Pelacur itu hidup dalam kandungan ibunya. Dikandung dalam rasa benci sebab tidak diketahui siapa ayahnya. Sejak awal Ila sudah hidup di dalam distrik para pelacur dengan penuh benci oleh ibunya sendiri. Lalu ketika sudah masuk umur legal, ia dibiarkan melayani para pelanggan oleh mucikari yang begitu menyeramkan. Menurutku seram dalam konotasi ini berbeda dengan Farida yang dahulu disebut mucikari gothic.
“Apa ibu membenciku?” Itu adalah pertanyaan terakhir dari Ila sebelum akhirnya ia meninggal dibunuh oleh pelanggannya sendiri dan ibunya tidak pernah menjawab pertanyaan tersebut. Ila mati dalam rasa penasaran.
“Aku benci musim dingin,” ujar Farida pelan. Kemudian ia menoleh pada Ila yang murung dan tidak tahu apa yang membuatnya begitu suram. Air wajahnya tidak bisa ditebak, tetapi di dalam hatinya sudah terasa bahwa ia tidak ingin menemukan tubuh aslinya sendiri.
“Saat itu kau seperti menunggu jawaban. Maksudku hingga saat ini masih menunggu jawaban. Dari ibumu.”
Ila menegakkan kepalanya perlahan, tatapannya yang kosong memberikan rasa ngeri pada Farida. “Apa kau ingin bertemu ibumu saja? Kudengar dia masih hidup dan menikah dengan seorang pria kaya raya.”
Ila mengernyitkan dahinya. “Kau tahu keberadaannya?”
“Kemungkinan. Sebab dia ibu yang menyebalkan.”
Farida tak pernah membenci para perempuan. Ia sangat menghormati para perempuan sejak ia berubah wujud untuk yang kedua kalinya. Saat menjadi pria muda yang tampan. Hari itu ia melihat seorang ibu melahirkan anak yang begitu menyedihkan. Namun, ibu itu tidak membencinya, ia justru menciumnya dan memeluknya dengan penuh kegirangan. Hanya saja, saat ia mengetahui beberapa orangtua dari para pelacurnya adalah keparat, ia sering merasa benci pada beberapa perempuan. Terutama kepada mereka yang tidak bertanggungjawab.
Keduanya lantas berjalan jauh dari distrik pelacur menuju pemukiman warga. Dari tempat mereka berdiri, berupa perumahan terlihat begitu jelas dari pandangannya. Perumahan yang sangat padat dan akan sulit menemukan orang-orang hanya dengan melihat dari tempat mereka berdiri.
“Di sana, rumah besar di pinggiran sana itu rumah ibumu. Ia sudah memiliki tiga anak lagi. Jadi kupikir sebaiknya kau tidak oergi sendirian.” Namun, berlum sempat Farida selesai berbicara, Ila sudah berlari menuju rumah yang ditunjuk oleh Farida itu, membuat sang malaikat terdiam dan menghela napas panjang. Farida perlahan mengikutinya hanya dengan berjalan dan membiarkan Ila mengambil keputusan paling liar yang ada di kepalanya.
Ila mengetuk pintu rumah besar berwarna putih itu sebanyak tiga kali, tetapi terus ia ulangi hingga pintu rumah terbuka. Menampakkan sosok pria berumur dua puluh tahunan yang tampan seperti Farida yang dahulu.”
“Apa ada Ghania di sini?”
“Ibuku? Ya, ada. Tapi dia sedang istirahat, tubuhnya sudah tidak lagi kuat. Maaf, anda ini siapa?”