Rumah Para Pelacur

Diva Aelah
Chapter #10

Maria

Farida memerintahkan seluruh pelacurnya untuk tidak mengganggunya, termasuk Dristhi dan Maria yang paling ia kasihi. Ia menatap tubuh telanjangnya di depan cermin, sembari memeluk tubuhnya yang mungil. Perlahan ia mengganti lekuk tubuhnya seperti perempuan, lantas menggantinya lagi sebagai laki-laki. Lalu dengan rasa penasaran, ia kembali dengan bentuknya sebagai malaikat tak berkelamin. Ia bercahaya, sayapnya lebar daripada tubuhnya sendiri. Namun, ia bukan serrafim, bukan pula jibril. Ia hanyalah malaikat yang berbuat dosa dan dilemparkan ke bumi selayaknya para manusia. Namun, dengan satu tujuan yang jelas, menarik nyawa para manusia. Semua khayalannya berbicara dengan Tuhan itu tidak nyata. Farida tidak pernah berbicara dengan Tuhan.

“Peergilah. Sudah kubilang untuk tidak menggangguku.” Farida berujar dair dalam. Ia dapat merasakan Dristhi yang berdiri di depan kamarnya yang terkunci.

“Para pelanggan …. Sedang menunggu.”

Farida memeluk tubuhnya lebih erat. “Maka layanilah mereka. Kalian bisa melakukan itu tanpaku.”

“Salah satunya mencari laki-laki.”

Farida dengan kesal lantas membuka pintu kamarnya. Tak mengacuhkan tubuhnya yang telanjang. Ia berlalu begitu saja menuju pintu depan. Di sana, delapan pelanggan sedang bersiap untuk dilayani di saat bersamaan.

“Kau bertemu para setan lagi?” Farida menoleh pada Dristhi dengan air wajah marahnya.

“Aku tidak pernah bertemu dengan para setan. Kau hanya salah paham. Jikapun aku pernah bertemu dengan para setamn itu pasti sebuah ketidaksengajaan. Maka tolong maafkan aku atas keacuhanku selama ini.’

Farida mencengkram tangannya dengan kuat, kemudian menarik satu pelaggan yang ia sadari menatapnya sejak tadi, lantas mereka bersenggama hebat di kamarnya sendiri. Para pelacur yang lain turut melakukan hal yang sama. Mereka bersenggama, mendesah, meremas payudara mereka, dan melepaskan kenikmatan bersama para pelanggan mereka. Semua pelanggan itu adalah pendosa yang membuat seluruh tubuh para pelacur menghitam.

***

Farida terdiam kembali di kamar mandinya. Menatap kotoran hitam yang terus menempel di jari kelingkingnya dan tak bisa dibersihkan. Sebab pendosa yang bersenggama dengannya tadi terus tidak menepati janjinya sehingga setiap ia beringkar, semua dosanya melekat pada Farida. Pintu kamar mandi perlahan terbuka, menampakkan sosok tubuh telanjang Dristhi yang penuh noda hitam.

“Farida …. Tolong aku.”

Lihat selengkapnya