Rumah Para Pelacur

Diva Aelah
Chapter #15

Para Pelacur dan Kesendiriannya

“Selamat datang di rumah bordil merah. Kepada siapa anda ingin hari ini?”

Maria menyambut satu pemuda yang diperkirakan masih mahasiswa. Ia merasakan perasaan yang tidak menyenangkan sejak Farida jatuh sakit. Ia menjadi lebih sensitif, padahal sudah enam bulan berlalu sejak Farida menerima sakit Nillia. Mungkin perasaan tersebut muncul sebab ia semakin mengasihi orang-orang yang datang ke rumah bordil merah, karena mereka akan berpulang hari itu.

Pemuda itu menatap dirinya cukup lama, meskipun ia menatap pelalcur yang lain, ia tetap menatap Maria.

“Baiklah, kalau begitu mari saya antar anda ke kamar.”

“Farida!”

Tatapan Maria beralih saat menatap pria yang lebih tinggi darinya dan sedikit berkumis keluar dari kamar Farida. Ia sudah bertukar tubuh lagi untuk menjadi lebih baik. Namun, seruan dari Dristhi terhadap panggilan Farida itu membuatnya merasa aneh. Aneh, sebab mata Farida berubah menjadi merah.

“Aku tidak apa. Bawa pelangganmu ke kamar,” ujar Farida dengan suara yang berat.

Untuk ketiga kalinya Farida bertukar tubuh dan Maria tetap tidak terbiasa pada setiap perubahan itu. Namun, mendengar perintah Farida, ia membawa pelanggannya ke kamar dan mulai bercinta di waktu pukul sebelas malam. Di waktu itu, Farida berusaha menguatkan instingnya terhadap waktu yang berlalu.

“Apakah tubuh ini lebih baik menurutmu?” tanya Farida. Ia menatap Dristhi dengan lembut, seolah ia sangat merindukan kekasihnya itu.

“Jika kau terus berubah menjadi laki-laki, kupikir kau tak akan cocok dipanggil mucikari, Farida.”

Farida tertawa lepas dengan suara beratnya itu. “Kupikir ini akan lebih cocok, mengingat umurku yang tak lagi muda. Sebaiknya aku mulai menyesuaikan diri supaya tubuhku ikut berubah seiring berjalannya waktu.”

“Farida …. Kamu baik-baik saja?”

Farida mengalihkan pandangannya dan menatap Nillia dengan lembut. “Aku tak apa. Sudah kubilang, kan, ini bukan salahmu. Kau sudah merasa lebih baik?”

Nillia mengangguk, lantas mendekat untuk memeluk Farida. “Kau masih saja seperti anak kecil. Apakah kau sudah merawat tanamanmu dengan baik? Aku ingin beristirahat sejenak di sana.”

“Aku merawat mereka dengan baik. Aku akan membuatkanmu teh.” Lantas Nillia berlalu dan pergi menuju dapur.

“Dristhi, ada yang perlu kubicarakan denganmu.”

Lihat selengkapnya