Rumah Para Pelacur

Diva Aelah
Chapter #3

Bukan Maaf

Sialnya tidak sampai dua puluh menit sejak kedatangan si bujangan, mereka kembali menatap pelanggan baru. Seorang pria yang terlihat lugu dan kaku sedang berdiri di meja penerimaan. Lashta yang duluan sampai di sana, menjamunya dengan perlahan. Namun, saat semua para pelacur berdiri di depan, Farida sampai dengan terburu-buru. Wajahnya penuh dengan rasa kaget dan mungkin sedikit takut. Apinya telah mati, kedatangan banyak pelanggan dalam satu malam tentunya membuatnya tidak bisa berpikir panjang. Lalu si Lashta—si nomor empat—terpaksa melayani pria itu ketika Farida menatapnya tajam. Keduanya sama-sama terlihat polos, sehingga sulit untuk memikirkan jika mereka bisa bercinta dengan cepat atau tidak.

Farida duduk di kursi kerjanya di dalam kamar. Ia terdiam cukup lama sampai akhirnya ia menyambungkan kembali benang merah yang tergantung di seluurh penjuru kamarnya ke kepalanya. Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, sebab semua yang dirasakan oleh para pelacurnya dapat ia rasakan, karena mereka hidup dari dirinya. Rasa sakit yang paling parah dirasakan dari Sakshi yang telah kehilangan tubuhnya. Jiwanya tengah bersemayam di kamar Farida tanpa sadar. Belum lagi, Geisha yang sudah sampai di titik penghujung, membuatnya merasakan sakit yang luar biasa. Seluruh rasa sakit itu perlahan digantikan dengan suara berisik. Lagi-lagi diakibatkan oleh kamar yang hancur. Farida dengan segera berlari ke kamar nomor tujuh. Di sana para pelacur sudah berdiri dengan lemas. Tatapan mereka tertuju pada Geisha yang penuh luka dan mungkin rusak di dalam sana. Farida terdim cukup lama.

“Dristhi …. Bawa tubuh Geisha ke ruang kremasi,” ucapnya dengan lemas. Ia seperti akan meledak atau mungkin hancur kapan saja. Sang malaikat pencabut nyawa tanpa sabit besar itu tidak memiliki banyak energy untuk menyelamatkan seluruh pelacurnya.

“Apa—“

“Tidak. Aku tidak bisa membiarkan kalian mati seperti mereka. Namun, aku tidak bisa menolak para pelanggan. Bukan karena uang, sebab Dia telah menentukan siapa yang akan kembali kepada-Nya malam ini.”

Para Pelacur diam di tempat mereka. Tak pernah terpikirkan jika mereka juga akan bekerja untuk-Nya. Pada akhirnya, mereka terdiam dan tak bisa menentang apa pun dari kalimat Farida. Sebab sejatinya mereka hidup untuk yang kedua kalinya hanya untuk Farida.

Farida kembali terdiam di kamarnya. Satu benang merah yang baru muncul kembali. Kali ini dari ruang kremasi. Perlahan tubuhnya mulai beradaptasi terhadap rasa sakit. Menjadi satu dengan para pelacurnya sudah membuatnya kebal terhadap rasa sakit. Namun, rasa sakit hari ini disebabkan oleh kesakitan fisik yang diterima oleh para pelacurnya.

***

“Jika hamba boleh meminta, biarkan hamba untuk menarik nyawa mereka.”

Percakapan dengan Tuhan itu hanya sebentar. Farida mendapatkan izin dari Tuhan untuk mencabut nyawa dengan cara yang berbeda. Ia berubah untuk menjadi manusia dan merasakan betapa tersiksanya menjadi manusia. Belum lagi ia harus menerima rasa sakit dari para pelacurnya. Namun, ia tak menjadi manusia paling bajingan di dunia.

Farida terdiam di kursinya kembali. Kali ini matanya sudah membengkak akibat rasa sakit dari bujangan tadi yang menyakiti Britha. Para pelacur itu memang gampang sekali memberikan efek kepada Farida. Dengan semua kerangka tubuh yang dibuat oleh Farida, pun tubuh itu merasakan sakit yang teramat ngeri.

Pintu kamar Farida perlahan diketuk dan terbuka. Di ambang sana ia bisa melihat Dristhi yang berdiri saja sebab belum diizinkan masuk oleh Farida.

“Apa yang kau butuhkan?”

Lihat selengkapnya