Rumah Penghapus Ingatan

Kartini F. Astuti
Chapter #1

63.971 Hari Berdiri

Orang-orang pikir rumah itu benda mati. Diam. Cuma numpang berdiri. Nggak punya pendapat soal siapa yang keluar-masuk lewat pintunya.

Mereka jelas belum pernah kenalan sama aku.

Hai, namaku Rumah Ingatan. Atau panggil saja Rumemo. Usiaku 175 tahun lebih 3 bulan dan sudah ditawarkan ke 7 keluarga. Alamatku, hm, kayaknya tukang pos bakal sulit menemukannya kalaupun aku kasih alamat ke kalian.

Aku sudah berdiri di ujung gang ini lebih lama daripada tetangga di kanan kiriku. Jangan bilang aku rumah tua, meskipun emang iya. Itu jenis kalimat yang biasanya dipakai hantu-hantu di sinetron buat kesan serem. Maksudku sederhana: aku sudah lama sekali menunggu penghuni.

Aku nggak nyari orang. Itu penting dicatat sejak awal, soalnya nanti bakal ada yang bilang aku "memangsa" atau "mengincar”. Jujur saja, itu agak menyakiti perasaan. Aku cuma menunggu. Persis kayak toko kelontong yang bukanya dua puluh empat jam. Nggak pernah teriak-teriak manggil orang lewat, cuma nyalain lampu, buka pintu dikit, dan percaya bahwa cepat atau lambat, ada yang butuh masuk.

Yang datang ke sini selalu orang yang capek. Bukan capek biasa. Bukan capek abis lari pagi atau capek kerja lembur. Capek yang lain. Capek yang bikin orang berhenti nanya "kenapa" dan mulai nanya "gimana caranya biar berhenti sakit."

Aku suka dengerin mereka sebelum mereka sadar aku dengerin.

Malam ini, misalnya. Ada yang jalan sendirian, menyusuri gang yang katanya sudah dia hafal. Padahal dia belum pernah nemuin aku. Aku memang nggak menampakkan diri ke sembarang orang. Cuma ke yang capeknya sudah pas takarannya. Terlalu sedikit capek, mereka bakal lewat begitu saja, nggak nyadar ada cahaya di ujung gang. Terlalu banyak capek, kadang mereka udah nggak sanggup jalan sampai sini.

Anak ini pas. Aku bisa dengar dari jarak yang bahkan dia sendiri nggak sadar aku bisa dengar. Langkah kakinya yang berat tapi masih nekat, napasnya yang ditahan biar nggak jadi tangisan di tengah jalan. Dan satu hal lagi, yang paling aku suka: dia masih punya sisa harapan, sekecil apa pun, yang belum sepenuhnya mati.

Orang-orang yang harapannya sudah benar-benar habis, anehnya, nggak pernah bisa nemuin aku. Aku butuh sedikit harapan yang tersisa buat bisa mulai kerja sama.

Lihat selengkapnya