Rupanya, sambil menabuh gendang, ia memperhatikan gerakan tari. Dengan luwes ia bisa berjinjit dan meliukkan tangannya. “Samo ndak jo Benget Simbolon,” ujarnya. Alyn tersenyum.
Akhirnya mereka memutuskan yang jadi pelatih tari yang paling cocok adalah Nurjaman. “Kita latihan kaki saja dulu, bagaimana berjinjit,” katanya. “Ayo gendang mulai,” katanya lagi. “Satu dua kiri kanan, satu dua kiri kanan, satu dua kiri kanan,” katanya dengan suara menggema seiring dengan detak gendang. Semua teman bersemangat latihan dengan komando dari Nurjaman. Dalam sekejap saja semuanya mahir berjinjit dan melakukan putaran sesuai hitungan. Alyn merasa lega. “Nurjaman benar-benar cahaya sepanjang jaman,” kata Alyn dalam hati.
Setelah selesai latihan dengan kemajuan yang sangat luar biasa, mereka pun bubar. Nurjaman mengajak teman-temannya makan sate padang di warung. Lagi-lagi sate padang kesukaannya. Anak SMA Bukittinggi ini banyak duit. Geng Ampat juga mengucapkan terima kasih pada Nurjaman karena bisa pinjam buku bekas Nurjaman yang semua soalnya sudah dilengkapi jawaban. Nurjaman hanya tersenyum.
Kami makan agak terburu-buru karena Nurjaman harus naik bus lagi ke Bukittinggi jam empat sore. Sambil makan, ia memesan satu bungkus sate. “Untuk Lely,” katanya sambil memasukkannya dalam tas sekolah Alyn. Persis waktunya, Nurjaman harus segera berangkat. “Iya Kak, hati-hati, sampai basuo,” kata Alyn dengan suara tertahan. “Yanuar, titip Alyn, ya,” kata Nurjaman pada Yanuar.
Gusti Aida dan Kartinah hanya terpana melihat gaya Nurjaman. “Yang jaleh, awak baduo ndak bisa minta tolong Alyn buek surat spesial untuk Nurjaman,” kata Kartinah. “Pasti beranglah si Indira,” tambah Gusti Aida. Yanuar hanya melongo. Geng Ampat pulang ke rumah masing-masing. Alyn pulang bersama Gusti Aida, karena letak rumah searah. Tapi di tengah jalan, Gusti Aida sempat berbisik: “Awak suko jo Nurjaman.” Alyn hanya tersenyum. Lalu Alyn berbisik, Kartinah juga minta buek surat untuk Yanuar, tapi tidak dibuatkan. Gusti Aida terkejut, sesaat mencoba memahami cinta segi empat itu, lalu tertawa lepas.
Hari demi hari dilalui Alyn dengan cemas karena akan menghadapi ujian akhir. Sementara tugas rodi di rumah nenek tak pernah berhenti. Alyn benar-benar lelah dengan tugas berkepanjangan di rumah nenek, apalagi selalu diiringi suara keras dan bentakan nenek dan Teta yang terus bergema yang membuatnya selalu ketakutan.
Meski buku-bukunya lengkap, tetap saja ada kegalauan. Alyn, Gusti Aida, Kartinah, dan Yanuar selalu bersama di kelas membahas soal-soal ujian tahun-tahun lalu. Teman-teman lain ikut bergabung, karena ternyata mereka juga kesulitan. Akhirnya disepakati, teman-teman sekelas akan belajar bersama, latihan menari tetap saja dua kali seminggu supaya tidak tegang menghadapi ujian. Sebenarnya semua peserta sudah mahir menari.
“Tambah ya, setiap Sabtu kita bersama-sama bahas soal-soal ujian. Jadi, latihan menari pindah ke Jumat, pulang salat Jumat,” kata Yanuar yang juga ketua kelas 3, kepada teman-teman di kelas. Tentu saja idenya disambut riang. Maka siapa saja yang bisa membantu memecahkan soal, maka dialah yang akan menjadi mentor saat itu.
Tapi ternyata banyak juga soal yang tidak bisa kami kerjakan. Maka tugas Yanuar memanggil guru langsung supaya mau membantu pada pelajaran ekstra.
Suatu Sabtu, Nurjaman yang ditunggu-tunggu adik kelasnya muncul juga tanpa kabar sebelumnya. Alyn senang sekali. “Kok ndak latihan menari,” katanya. Tentu saja dia langsung didaulat menjadi mentor seharian pada Sabtu itu, sehingga dia tidak bisa ke Bukittinggi tepat jam 4 sore. Dia akhirnya naik bus malam. Dia janji akan datang Sabtu depan lebih pagi supaya bisa membantu belajar mengerjakan soal-soal ujian tahun lalu.
“Kelas 3 sekarang berbeda dengan kelas awak tahun lalu. Saat ini anak-anaknya semangat belajar dan senang menari, persahabatannya juga sungguh akrab, mau saling mengajak,” kata Nurjaman kepada Alyn saat mengantarnya mau naik bus malam di terminal dekat pasar. Yanuar, Gusti Aida, dan Kartinah juga ikut mengantar Nurjaman ke terminal bus. Mereka mengulang lagi harapan agar Nurjaman minggu depan bisa datang memberi bimbingan lagi. “Bara ongkos. Pembimbing lebih berat dan susah dibanding mak comblang tiga paragraf,” katanya bercanda dan tertawa lebar sambil menyenggol lengan Alyn. Tentu saja Alyn hanya bisa tersenyum malu. Nurjaman minta tolong Yanuar agar mengantar Alyn pulang ke rumah nenek karena hari sudah larut malam.
Dengan janji Nurjaman, empat serangkai itu merasa lega: akan ada pembimbing top yang membuat mereka lebih memahami soal-soal ujian. Teman-teman sekelas juga tambah bersemangat belajar, mendengar pengumuman Yanuar bahwa minggu depan ada Nurjaman datang sebagai pembimbing.
Alyn pun seakan-akan mendapat tambahan darah untuk menuntaskan tugas-tugasnya di rumah nenek Rakena karena Sabtu ada bimbingan belajar bersama Nurjaman. Tapi ketika ada kesulitan dalam pelajaran Bahasa Inggris, Nurjaman tidak mau mengajarkannya. “Itu tugas Alyn, tiok minggu dapek hadiah buku rancak,” kata Nurjaman. “I am ready, Commander,” jawab Alyn sambil tertawa. Alyn mencoba menjawab soal-soal ujian lalu usul supaya memanggil Bu Rohana saja sekali-sekali ke kelas.
Seperti biasa, sore itu Alyn dan Geng Ampek menuju terminal dekat pasar, mengantar Nurjaman naik bus kota ke Bukittinggi. “Tapi minggu-minggu besok sudah susah ke Sungai Limau karena banyak pelajaran tambahan,” kata Nurjaman sambil memandangku dengan pasrah. Tiap hari, katanya, selalu saja ada PR atau tugas merangkum. Yanuar yang suka melucu, mengusulkan agar bimbingan belajar diadakan di Bukittinggi saja sambil jalan-jalan. “Hahaha,” mereka tertawa berangan-angan.
Setiap kali ke Sungai Limau, Nurjaman masih sempat membawa satu keong untuk Alyn di dalam tasnya. “Keong ini untuk bukti cintaku, lautku. Nanti awak caliak-caliak ado tanggal merah di kalender untuk segera melaut,” ujarnya lagi. Gusti Aida, Kartinah, dan Yanuar hanya terdiam mendengar obrolan mereka berdua. Yanuar dan Gusti Aida sudah sepakat nanti sama-sama masuk SMA di Bukittinggi saja. “Awak ingin di Padang saja, Alyn di Padang juga ya,” kata Kartinah. Alyn hanya bisa tersenyum. Tentu saja ia menyimpan rapat kesedihannya: ia akan berpisah dengan semua teman baiknya. Ia harus kembali ke Jakarta.
Hari-hari bergulir cepat sekali. Sebentar lagi Alyn akan ujian akhir nasional. Sementara tugas rodi tidak bisa dialihkan ke orang lain. Ia tetap harus kerja keras di rumah nenek, mulai dari mencuci baju, menimba air sumur untuk mandi Umi dan Lely, mencari pelepah kayu di hutan belakang, dan tentu saja giliang lado. Celok sudah jarang datang. Alyn baru bisa belajar malam hari dengan lampu minyak tanah yang remang-remang. Kebahagiaannya hanyalah di sekolah.
Seminggu menjelang ujian, Nurjaman muncul. Dia kembali menjadi mentor, tapi dengan syarat jam tiga sore harus sudah selesai. Teman-teman di kelas bersorak riang, dan dengan serius memperhatikan cara Nurjaman memecahkan berbagai soal.
Pak Zaimar, kepala sekolah, kebetulan lewat di depan kelas dan melihat Nurjaman sedang mengajarkan adik kelasnya. “Wah, ada guru baru,” katanya gembira. Pak Zaimar ikut masuk kelas dan duduk di pojok melihat Nurjaman menjelaskan soal Ilmu Alam. Tapi Nurjaman terlihat santai saja. Ia tetap terus mengajar dan ia menyuruh adik-adiknya menjawab bergiliran. Tak lama kemudian, lewat lagi beberapa guru termasuk Bu Rohana. Melihat kelas 3 masih belajar di kelas, ditambah lagi ada kepala sekolah, ia lalu ikut masuk kelas. Bisa dibayangkan betapa riuhnya kelas 3 siang menjelang sore itu. Nurjaman dengan lantang terus mengajar, tak peduli ada beberapa guru yang ikut memperhatikannya. Dia tidak terlihat gugup sedikit pun.
Ketika ada soal yang dia tidak tahu jawabannya, ia meminta Pak Syarifudin, guru Ilmu Alam, untuk menjelaskannya. “Coba Pak Syarifudin tolong maju ke depan, jelaskan,” kata Nurjaman seperti layaknya seorang guru yang menugaskan muridnya ke depan. Kelas kembali riuh dengan ulah Nurjaman. Semua teman yang akan ujian terlihat bahagia hari itu. Alyn pun melihat Pak Zaimar tersenyum bangga.
Nah, sekarang giliran membahas soal ujian Bahasa Inggris. “Untuk soal Bahasa Inggris ini, saya minta Alyn maju ke depan,” katanya santai. Nanti ada Bu Rohana yang akan membantu, tambahnya. “Yes, I am ready, Commander,” kata Alyn mengulang kalimatnya beberapa waktu lalu, sambil memberi tanda hormat kepada Nurjaman. Lalu dengan bahasa Inggris terpatah-patah, ia menjawab soal ujian disertai dengan penjelasannya, sehingga teman-teman tahu alasannya di balik jawaban. “Bagaimana Bu Rohana, are these answers correct?" kata Nurjaman setelah Alyn selesai bersama teman-teman menjawab soal. “Yes, 100% correct,” jawab Bu Rohana.
Pukul dua siang, bimbingan belajar selesai. Nurjaman mengajak adik kelasnya berdiri sambil mengepalkan tangan lalu berteriak I will do the best! sebanyak 3 kali, lalu ditutup dengan doa bersama. Semua teman di kelas 3 saling berpelukan lalu bersalaman dengan Nurjaman dan guru-guru yang hadirnya menyaksikan.
Selesai bimbingan, Nurjaman terlihat lelah sekali. Ia berusaha menutupi rasa lelahnya, lalu menarik tangan Alyn dan mengajak Yanuar, Gusti Aida, dan Kartinah makan sate padang lagi di warung. Dia lalu berjanji akan datang saat pengumuman kelulusan, biasanya dua minggu setelah ujian. Kepada Alyn, ia sempat berbisik, “Semoga soal ujian mudah, dan lulus gemilang ya Dik. Lanjut ke SMA di Bukittinggi ya,” kata Nurjaman. Alyn menatapnya haru sambil menjawab, “Aamiin.” Kami masih punya waktu sedikit buat ngobrol, lalu ia tiba-tiba saja ingat ada keong di tas sekolahnya untuk Alyn.
Alyn bahagia sekali berkumpul bersama teman-temannya yang membuatnya lupa pada kelelahan yang ia rasakan akibat pekerjaan di rumah nenek Rakena. Hampir jam empat sore. Bersama teman-temannya ia mengantar Nurjaman naik bus. Ia melambaikan tangannya dari balik jendela kaca bus besar. Alyn hanya bisa menatap bus yang menjauh itu dengan haru.
Seminggu menjelang ujian, Alyn tetap bekerja keras di rumah. Tapi, ia sama sekali tidak belajar lagi, kecuali hanya mengulang-ulang bimbingan belajar dan membuka buku soal dan kertas ujian bekas Nurjaman. Ia santai-santai saja. Dalam masa liburan, Gusti Aida, Kartinah, dan Yanuar juga mampir ke rumah nenek Rakena. Mereka berempat lalu berjalan dan duduk-duduk di bangku panjang di pinggir pantai.
Akhirnya mulailah ujian akhir nasional selama empat hari. Selesai ujian, siswa kelas 3 kembali latihan menari dan diakhiri dengan bersantai di pinggir laut. Banyak di antaranya yang membawa makanan dan kue khas Pariaman, seperti lapek koci dan lapek pisang. Meski cemas-cemas menunggu pengumuman, namun semua teman sekelas merasa bahagia berkumpul bersama.
Alyn menghitung hari, karena tidak ada almanak di rumah nenek. Terkadang ia bertanya pada diri sendiri, apakah benar-benar menunggu hari pengumuman, atau menunggu Nurjaman yang berjanji akan datang pas hari kelulusan. Yang jelas, hari-hari terasa panjang sekali.
Selama penantian, nenek Rakena dan Teta belum berubah, selalu membentak kalau menyuruh. Ya, tugas tetap jalan, drama mencubit Umi dan Lely juga terus berlanjut meski kedua adiknya sudah tidak menangis sekeras dulu lagi. Alyn dan adik-adiknya sudah tidak makan nasi segunung lagi, karena selalu saja ada uang untuk membeli nasi bungkus di warung padang dekat rumah. Nasi segunung itu tetap disediakan Teta namun Alyn tidak tahu bagaimana nasibnya karena sudah tak lagi membuka lemari ataupun menyentuhnya.
Menjelang jemputan Mak Zuarni, Alyn sudah bisa menyenangkan adiknya, selalu sarapan pagi di beranda. Tidak mau lagi makan dekat kandang ayam yang sangat jorok itu. “Mak, nasi bungkuih limo, pakai dadar talua dan ikan balado,” kata Alyn pada Mak Inang yang berjualan nasi di warung kecil tidak jauh dari rumah nenek. Mak tua itu heran, kok sering beli nasi bungkus tiga kali sehari. “Untuk makan sarapan, makan siang, dan makan malam mak,” kata Alyn. “Ndak ado nasi di rumah Bu Rakena,” katanya suatu kali.
“Nasi banyak, sagunuang, tapi ndak ado lauak, ndak ado talua, ndak ado ikan balado, ndak ado sayur. Cuma ado samba lado matah,” kata Alyn membuka rahasia. Warung Mak Inang ini selalu menjual ikan bilih balado, atau ikan teri balado, dan adiknya sangat suka walau seringkali kepedasan. Saat beli nasi bungkus, Alyn juga membeli lima kerupuk besar, sehingga kalau makan bunyi kriuk-kriuk terdengar oleh nenek dan Teta. Alyn masih tetap membelikan nenek nasi bungkus dan tetap saja kena marah.
Berkat buku hadiah Bu Rohana, tabungannya cukup banyak. Kadang-kadang mereka juga sarapan talua katuang yang kini jadi kesukaan Lely. Ternyata nenek mereka juga suka talua katuang.
Akhirnya, hari yang dinanti-nanti telah tiba: hari kelulusan! Alyn bergegas ke sekolah. Di pintu gerbang ia bertemu Yanuar yang menyampaikan pesan bahwa Nurjaman sudah sampai Sungai Limau Jumat malam. Yanuar, Nurjaman, dan Fachrudin bertetangga. Sabtu dini hari, Nurjaman akan melaut bersama Fachrudin dan tiga nelayan lainnya. Biasanya hanya dua atau tiga jam waktu melaut dan akan sampai di pinggir laut lagi sekitar jam enam pagi. Nelayan di Sungai Limau tidak pernah jauh-jauh melaut.