Rumah Para Pelacur

Diva Aelah
Chapter #21

Dristhi

“Hei.”

Dristhi duduk di halaman belakang rumah dengan pandangan kosong. Pupil matanya terarahkan pada makam-makam para pelacur lama yang pernah hidup bersamanya. Meskipun umurnya tak sepanjang umur Farida, tetapi ialah satu-satunya yang mendekati Farida. Berumur panjang. Saat Farida memanggilnya, ia menoleh sejenak, tersenyum tipis kemudian kembali menatap makam-makam. Di sana ia terus berpikir kapan kah saatnya akan tiba. Dristhi tidak pernah tahu itu.

“Aku bermimpi. Musim panas yang sama saat kau menemukanku. Hari itu, kau tidak membawaku.” Maria bersuara. Hening sejenak di antara mereka. “Farida, mungkinkah umurku juga tak panjang?”

Farida mengambil duduk di sebelah Dristhi. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya merangkul Dristhi dan membawa kepalanya itu beristirahat di bahunya. “Fakta sedihnya adalah bahwa manusia memang tidak berumur panjang. Namun, aku dan para malaikat lain juga tidak berumur panjang. Akan tiba hari di mana nyawa kami juga akan dicabut.”

 “Lalu, kapan hari kita akan bahagia bersama?”

Farida terdiam cukup lama, tidak mau memberikan jawaban yang seakan memberikan harapan kepada Dristhi. Sebab ia mencintai Dristhi dan ia bukanlah Grigori. Hanya saja, semuanya terasa berat. Satu-satunya yang belum memberikan permintaan terakhir hanyalah Dristhi. Jika Dristhi meminta untuk pergi dari sisinya, maka tugasnya sebagai mucikari telah berakhir dan ia akan segera melepaskan para pelacur yang lain seperti dahulu kala.

“Suatu hari nanti. Akan tiba waktunya kita bersama, selamanya.”

“Maka itu adalah permintaanku. Untuk bersamamu sampai hari akhir nanti.”

Farida terdiam kembali. Ia menyentuh dahi Dristhi dengan perlahan dan membiarkan cahaya terpusat pada satu titik. Dengan demikian, Dristhi kehilangan kesadarannya. Perlahan Farida menggendong tubuh itu dan membawanya ke dalam kamar Dristhi. Di sana ia baringkan Dristhi dengan lembut dan membiarkannya terlelap.

“Apa kau membuatnya membeku?”

Farida menoleh ke asal suara. Maria berdiri di depan pintu seolah telah mengetahui segalanya. Farida membelai wajah Dristhi dengan lembut. “Itu adalah permintaan terakhirnya.”

“Kau blang kau bukan para pengawas.”

“Memang. Aku hanyalah malaikat yang terjatuh.”

“Farida, jika kau memang Lucifer, maka apa yang akan kau lakukan saat Azael datang nanti?”

Farida mencengkram bajunya dengan erat, jawaban yang pasti ada di hati dan pikirannya, tetapi entah bagaimana ia seperti ragu dengan semua keputusan itu. Namun, ia ingin sekali menghentikan semua permainan yang ia lakukan ini. Ia ingin mengakhiri Rumah Para Pelacur yang telah tersisa empat pelacur. Akhir bagi para pelacur sudah berada di depan mata.

Lihat selengkapnya