Rumah Para Pelacur

Diva Aelah
Chapter #23

Pulang

“Halo para manusia. Kita kembali ke dalam sisi-Nya. Untuk bercerita, untuk mengadu, untuk melakukan apa pun yang kita inginkan kepada Yang Maha Esa. Sebab dialah satu-satunya yang paling mengerti kita.”

Mungkin ada banyak ajaran sesat di luar sana yang sedang marak. Musim panas menyengat, menyadari Farida dari tidur panjangnya. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, yang pasti bukan satuan lagi. Ini sudah terlampau ratusan tahun yang berlalu. Rumah mereka telah hancur ditimpa pohon. Syukurnya barier Farida menyelamatkan dirinya dan Dristhi. Farida tidak menjadi Grigori, ia bersyukur atas semua waktu yang telah berlalu dan ia mampu menahan nafsunya sendiri.

Perlahan Farida menyentuh dahi Dristhi, membuat wanita itu perlahan terbangun dari tidur panjangnya. Farida memperhatikan setiap lekukkan tubuh Dristhi hingga ia menyadari jika tubuh Dristhi telah termakan waktu. Kulitnya pucat pasi, ditambah beberapa lebam yang entah dari mana munculnya. Dristhi yang terbangun tersenyum hangat kepada Farida, ia mendekatkan dirinya dan memeluk Farida dengan erat.

“Dristhi, ini sudah waktunya untuk kita pulang.”

Dristhi terdiam, kemudian melepaskan pelukannya. Ia menatap Farida penuh dengan ketidakpercayaan. Sebab, ia baru saja bangun dan ia belum sempat melakukan hal yang menyenangkan bersama Farida.

“Kita akan pergi bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.”

“Farida, aku tidak ingin pergi. Kematian begitu menakutkan.”

Farida terdiam, ia menggenggam tangan Dristhi cukup erat. “Kali ini tidak akan semenakutkan dulu. Aku berjanji.”

Farida itu ringkih, tetapi Dristhi jauh lebih ringkih. Mereka berdua adalah pasangan yang malang.

***

Farida

Aku mencintainya lebih dari siapa pun. Sebab aku yang pertama kalinya yang mencintainya dengan sepenuh hati. Setelah ia menjadi jiwa tersesat di umur kecilnya, tiga tahun, aku merawatnya seperti kekasih hatiku. Di saat jiwanya tersesat, sekitar sembilan belas tahun yang lalu. Dristhi ditemukan di antara ilalang, tengah melalang buana mencari Sang Maha. Ia terjebak di dalam tubuh seorang wanita berambut merah yang tinggi juga manis. Kulitnya sewajarnya perempuan di negara tropis. Namun, aku menyayanginya sejak pertama kali bertemu. Sebab jiwanya begitu kecil sehingga kapan pun bisa menghilang. Kendatipun, butuh waktu yang panjang agar ia terbiasa dengan tubuh barunya. Aku terus menjaganya, seperti mengurus bayi yang baru lahir hingga bisa berjalan kembali. Sebab, Dristhi meninggal di umur yang sangat muda. Saat menyadari hal tersebut, Aku sebenarnya enggan membuatnya bekerja sebagai pelacur, tetapi sudah menjadi tugasku untuk membuat rumah bagi para jiwa yang tersesat. Dristhi hidup lebih baik daripada pelacur lain maupun kehidupannya yang sebelumnya. Bahkan di lingkungan pelacur, ia sangat disukai sebab keramahannya sebagai manusia.

Lihat selengkapnya