Rumah Para Pelacur

Diva Aelah
Chapter #16

Membuat Keputusan

Dristhi tak ada di ruang tengah saat para pelacur lain sedang berkumpul untuk menentukan apakah mereka akan pergi ke sisi-Nya atau menetap sebagai pelacur dan mengikuti segala perintah Farida. Ia juga tidak ada di kamarnya, tidak ada yang tahu keberadaannya, mungkin saja Farida tahu.

“Maria.”

“Sudah kupanggil tadi. Sepertinya dia marah padamu, sebab dia tidak ada di kamar.”

Saat ini ada dua hal yang ssedang mengganggu Farida. Pertama para setan yang akan segera kembali, lalu Azael yang akan menjemput mereka semua sebelum para setan menghancurkan mereka semua. Tentunya Farida akan memilih Azael untuk menjemput Para Pelacurnya daripada dihancurkan oleh para setan-setan.

“Kalau begitu kita akan mulai saja. Kehadirannya tidak akan merubah apa pun.” Farida bersuara. Ia menatap sleuruh pelacurnya. “Maria, Ila, Nillia, Kalia. Aku sudah memikirkannya selama aku menyembuhkan diri. Kupikir aku akan menutup rumah bordil merah. Aku akan mengembalikan kalian kepada-Nya. Malaikat pencabut nyawa yang sesungguhnya akan menjemput kalian. Namun, Dristhi berkata jika sebaiknya kita tidak tutup dan tetap melanjutkannya. Namun, aku tidak ingin kalian merasakan sakit lagi. Oleh karena itu akan ada tiga keputusan. Pertama, menetap di rumah bordil ini, tetapi aku akan pergi. Yang kedua, Azael akan menjemput kalian sebagai malaikat pencabut nyawa. Lalu yang ketiga, aku yang akan mengantarkan kalian pergi seperti Rania kemarin. Aku akan melepaskan keputusan ini kepada kalian. Satu persatu sesuai keinginan kalian.”

Nillia menatap para pelacur yang lain sebelum akhirnya ia berbicara. “Apa yang terjadi pada kami jika menetap?”

“Sebab aku akan pergi, kalian tak lagi melayani orang-orang yang akan mati. Namun, tubuh kalian juga tidak akan bertahan lama. Perlahan akan rusak sebab tidak menerima asupan apa pun dari kekuatanku.”

Semua para pelacur terdiam. Tidak ada yang pernah tahu apa keinginan mereka setelah dihidupkan untuk kedua kalinya. Mereka semua bergantung hidup kepada Farida. Jika keputusan tersebut bulat, mereka hanya akan mati dalam kekosongan tanpa tujuan yang jelas.

“Kupikir keputusan Dristhi juga dibutuhkan di sini. Tanpa dia kami juga tidak bisa memutuskan semuanya sendiri.”

Farida mengalihkan pandangannya kepada Kalia. Mendengar keputusan itu membuat hatinya sedikit terkutuk. Ia tidak tahu seberapa pentingnya Dristhi dalam pengambilan keputusan di antara para pelacurnya.

“Menetaplah, Farida.” Maria bersuara. Ia menatap Farida dalam-dalam, berusaha memberikan perasaannya kepada Farida dengan apa pun yang telah terjadi. “Rasanya tidak adil setelah kau hidupkan kami untuk yang kedua kalinya, kemudian pergi begitu saja. Seperti kau tidak bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan kepada kami.”

“Bukan begitu—“

Lihat selengkapnya