Farida menatap tubuh Dristhi yang terbaring lemas di atas kasurnya. Para pelacur yang lain menunggu di luar kamar, berharap jika yang paling pertama hidup untuk kedua kalinya di antara mereka akan baik-baik saja. Saat Farida merasakan seperti benang yang akan putus, ia berlari dengan cepat menuju sisi Dristhi.
“Kenapa kau tak memanggilku?” tanyanya penuh rasa lemas dan penyesalan setelah membiarkan egonya memakan dirinya.
Dristhi menggenggam tangan Farida dengan lembut. “Aku ingin kau merasakan bagaimana menjadi manusia. Sebab, selama ini yang kau lakukan masih belum sampai ke sana. Farida, di antara hidup dan mati, manusia berdiri di antara tengah-tengahnya. Mereka yang memutuskan untuk hidup atau memilih mati. Oleh sebab itu—“
“Kau pikir Rania tak menginginkan hidup untuk kedua kalinya?”
“Mungkin saja. Farida, aku juga sudah lelah untuk hidup.”
Farida menatap Dristhi dengan ngeri. Rasa takut yang selama ini ia pendam meledak. Membuat semua para pelacurnya merasakan hal yang sama. Tidak ada lagi rasa aman di dalam hatinya. Hanya ada rasa takut.
“Kau berjanji saat itu untuk tidak meninggalkanku.”
Dristhi terdiam. Rasa takut yang tersalurkan dari Farida membuatnya turut tidak tenang. Rasa sedih pun menjalar, membuat Farida merasakan segalanya yang selama ini tertahan.
“Maria akan meninggalkanmu juga. Kenapa kau tak melihatnya? Kupikir selama ini ia terus mencari perhatianmu,” ujar Dristhi. Ia selalu berharap jika Farida memang akan selalu memperhatikannya, tetapi saat ini mereka hidup bersama. Ia ingin rasa kasih sayang itu juga didapatkan untuk para pelacur yang lain. Sebab, hidup dan mati mereka tidak akan ada yang tahu.
“Dia selalu ingin meninggalkanku.”
“Apa kau akan membiarkannya?”
Farida terdiam. Perlahan ia merasakan betapa kekanak-kanakan dirinya. Seperti melihat Dristhi kecil. Rasa sakit itu seperti tidak bisa membuatnya tenang. Mengingat bagaimana Dristhi kecil pernah mengakhiri hidupnya. Tidak ada yang lebih menyakiti hatinya daripada kesedihan Dristhi. Berbeda dengan para pelacur yang lain. Oleh sebab itu ia terus memberikan perhatian khusus kepada Dristhi. Sebab ia tidak ingin kehidupan kedua Dristhi merasakan hal yang sama.
Kemudian, Farida berdiri dari tempatnya dan keluar dari kamar Dristhi. Membiarkan pintunya ternganga dan terlihat oleh para pelacur yang lain. Farida bergegas menuju kamar Maria dan menguncinya.