Tuhan akan memaafkan segala kesalahan kekasihnya. Ia menyayangi mereka semua dengan setara. Maka Tuhan berkata “Janganlah engkau mengakhiri dirimu sendiri, sebab ia sangat menyayangi dirimu.” Dristhi memutuskan sebaliknya. Secintanya ia kepada Sang Maha, ia ingin berada di sisi-Nya langsung. Ia tidak ingin melalui kehidupan yang fana ini dan terasa sangat berat untuk hidup. Dristhi memutuskan untuk berbaring di sebelah Yang Maha. Karena itulah jiwanya tersesat, begitu juga para pelacur yang lain. Latar belakang mereka semua sama, sebagai jiwa tersesat dari tubuh yang mengakhiri hidup dan mereka yang ingin hidup lebih panjang.
“Apa kau ingin menjadi pelacur?”
Di saat jiwanya tersesat, sekitar dua belas tahun yang lalu. Dristhi ditemukan di antara ilalang, tengah melalang buana mencari Sang Maha. Ia terjebak di dalam tubuh seorang wanita berambut merah yang tinggi juga manis. Kulitnya sewajarnya perempuan di negara tropis. Namun, Farida menyayanginya sejak pertama kali bertemu. Sebab jiwanya begitu kecil sehingga kapan pun bisa menghilang. Kendatipun, butuh waktu yang panjang agar ia terbiasa dengan tubuh barunya. Farida terus menjaganya, seperti mengurus bayi yang baru lahir hingga bisa berjalan kembali. Sebab, Dristhi meninggal di umur yang sangat muda. Saat menyadari hal tersebut, Farida sebenarnya enggan membuatnya bekerja sebagai pelacur, tetapi sudah menjadi tugasnya untuk membuat rumah bagi para jiwa yang tersesat. Dristhi hidup lebih baik daripada pelacur lain maupun kehidupannya yang sebelumnya. Bahkan di lingkungan pelacur, ia sangat disukai sebab keramahannya sebagai manusia.
“Farida, apa kau menyayangiku?”
Panas di sore hari itu tak begitu menyengat. Rasanya nyaman untuk berbaring di atas rerumputan. Sedangkan Dristhi memilih untuk duduk dengan menampung kepala Farida dalam pangkuannya. Ia mengelus rambut mucikarinya itu dengan perlahan, berusaha membuatnya tenang dalam keadaan pikiran bagaimanapun. Sebab Farida baginya sama seperti anak kecil yang harus ditimang.
“Aku menyayangimu, lebih dari siapa pun. Jadi, jika kau pergi, mungkin aku akan mati.”
Hari itu Dristhi berumur delapan belas tahun dan untuk pertama kalinya, Farida melepaskannya untuk melayani pelanggan. “Aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Kalaupun kau memaksa, aku tidak akan pergi,” ujar Dristhi pelan.
“Hidup bersamaku mungkin akan menyakitkan. Para arwah yang akan pergi akan menyakitimu dengan kasar. Kau mungkin tidak akan bahagia.”
Perlahan Dristhi memeluk tubuh Farida dengan lemah. “Selama aku bersamamu, aku akan baik-baik saja.”
Kepercayaan yang dibangun oleh Dristhi sejak ia muda membuatnya taat kepada Farida kapan saja. Meskipun diminta untuk melakukan hal yang bukan urusannya, seperti urusan dapur, Dristhi tetap melakukannya. Sebab menyayangi Farida terlalu berlebihan. Farida seperti segalanya untuknya.