Wajah sembap dengan bekas luka itu. Aku tahu datangnya dari mana. Tanah dengan tanaman rambat yang sampai ke aku selalu jadi pembisik paling pertama yang membocorkan rahasianya.
Kemarin, dia masih tinggal di komplek perumahan elit yang kehalang tembok dekat jalan tol di sebelahku.
*
Kalau hidup ini toko, mungkin keluarga Rindu sudah lama masuk daftar: Barang Diskon 90%, Cuci Gudang, Buruan Dibeli Sebelum Kehabisan.
Tapi ternyata, buat hidup, itu masih belum cukup murah. Pagi hari ini, ada potongan harga baru lagi seolah hidup cuma pedagang jahat yang suka ngasih kesialan.
Tiga ketukan di pintu. Tegas, berjarak sama, kayak terlatih. Rindu membuka pintu dengan rambut sekusut mi instan yang lupa ditiriskan, dan muka yang belum sempat kenalan sama air.
Tiga bapak-bapak seragam biru muda berdiri di teras. Rapi kayak lagi jualan asuransi door-to-door. Yang paling depan pegang map plastik tebal. Rindu mungkin sudah hafal: map setebal itu isinya nggak pernah kabar baik. Kalau kabar baik biasanya cukup satu lembar.
"Ibu Rindu Andaiwaktu?"
"Iya." Sayangnya iya, mungkin begitu batinnya.
"Kami dari kantor lelang. Ini surat penyitaan resmi. Rumah ini disegel hari ini."
Rindu terima kertas itu, tapi nggak benar-benar dibaca. Buat apa. Dia sudah bisa nebak isinya dari jauh, kayak sudah tahu nilai ujian sebelum kertasnya dibagi. Yang justru bikin dia heran itu dirinya sendiri: kok bisa dia berdiri setenang ini, dengar rumah tempat dia belajar jalan disebut "barang sitaan," seolah rumah itu motor bekas yang nunggak cicilan tiga bulan.
"Kak? Ada apa?"
Damba nongol dari kamar, masih pakai seragam sekolah kemarin, kayak anak kucing yang baru bangun dan menolak keras kenyataan bahwa hari sudah pagi. Rindu buru-buru narik adiknya masuk, sebelum sempat mata separuh merem itu membaca nama ayah mereka. Tulisannya tercetak rapi di kertas, berdampingan sama angka yang nolnya berjejer banyak sekali.
"Sikat gigi dulu," katanya sambil mendorong pelan Damba ke kamar mandi. Kalimat paling sakti sedunia buat ngalihin anak sembilan tahun dari kiamat kecil di depan rumah.
*
Ayah baru keluar kamar setelah segel resmi terpasang di pintu depan. Telat, seperti biasa. Telat bayar cicilan, telat sadar, sekarang telat menghadapi kenyataan juga.
Dia berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri kayak tamu yang salah masuk rumah orang, baca surat itu pelan-pelan.
"Maaf," katanya. Pelan. Nggak jelas ditujukan buat siapa. Mungkin buat Rindu. Mungkin buat tembok. Mungkin buat dirinya sendiri sepuluh tahun lalu, yang dulu masih pede semua bakal baik-baik saja asal kerja keras cukup.
Rindu nggak nunggu penjelasan yang toh nggak bakal datang. Dia udah gerak duluan. Buka lemari, tumpuk piring ke kardus bekas mi instan yang dia temukan di kamar pembantu (kardus mi instan itu barang berharga buat keluarga susah: kuat, muat banyak, gratis pula). Rindu menumpuk baju yang belum sempat dicuci. Juga, buku catatan resep tulisan tangan ibunya, yang tintanya mulai pudar di beberapa halaman.
"Kak, kita pindah ke mana?"
Damba ngintilin dari satu ruangan ke ruangan lain, meluk kardus yang ukurannya lebih gede dari badannya sendiri.