Hanya Farida dan Maria yang berada di ruang kremasi. Tidak ada orang lain di sana. Setidaknya seharusnya begitu. Farida tengah menyalurkan kembali setiap sel yang ada di tubuh Maria. Seolah tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Kali ini Farida berusaha lebih keras untuk menyelamatkan para pelacurnya.
“Apakah ada orang?”
Suara pintu masuk kembali terdengar. Farida yang berada di ruang kremasi terdiam kaku. Matanya terbelalak kaget, mendengarkan semua percakapan yang ada di bawah dari telinga Dristhi. Ia tidak menyadari apa kesalahan yang sudah ia lakukan. Ia tidak pernah tahu.
Satu pelanggan masuk. Melalui mata Dristhi, pria itu terlilhat tua, mungkin sekitar lima puluh tahunan. Ia memiliki tubuh yang cukup tinggi dengan topi tua di kepalanya. Ia melihat si nomor lima, Cillia, sebab baginya si Cillia sangat mirip dengan mantan istrinya. Maka si Cillia telah membawa pria tua itu ke dalam kamarnya untuk dilayani. Namun, tak butuh lama, empat pelanggan lain berdatangan dengan beramai-ramai. Mereka semua memilih semua pelacur untuk digunakan. Farida dibuat kebingungan dengan semua itu. Tidak tahu mengapa, ia seperti akan ditarik ke dalam topan yang entah bagaimana dapat terjadi. Sejatinya bukan inilah tujuan ia membiarkan para pelacur hidup. Tidak untuk ditemui ajal kedua kalinya. Rasanya terlalu menyakitkan, bahkan untuk dirinya sendiri.
Dristhi hadir dengan membuka pintu ruang kremasi. Di sana, ia bisa melihat Farida yang terduduk di lantai dengan Maria dalam pelukannya. Tetesan air mata Farida membasahi wajah Maria. Tanpa suara, tangisan itu terasa menyesakkan ke seluruh rumah.
“Dimana aku memulai kesalahan?” rintihnya pelan. Ia perlahan menegakkan kepalanya, kemudian menatap Dristhi. Untuk pertama kalinya ia membiarkan orang lain untuk mengerti perasaannya. Lalu, untuk pertama kalinya ia membiarkan orang lain masuk ke dalam pikirannya. Dengan ragu, Dristhi memeluk mucikarinya itu dengan perasaan hangat dan dari tubuh yang hidup. Dristhi tak pernah merasa sehidup itu untuk menjadi seorang manusia. Untuk mengerti perasaan orang lain, untuk menjadi manusia seutuhnya.
“Dristhi?”
Sang empunya nama menoleh ke asal suara. Keempat pelacur sedang menatap mereka bertiga dari sana. dengan sedikit luka di beberapa titik tubuh, rasa sakit mereka masih menjalar di tubuh Farida. Perlahan, Maria turut bangun dari kematiannya. Tidak, dia belum mati, ia hampir memijak alam sebrang dan berhasil kembali. Maria turut memeluk Farida dengan lemah.
“Terima kasih.”
“Farida! Cilia! Cillia …. Kehilangan kesadarannya!”
***
Dinyatakan Maria hidup kembali. Bisa jadi disebabkan keinginan jiwa untuk terus hidup daripada yang lainnya. Jiwanya menyangkut tak ingin pergi, maka ia kembali untuk melanjutkan hidup sebagai pelacur milik Farida. Ia tidak keberatan dan tidak akan pernah. Mungkin di masa ini ia merasakan hal yang sama seperti Dristhi. Sebab ia hidup dan akan selalu mengikuti Farida. Mungkin hidup dan matinya juga untuk Farida. Namun, mereka kehilangan Cillia di saat mereka sibuk mengurusi Maria. Rumah bordil merah sedang berduka.
Farida telah berubah menjadi seorang perempuan remaja. Tepat ketika ia selesai membuat Maria kembali sehat. Dristhi mengantarnya untuk tidur, dengan mudah menggendongnya dan meletakkannya ke atas kasur. Untuk sementara waktu, Farida membiarkan Dristhi untuk merawatnya. Sedangkan urusan pelacur akan diurus oleh Maria. Tidak ada yang menentang Farida, tidak ada amarah yang sama seperti saat itu. Farida menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu. Telah dipastikan jika para pelacur rumah bordil generasi kedua mengalami kehidupan yang lebih baik. Meskipun kehilangan Cillia, mereka berakhir berduka untuk sementara waktu. Sekaligus menunggu Farida untuk pulih kembali.