Rumah Penghapus Ingatan

Kartini F. Astuti
Chapter #5

Rasa Manis Asin Kaldu Tulang Ayam dan Sedikit Gula Merah, Rak Nomor 224

Sup Kacang Merah, Milik Keluarga Sertamulia, Diambil Malam ke-9

Yang ini datang bukan lewat hidung. Yang ini lewat lidah.

Rasa asin yang pas, rasa manis kaldu tulang yang direbus lama, cara Kenanga suka nambahin sejumput gula merah biar rasanya nggak monoton. Bagja yang paling ingat rasa ini. Dia yang selalu protes kalau istrinya masak kurang pas, terus ketawa waktu dikasih tahu resep itu sengaja dibikin nanggung biar dia selalu nyari-nyari kekurangannya, itu caranya dulu Kenanga bikin dia terus penasaran, katanya.

Aku ambil ini pelan-pelan. Nggak sekaligus. Rasa itu nggak hilang dalam semalam, tapi berkurang sedikit demi sedikit tiap kali Bagja mencoba masak ulang dan hasilnya makin lama makin jauh dari yang asli, sampai suatu hari dia lupa dia pernah bisa masak itu sama sekali.

Dia nggak nyadar. Nggak ada yang nyadar kehilangan rasa itu terjadi bertahap. Yang mereka sadari cuma: oh, kayaknya udah lama nggak masak sup kacang merah, ya. Terus lupa lagi kenapa mereka mikirin itu.

Aku simpen rasa itu di rak paling atas, deket sama nada-nada lagu yang dulu Kenanga suka nyanyiin waktu nyuci piring. Berdampingan, kayak dua benda yang emang seharusnya nggak dipisahin, tapi sekarang cuma aku yang tahu mereka masih ada, dan masih berdekatan, di suatu tempat yang nggak bisa dijangkau siapa-siapa selain aku.

*

Lihat selengkapnya