Selama ini ia menyadari jika ia tak pernah benar-benar menjadi manusia. Ia hanya mempelajai sedikit tentang manusia, merasakan apa itu hawa nafsu daripada mempelajari hal lain. Ia meyadari betapa sulitnya menjadi manusia, hal tersebutlah yang dimaksud oleh Yang Maha selama ini. Sebab menjadi manusia itu sangatlah sulit.
“Kau harus lebih sering mengutarakan perasaanmu!” Cillia berseru dengan suaranya yang kecil itu. Ia berkacak pinggang dan menatap Farida dengan serius. Pagi ini di rumah bordil merah sedang terjadi pembelajaran menjadi manusia untuk Farida.
Farida terdiam sejenak. “Cillia kamu harus berhenti memikirkan hal yang tidak penting. Nillia tanamanmu sudah terlalu banyak. Killia, berhenti menyakiti dirimu. Maria … berhenti membaca pikiranku, Dristhi—“
“Kupikir bukan yang seperti itu, Farida.” Dristhi lantas memotong kalimat Farida dengan segera. Ia tidak ingin apa yang ia pikirkan tersebar kepada siapa pun. Lantas Dristhi menghela napas panjang. “Maksud Cillia adalah apakah kamu merasa senang? Atau marah. Perasaan-perasaan tersebut yang menghubungkan antar manusia. Perasaan adalah cara kita berkomunikasi.”
“Tapi aku bisa merasakan apa yang kalian rasakan. Marah, sedih, kesal. Namun, aku tidak mengerti kapan perasaan tersebut akan muncul.”
“Tapi kau mengerti hawa nafsu.” Maria menyela. Ia membuat semuanya terdiam.
Farida menatapnya sebentar, kemudian menunduk. “Tuhan berkata bahwa hal yang paling sulit dikendalikan oleh manusia adalah hawa nafsu. Nafsu untuk bercinta, nafsu untuk harta, dan nafsu untuk tahta. Semua itu terasa menyulitkan saat pertama kali aku diturunkan.”
“Lalu apa yang paling menyulitkan?”
Farida menegakkan kepalanya untuk menatap Maria. “Hawa napsu untuk bercinta. Pekerjaan pertamaku menjadi pelacur dan kurasakan apa yang membuat manusia sulit untuk menahannya. Yaitu haw anafsu untuk bercinta. Wanita merasakan ovulasi dan menggila. Laki-laki bagaikan hewan liar perusak vagina. Aku tidak mengerti apa pun, entah darimana harus memulainya.”
“Mulailah dengan menjadi manusia yang normal.”
Farida terdiam kembali. Ia memutar otaknya untuk memberikan jawaban. “Memangnya manusia yang normal itu yang seperti apa? Apakah ada buku panduannya?”
Semuanya terdiam mendengar pertanyaan dari Farida. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Apakah semua yang dilakukan manusia itu normal? Tidak, tidak ada yang bisa menjabarkan kenormalan manusia saat ini. Manusia hanya melakukan hal yang sama sedari dulu. Terlahir, tumbuh, bersekolah, bekerja, menua, lantas mati. Tidak ada yang bisa merubah fakta tersebut, bahwa kenormalan manusia hanya berbasis pada hal yang terlampau biasa. Maka kneormalan itu adalah budaya yang telah dibentuk sejka lama. Namun, tidak memiliki buku panduan. Itulah kenormalan.
“Farida, mulailah dari sesuatu yang seperti kami lakukan.”
“Seperti?”
Semuanya melihat satu sama lain hingga akhirnya Nillia tersenyum lebar. Mereka dibuat duduk di ruang tengah.
“Berjudi?”