Rumah Para Pelacur

Diva Aelah
Chapter #20

Maria

“Kau tidak ingin menemukan tubuhmu?”

Maria mengangguk perlahan. Ia menatap sosok Farida yang masih terlihat kelelahan setelah membantu ketiga para pelacur untuk menemukan jasad mereka. Namun, Maria tahu jika ia telah dikebumikan sesaat setelah ia meninggalkan dunia, sebab semua orang tahu itu. Untuk saat ini ia tidak memiliki keinginan apa pun untuk dituruti oleh Farida.

“Bagaimana jika kita berbicara saja? Di sebuah tempat di man tidak ada pelacur lain yang bisa mendengar kita?” tanya Maria perlahan. Ia tersenyum kopong kepada Farida, menunjukkan jika ia tidak memiliki permintaan serius.

“Boleh saja.”

Maria terdiam sejenak. I tidak menyangka Farida akan menjawabnya dengan sesederhana itu tanpa ada keraguan. Mungkin pertengkaran hebat mereka memang sudah berakhir dan tidak ada yang bisa mereka berdua keluhkan lagi.

Lantas keduanya berlalu menuju warung kopi yang tidak terlalu ramai. Namun, didengar-dengar ada banyak yang senang datang ke tempat itu. Maria menatap kopi panasnya yang ada di atas meja. Farida sudah meminumnya dengan perlahan. Mungkin untuk pertama kalinya juga Farida datang ke tempat seperti ini. Sejak dahulu ia selalu menghindari tempat penuh manusia sebab itu akan membuatnya sakit dengan mudah. Mungkin kali ini, Farida yang saat ini adalah manusia yang lebih manusia.

“Apa rencanamu setelah ini?” Maria membuka suara. Ia mengerti setelah Kallia diseret oleh Azael, bahwa jiwa mereka tidak akan bertahan lama di dunia ini. Beberapa waktu, mungkin hanya tinggal menunggu sampai akhirnya mereka semua akan diseret oleh Azael.

Farida terdiam sejenak hingga akhirnya ia menatap beberapa orang yang berlalu lalang dari jendela. “Entahlah. Hidup hingga Dia menghidupkan semuanya lagi.”

“Kau akan membiarkan kami dibawa oleh Azael?”

Farida mengangguk dengan cepat tanpa keraguan. “Sudah seharusnya begitu. Aku hanya akan menyiksa kalian lebih lama jika terus hidup bersamaku. Kedatangan Azael adalah berita baik, sebab kalian tak lagi menjadi jiwa tersesat yang tidak diterima di akhirat maupun oleh bumi. Maka bersyukurlah, sebab itu menandakan jika Dia telah memaafkan kalian.”

Maria tak berkutik. Ia tidak bisa membalas apa-apa. Yang ia pikirkan hanyalah harapan jika semua yang dikatakan Farida adalah kebenaran. Bahwa ia akan benar-benar di maafkan setelah semua hal yang ia lakukan dahulu. Mekipun berat untuk meyakininya.

“Farida …. Aku—“

“Aku dengar anakmu masih hidup. Apa kau ingin bertemu dengannya?”

Mata Maria terbelalak kaget mendengar fakta tersebut. Aroma kopi di atas meja seperti menghilang, lidahnya kelu, hidungnya kehilangan indera penciuman. Entah bagaimana menjelaskannya, Maria seperti tidak ingin mempercayai fakta tersebut. “Dari mana kau bisa tahu semua itu? Tentang kami? Tentang masa lalu kami? Apa yang kau lakukan pada tubuh kami?”

Farida menghela napas panjang. “Maria apa kau bisa menjaga rahasia?”

Lihat selengkapnya