Rumah Para Pelacur

Diva Aelah
Chapter #9

Berkalibrasi

Satuan tubuh lama terlepas dari seeonggok daging milik Farida. Ia berubah, menjadi sosok laki-laki yang tampan dan muda, tidak terlalu muda, menrut Dristhi dia sudah cukup umur untuk berhubungan badan. Rambutnya terpotong rapi dari rambut wanitanya sebelum ini. Tubuhnya lebih tinggi dari siapa pun di rumah itu. Maka dengan perlahan para pelacur menyebutnya menawan.

“Aku sempat membuka rumah gigoglo, tetapi jiwa mereka sangat sulit untuk dikendalikan. Barangkali sebab mereka yang tulen dan menolak untuk digunakan oleh sesama pria. Sebabnya, jiwa mereka hancur begitu saja saat berhubungsn intim dengan para pelanaggan.” Farida memperhatikan tubuhnya di depan cermin dengan seksama, memastikan setiap inchinya dengan tubuh yang telanjang dan Dristhi yang menatapnya dari sisi kamar.

“Apakah menjadi laki-laki itu rumit?”

Dristhi terdiam sejenak, ia memeluk tubuhnya dengan erat. “Lebih rumit daripada perempuan. Aku tidak bisa mengerti mereka. Ayahku, bajingan itu justru menyakitiku dahulu. Satu hal yang pasti, laki-laki harus bisa melindungi para perempuan apa pun yang terjadi, meskipun itu merugikan mereka.”

Lantas, dengan perlahan tangan Farida melingkar di tubuh Dristhi, memberikan sentuhan hangat dari tubuh telanjangnya. Ia memeluknya dengan erat, seolah tak ingin kehilangan atau menyakiti Dristhi sedikit pun. “Aku akan menjagamu dan mereka semua dengan baik. Tidak akan kubiarkan siapa pun menyakiti kalian. Tidak untuk yang kedua kalinya.”

Dristhi mempercayai Farida lebih dari siapa pun. Tubuh yang bahkan sudah berganti tetap akan ia percayai. Sebab di dalamnya masih ada anak kecil yang tersesat di dalamya dan Dristhi ingin menyelamatkan anak kecil itu. Apa pun yang terjadi.

“Tumben sekali pagi ini ada pelanggan.” Farida kini mulai memasang pakaian baru yang dibeli Dristhi pagi tadi untuk menyesuaikan bentuk tubuhnya yang sekarang. Farida dengan senang hati menggunakannya tanpa ada complain sedikit pun. Baginya appa pun yang dilakukan oleh Dristhi bagaikan berkah yang tidak bisa ia abaikan. Sebab mungkin, rasa sayangnya yang berlebihan.

Setelah selesai berpakaian, Dristhi mengikuti Farida ke pintu depan, tepat di mana para pelacur sedang berdiri. Mata Farida sayu memperhatikan pemuda di depannya.

“Kau tak mencari perempuan di tempat ini. Carilah di tempat lain,” ujar Farida cepat. Kulitnya yang putih itu menarik perhatian sang pelanggan.

“Tapi ada kau.”

Farida terdiam sejenak, memperhatikan pelanggan itu lebih lamat, memastikan bagaimana kematian akan diantarkan ceoat kepadanya. “Baiklah.”

Kamar Dristhi digunakan sebagai tempat mereka bersenggama. Mengabaikan keseluruhan fakta jika Farida yang saat ini adalah malaikat tak berkelamin. Namun, suara desahan panjang mengakhiri hidup sang pelanggan dengan cepat. Sungguh cepat, seolah tidak ada yang pernah mengalaminya. Farida keluar dari kamar itu dengan penuh kesal. Ia menggunakan bajunya, tetapi tidak mengancingnya. Para pelacur dapat melihat betapa kotornya Farida dalam waktu yang sangat singkat. Selain cairan kenikmatan yang menempel di tubuhnya, ada abu hitam yang turut menempel di kulitnya. “Pendosa sialan,” gerutunya, lantas berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang ketiga kalinya,

Farida tak takut akan hukuman yang menantinya. Sejak ia dicampakkan di muka bumi, ia sudah sadar itu. Oleh karenanya, apa pun yang terjadi selama ia bekerja sebagai malaikat pencabut nyawa, ia akan melakukan apa pun meskipun itu membuatnya berdosa.

“Lagipula tidak ada manusia yang tak berdosa. Kau juga begitukan, Maria?”

Lihat selengkapnya