Malam belum tiba ketika mereka menatap seorang pria yang masuk ke dalam rumah mereka. Rumah dengan cat berwarna merah di luarnya dan sebuah tanda kecil yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu. Sudah lama sekali sejak mereka tak mendapatkan ‘pelanggan’, sehingga ketujuh pelacur yang ada sangat bersemangat untuk melayaninya. Seorang perempuan bertubuh jangkung menengahi mereka bertujuh, kemudian memberikan selembar kertas.
“Selamat datang di rumah bordil merah.”
Pria dengan rambut sedikit panjang dan brewokan itu membaca selembaran tersebut dengan perlahan. Kertas itu hanya berisi sebuah peraturan terhadap para pelacur yang bisa digunakan di sana.
Pertama, dilarang menyakiti para pelacur.
Kedua dilarang mempertanyakan kehidupan pribadi pelacur.
Ketiga, dilarang menanyakan jam kepada pelacur.
Ketiga peraturan itu hanyalah peraturan biasa dan mungkin pria itu tidak peduli, mungkin juga tidak akan melakukannya. Matanya kemudian tertuju pada perempuan bertubuh sedikit pendek di sisi kiri. Rambutnya panjang sedada dan dadanya tidak terlalu datar. Namun, bagi pria itu melihatnya dengan bahagia, seolah bertemu dengan kekasihnya dan bisa bercinta ria dengan bebas di rumah bordil itu.
“Nama?”
Perempuan jangkung itu berbicara, ia menutup pandangan sang pria dan kembali membuatnya menutup pandangan ke pelacur pendek tersebut.
“Patah.”
Perempuan itu mengangguk. “Aku Farida dan kurasa kau memilih Sakshi untuk melayanimu. Silahkan masuk ke ruangan ambang nomor tiga. Sakshi, bawa pelangganmu.”
Gadis bernama Sakshi itu mengangguk, kemudian menggandeng tangan Patah, membawanya menuju ruang ambang nomor tiga.
Farida melihat jam tangannya, kemudian menekan tombol kecil di sisi kiri jamnya. Waktu perlahan bergerak lebih cepat. Tidak ada yang menyadarinya jika tidak melihat jam, dan tidak ada para pelacur yang boleh memberitahukan tentang jam kepada para pelanggannya. Farida adalah sosok mucikari yang menyimpan banyak hal di rumah bordil merah.
Farida masuk kembali ke ruangannya di lantai atas. Para pelaur yang sedang tidak bekerja sibuk di ruangan tengah, bermain kartu remi dengan candaan mengkuti mereka. Tidak ada yang pernah mempermaslaahkan apakah mereka akan bekerja atau tidak hari ini, sebab semuanya tahu, jika tidak banyak pelanggan yang bisa menemukan rumah bordil mereka. Bekerja atau tidak, mereka tetap dibayar bulanan oleh Farida. Tidak ada potongan pajak maupun potongan asuransi. Sebab semuanya akan ditanggung secara regular oleh Farida. Hanya karena itu, mereka tetap bersama Farida meskipun mereka adalah para pelacur yang tinggal bersama.
Ruang ambang adalah kamar mereka sendiri. Mereka yang ditandai dengan nomor-nomor, jam makan, jam tidur, jam menjaga wajah atau tubuh. Semuanya telah diatur dan ditanggung oleh Farida. Tugas mereka hanya satu, mengikuti peraturan Farida. Tidak ada yang pernah mengetahui alasan mengapa Farida melakukan semua itu. Namun, mereka tidak memiliki apa pun untuk dikeluhkan.