Cillia diidap kutukan. ia tidak menyadarinya ketika bersenggama dengan para pelanggan beberapa waktu lalu. Kutukannya berada di punggung belakangnya, dekat dengan tulang sayapnya. Farida membawa Cillia ke ruang kremasi. Di sana, ia dapat merasakan jika yang terjadi pada Cillia bukan hanya karena dosa para pelanggan. Melainkan kelibatan oleh para setan.
“Jujurlah kepadaku, Cillia. Apa yang kau lakukan!” teriak Farida seketika. Untuk pertama kalinya ia berteriak kepada para pelacurnya. Barangkali sebab Cillia yang baru ini adalah pelacur muda. Ia masih sangat labil dan bisa melakukan kejahatan apa saja dan kapan pun tanpa disadarinya.
“Aku tidak melakukan apa pun!”
Penyucian kali ini sangat menyulitkan, sebab ia sendirian dan tidak ad apelacur lain yang ingin terlibat dalam penyucian. Satu-satunya yang akan terjadi adalah Farida akan ikut terkena kutukan tersebut dan menyakiti para pelacur lainnya jika Cillia tidak mengakui dosa-dosanya.
“Kepada siapa kau tunduk?”
“Asmodeus. Tidak! Maksudku padamu!”
Mata Farida terbelalak kaget mendengar kenyataan tersebut. Ia tidak pernah menyangka jika salah satu pelacurnya berkhianat. “Cillia, kulepaskan engkau dari pelacurku. Maka tunduklah engkau kepada kejahatan.” Dengan sakit, Farida menarik jiwa Cillia dengan kasar. Membuat tubuh wanita itu terpaku kaku di lantai dengan kutukan yang masih menempel di sana. jiwa Cillia dibebaskan kembali dan menjadi jiwa tersesat yang mengikuti para setan.
Asmodeus, setan yang bekerja atas hawa napsu seksualitas. Para jiwa pelacur yang tersesat dan memilih Asmodeus sering menjadi pengikut yang tersiksa. Tidak ada yang benar-benar bahagia setelah menjadi pengikut para setan. Mereka terjebak dalam kekacauan dan kebutuhan akan seks yang luar biasa dan berakhir tragis sebagai anjing-anjing Asmodeus.
“Aku tidak akan mencari pelacur lagi. Biarlah hanya kalian berenam yang tersisa bersamaku.” Farida berbicara seperti anak kecil yang merajuk kepada orangtuanya. Namun, Dristhi dan Maria kembali teringat jika mereka hanyalah pengasuh Farida selagi ia masih hidup.
***
Farida memeluk Dristhi dengan erat sembari mengeluarkan tangisan terakhirnya. Kukunya menggires kulit Dristhi dengan kasar, meninggalkan jejak betapa ia menangis selayaknya anak kecil yang tak ingin ditinggalkan oleh siapa pun. Setelah ditinggalkan oleh para pelacur generasi pertama, ia kembali ditinggalkan dan dikhianati oleh dua pelacur bernama Cillia. Hatinya seperti pecah beling, tidak bisa dirangkai berulang kali, tak bisa dilem ratusan kali. Apalagi diperbaiki. Farida adalah malaikat maut yang paling menyedihkan yang hidup di dunia saat ini.
“Tak seharusnya kau terus begini.”