Waktu itu musim panas. Nillia terkena demam tinggi. Ia hidup sendirian sehingga saat ia menuju ajalnya tidak ada yang mengetahui kematiannya, sebab ia telah menjauh dari keluarganya. Musim panas hari itu adalah saat di mana Nillia tidak bisa melepaskan diri sebab ia mencintai kekasihnya dan belum sempat mengucapkan kalimat terakhir.
“Kupikir dia selalu mengunjungi makammu.” Farida bersuara. Mereka tengah berjalan jauh dari rumah bordil merah. Sangat jauh, lebih jauh dari tempat Farida menemukan Kallia. Sebab, sudah lama sekali ia menemukan Nillia, tetapi ingatannya tetap yang paling kuat. Ia akan tetap menemukan tubuh lama para pelacurnya.
“Kekasihku?”
Farida mengangguk perlahan. “Kau tahu, aku sangat menyukai lukisanmu yang berdoa itu. Tidak peduli apa pun yang terjadi, terus berdoa memang bukan pilihan yang buruk. Lalu, saat Dristhi merawatmu, aku memantaunya, kekasihmu.”
Nillia mengernyitkan dahinya kebingungan. “Apa maksudmu?”
“Dia menyayangimu ah, mungkin itu cinta. Maksudku dia sangat mencintaimu. Beberapa jam setelah kepergianmu, dia yang pertama kali menemukan jasadmu. Ia menggunakan seluruh sisa uangnya untuk memakamkanmu.”
Mereka sampai di pemakaman umum. Pemakaman yang entah berapa kilo jauh yang tak bisa kusampaikan. Di sana, mereka berdua terdiam, menatap sosok pria yang duduk di sebelah batu nisan yang masih basah dan wangi dengan bunga-bunga di atas tanahnya.
“Dorio.”
Farida tersenyum kecut mendengar nama yang masih diingat oleh Nillia hingga puluhan tahun.
“Apa dia sudah menikah:?”
Farida terdiam sejenak. “Kudengar dia tidak menikah. Aku terus menghubungkan benang antara diriku dan tubuh lama kalian sehingga bisa menemukannya kapan saja. Di saat yang bersamaan aku bisa mendengar apa saja yang terjadi di sekitar kalian. Dorio berkata jika ia tidak bisa berpindah hati darimu. Hingga ia terus berkesenian dan menyeret namamu dalam karyanya. Nillia …. Bukan, Daisy, itu nama yang sangat indah.”
Nillia terdiam di tempatnya cukup lama, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mendekati Dorio dan duduk bersebrangan dengan pria itu. Keheningnan mengisi di antara mereka berdua.
“Maaf, apa kamu temannya Daisy?” Dorio bertanya.
Nillia menggigit bibir bawahnya cukup keras, berusaha menahan sisi emosionalnya lebih dari siapa pun yang ada di tempat itu. “Ya. Aku temannya dan aku adalah pelacur dari Rumah Bordil Merah. Kau pasti Dorio.”
Dorio mengernyitkan dahinya kebingungan. “Daisy tidak pernah menceritakan tentang temannya yang pelacur.”