Rumah Para Pelacur

Diva Aelah
Chapter #2

Suatu Hari

Suatu hari, sebuah rumah merah berdiri. Sengaja dibuat mencolok supaya banyak yang datang. Namun, pelanggan pertama baru datang saat tahun ketiga rumah itu berdiri. Rumah bordil sebenarnya ada banyak di sekitar sana. Namun, mereka adalah rumah bordil yang berbeda.

“Mucikarinya terlalu menyeramkan.”

Awalnya Farida dikenal seperti itu. Berpakaian serba hitam, mengelilingi distrik pelacur untuk mencari pelacur di rumahnya. Belum lagi daerah rumah itu terlalu agak masuk ke belakang, masuk ke dalam gang-gang, sehingga tidak banyak pelanggan yang akan datang ke sana.

“Kau mau hidup sebagai pelacur?”

Hari itu Distrhi ditemukan di gang sekitar distrik. Tubuhnya hampir rusak, penuh luka dan wajahnya tak begitu cantik. Namun, ia mengiyakan Farida dan terus mengikuti mucikarinya sampai saat ini. Ia memiliki kehidupan yang ditanggung oleh Farida dan ia tidak pernah mempermasalahkan apa pun. Ia dihidupkan kembali oleh Farida.

“Pelanggan yang datang adalah mereka yang akan segera mati. Setiap mereka menggunakan pelacur di rumah ini, umur mereka akan semakin pendek.” Farida saat itu tengah menjelaskan keadaan hidup di rumah bordil merah, sembari makan malam bersama Distrhi. Di meja makan yang panjang, mereka saling duduk ujung ke ujung.

“Apa karena kami yang kau pilih adalah jiwa tersesat?”

Farida menggeleng pelan, ia lantas meminum anggurnya. “Meskipun kalian adalah jiwa yang tersesat, ini adalah takdir Tuhan. Mereka yang datang sudah mencapai masa hidupnya di jeruji dunia. Maka kita adalah malaikat pencabut nyawa itu.”

Farida telah menerima tugasnya sebagai malaikat pencabut nyawa, tetapi dengan sebutan mucikari. Para jiwa tersesat adalah para pelacur di rumah bordil merah. Melalui para pelacurnya, Farida akan mencabut nyawa mereka dengan kenikmatan terakhir manusia duniawi.

Dengan demikian, tidak ada yang tahu sebenar-benarnya tentang rumah bordil merah. Meskipun para jiwa tersesat—pelacur—keluar dari rumah selama beberapa jam, dan tubuh mereka ada, tetapi tidak ada yang tahu jika mereka semua hanyalah boneka hidup yang dikontrol untuk mencabut nyawa para manusia. Para pelacur hidup hanya untuk Farida, tidak lebih dan tidak kurang.

***

Para pelacur sedang sibuk di ruang tengah setelah Geisha membawa masuk pelanggan ke kamarnya. Mereka tidak sibuk bermain kartu remi lagi, mereka sibuk membicarakan apa yang disebutkan oleh Farida. Mereka semua tahu apa pekerjaan mereka yang sesungguhnya. Namun, dengan demikian waktu yang berlalu akan lebih panjang dari yang mereka pikirkan. Meskipun Farida telah mempercepat waktu di rumah itu, bagi mereka harus bercinta dan menunggu sampai umur mereka habis adalah waktu yang panjang.

“Tapi kita tidak bisa menghentikan ketika sedang bercinta,” ungkap Trishta, sosok pelacur nomor dua di rumah itu. Ia tidak pernah merasa segelisah itu sejak menjadi pealcur di rumah bordil merah rasa gelisah dan takut itu menghantuinya untuk pertama kali.

Lihat selengkapnya