Farida menyayangi para pelacur yang hidup bersamanya. Tidak ada yang bisa mencintai ketujuh puan itu lebih baik darinya. Bahkan di kehidupan sebelumnya, tiada yang bisa membandingin rasa sayang Farida kepada mereka. Sebab jiwa yang tersesat itu adalah mereka yang mati tanpa dicintai.
“Tristha, Sakshi, Lashta, Britha, Rasha, Geisha. Semoga kalian mendapatkan pengampunan dari-Nya.”
Farida sedang bersujud, dengan menyebutkan nama para pelacur kesayangannya, lantas ia mulai melepaskan benang merah yang ada di tubuh para pelacurnya. Perlahan, para pelacur yang tersisa kehilangan kendali atas tubuh mereka sendiri. Satu per satu, para pelacur mulai berangkat menuju alam berikutnya.
“Apa alasanmu meninggalkanku sendirian?”
Pintu kamar Farida terbuka, menamapakkan tubuh tinggi Dristhi yang tersisa di antara para pelacur yang lain. Tubuh para pelacur yang lain sudah tergeletak di lantai, tubuh yang dingin, dan tanpa rasa sedikit pun. Segera, Dristhi pasti akan diminta untuk membawa mereka semua ke ruang kremasi.
“Aku tidak bisa membiarkanmu pergi,” ujarnya pelan kemudian terdiam sejenak. “Dristhi, apakah kau mau mengulang tempat ini bersamaku?”
Dristhi terdiam. “Entahlah, aku lelah sekali atas hidup, Farida. Aku seperti tidak ingin berada di dunia lagi. Namun, karena engkau juga aku bisa mendapatkan hidup yang lebih baik daripada kehidupanku yang sebelumnya. Maka aku akan mengikutimu sampai kapan pun dan akan melakukan apa pun bersamamu.”
Rumah bordil merah mengalami kehancuran. Atas perkataan setan, mereka berpindah tempat. Untuk membuat semuanya lebih baik. Namun, untuk menjaga keamanan para pelacurnya, Farida memilih tempat yang sama. Terpencil dan hanya bisa dilihat oleh para jiwa yang tersesat.
***
Tubuh Farida mengecil, lebih kurus daripada sebelumnya. Semua bisa melihat jika tubuhnya seperti tinggal tulang saja. Pipinya yang cekung menunjukkan seberapa banyak energi yang ia keluarkan untuk membuat para tujuh pelacur ada lagi di rumah bordil merah. Mereka semua adalah arwah yang baru dibawa oleh Farida setelah tiga bulan mencari jiwa yang tersesat. Dristhi bertugas untuk menjaga rumah sekaligus melayani pelanggan yang datang. Tiga bulan yang sulit itu mereka berdua lalui begitu saja. Rasa aman muncul saat Farida membuat perbatasan antara rumah itu dengan para setan, dan Dristhi tak lagi kelelahan untuk mengurus para pelanggan. Namun, rumah yang saat ini seperti mesin waktu untuknya. Seperti ia akan kembali teringat bagaimana kehidupannya bersama para enam pelacur yang lama.
Kini tugas Dristhi telah berubah. Ia tidak lagi masuk sebagai para pelacur milik Farida. Ia menjadi asisten Farida yang mengurusi para pelacur dan kebutuhan Farida. Kehidupan yang baru mereka terjangi tak seburuk itu. Semuanya terjadi sesuai dengan urutan, tak sama seperti sebelumnya. Aturan demi aturan terus ditaati oleh para pelacur maupun pelanggan. Tidak ada yang mati lagi. Semuanya seperti menjadi lebih baik dan berjalan lancar.
Sejak menemukan seluruh pelacur, Farida memutuskan untuk hibernasi panjang selama musim panas. Kamarnya ia kunci dengan ketat sehingga Dristhi pun tidak akan bisa masuk ke dalam. Tidak ada makanan, Farida membiarkan seluruh tubuhnya terkalibrasi dengan para pelacurnya hingga ia tetap dapat merasakan apa yang terjadi di dunia nyata. Seluruh pelacur, kecuali Dristhi tidak ada yang mengetahui apa yang direncakan oleh Farida. Untuk apa ia melakukan hibernasi atau hal lainnya. Yang mereka tahu, mereka hidup hanya untuk Farida dan mati untuk-Nya. Dengan demikian tugas Dristhi lah yang mengurusi segala hal terkendali.