Rumah Para Pelacur

Diva Aelah
Chapter #12

Untukmu Seratus Tahun Yang Lalu

“Apa kau akan meninggalkanku?”

Seratus tahun yang lalu, Dristhi masih sangat kecil seperti bayi yang baru berusaha tumbuh setelah sekian lama Farida berhasil meniupkan jiwa itu masuk ke dalam sebuah tubuh yang cocok. Farida menatap Dristhi yang sedang menulis di kamarnya sendiri, tengah belajar baca tulis untuk membantunya. Pertanyaan itu muncul dari Farida setelah ia menyadari jika suatu waktu para jiwa benar-benar akan melewati alam dunia dengan segera, tepatnya ketika kiamat. Mungkin Farida tidak siap untuk itu.

“Apa kau akan membiarkanku pergi jika sudah waktunya?”

Farida terdiam mendengar pertanyaan tersebut. “Aku yang bertanya di sini.” Ia menekankan, tidak ingin menjawab pertanyaan Dristhi.

Drithi terdiam, dan menatapnya dengan serius. Ia menjatuhkan penanya. Kaki-kaki kecilnya itu mendekat pada Farida. “Aku tidak akan meninggalkanmu jika bukan kau yang memintaku.”

Jawaban itu lantas selalu dikenang oleh Farida. Ia mengingat bagaimana hari itu sedang terjadi. Baju apa yang ia kenakan atau Dristhi kenakan. Bagaimana air wajah Dristhi menunjukkan tidak adanya keraguan di sana. Farida mengingat setiap detik yang ada di waktu itu. Ia tidak peduli dengan yang lainnya selain itu Dristhi yang hidup dengannya lebih lama. Bahkan ia dengan sengaja membuat pertumbuhan Dristhi lebih lambat daripada para pelacur lainnya. Seratus tahun itu waktu yang panjang, tetapi tidak pernah disadari oleh Dristhi jika waktu telah berlalu selama itu.

“Farida apa kau ingat meletakkan tubuh Sakshi di mana?”

Seratus tahun telah berlalu, atau mungkin sudah mencapai seratus lima puluh tahun sejak rumah bordil merah berdiri. Terkadang kelabu masih mengisi kepala Dristhi. Ia masih merindukan teman-teman lamanya. Namun, ia terus menahan dirinya dan selalu berdoa yang terbaik untuk mereka. Lantas, ia satu persatu mulai membuat makam untuk mereka di halaman belakang rumah.

Farida menoleh kepadanya, dengan tak acuhnya ia menjawab, “Tubuhnya dibawa para setan saat aku membebaskan seluruh benang para pealcur. Tubuh yang tersisa adalah mereka yang kupanggil. Sedangkan Sakshhi tak menjawabku saat itu. Jadi … tubuhhnya menghilang.”

Dristhi terdiam lemas mendengarnya. Mengingat bagaimana ia tumbuh bersama mereka semua, membuatnya merasa lebih sedih daripada siapa pun di rumah itu. Perlahan tubuhnya dipeluk oleh Farida. Rasa sedih itu tak bisa ia biarkan menenggelamkan Dristhi. Oleh itu sebabnya, ia terus berusaha menenangkan Dristhi dengan cara pa pun, suapaya wanita itu tidak pernah meninggalkannya.

“Belakangan ini kita tidak memiliki pelanggan. Apakah ini adalah pertanda bahwa para setan sedang membujuk para manusia?” tanya Dristhi berusaha mengabaikan perasaan sedih yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Lihat selengkapnya