Rumah Para Pelacur

Diva Aelah
Chapter #17

Kallia

Kallia adalah anak yang dibunuh oleh orang tuanya sendiri saat berumur tiga tahun. Ibunya membayar pembunuh untuk membunuhnya sebab ia tidak ingin memiliki catatan kriminal. Selama menjadi pelacur ibunya tidak pernah tahu siapa ayah Kallia, oleh sebab itu ia membenci anaknya sendiri. Kallia tidak pernah merasakan cinta dari orangtuanya. Oleh karena itu,s aat ia dihidupkan kembali oleh Farida ia tidak pernah menentangnya, justru ia menganggap Farida sebagai orang tuanya sendiri meskipun ia berakhir seperti ibunya. Menjadi seorang pelacur.

“Sudah delapan tahun yang lalu sejak aku menemukan jiwamu,” ujar Farida. Keduanya kini tengah berjalan mengelilingi kota yang untuk pertama kalinya bagi Farida keluar dari rumah bordil merah setelah puluhan tahun. Sudah lama ia tidak merasakan gemercik panasnya matahari atau suara-suara di kerumunan. Terkadang hal seperti itu cukup mengganggu psikisnya.

“Bagaimana kondisi tubuhku?”

Farida mencengkram bajunya dengan erat. Mengingat kembali bagaimana tubuh Kallia hancur, terpotong dengan darah yang bercucuran kemana-mana. Ingatan itu membuat tubuhnya menjadi tidak sehat dan mengingatnya bahwa masih ada enam pelacur lain yang harus ia ingat bagaimana kematian mereka dan tubuh mereka berakhir,

“Kallia, apa pun yang kamu lihat, kuharap kamu tidak membenci siapa-siapa, termasuk ibumu.”

Kallia terdiam sejenak, ia menghentikan langkah kakinya. “Aku tak ingat banyak tentang ibuku. Tapi, entah mengapa aku rasa aku mencintainya. Sebab yang pertama kali ia katakan adalah, dia mencintaiku.”

Farida menoleh ke belakang, rasa sesak di hatinya melekat sebab rasa cinta yang paling murni adalah anak terhadap orangtuanya. Tidak ada yang pernah bisa memilih orangtua mereka dan tak ada pula yang bisa memilih anak mereka, tetapi rasa cinta yang tumbuh begitu saja membuat rasa sesak di dada Farida melekat. Mungkin karena ibu Kallia yang terlanjur jahat kepada gadis mungil itu.

Kemudian Farida lanjut berjalan kecil, menahan rasa sedih di hatinya yang tidak pernah ia keluarkan untuk para pelacurnya. Namun, kini Farida sendiri telah menjadi pria dewasa. Ia merasakan perasaan aneh, tetapi memiliki pikiran yang paling logis untuk hidupnya saat ini. Tidak ada yang bisa menaklukkan itu semua, mungkin termasuk dirinya sendiri.

“Aku menemukanmu di sini.”

Kallia menegakkan kepalanya sejenak, memastikan jika Farida tidak salah tempat atas posisi kematiannya dahulu. Di dalam koper, di antara semak-semak. Delapan tahun sudah berlalu, tetapi tidak ada yang pernah menemukan raganya di antara semak-semak hutan. Farida perlahan menarik koper tersebut dan berusaha untuk menyeretnya.

“Ayo pulang. Dristhi akan menguburkanmu dengan baik.”

***

Lihat selengkapnya