Rumah Penghapus Ingatan

Kartini F. Astuti
Chapter #8

Panci yang Ingkar Janji di Hari ke 64.002 dan Buku Catatan dengan Goresan Tangan yang Mau Aku Ambil Bentar Lagi

Ulang tahun Damba jatuh di hari kesekian. Aku nggak bisa sebut ke mereka tentang hari ke berapa mereka tinggal. Karena kalender di rumah ini emang sengaja aku bikin nggak penting.

Tapi aku sendiri ingat, kok.

Bagja mau kasih kejutan. Dia bangun subuh-subuh, ngendap-ngendap ke dapur. Niatnya masak sup kacang merah, resep yang dulu jadi identitas dia sebagai kepala keluarga yang jago masak, satu-satunya hal yang bikin dia pede di antara semua kegagalannya.

Aku diem-diem nonton dari balik dinding dapur.

Dia keluarin panci. Nyalain kompor. Terus berhenti.

Garemnya berapa sendok, ya?

Dia berdiri lama di depan kompor yang masih dingin, natap bumbu-bumbu yang dia susun, kayak murid yang lupa jawaban ujian padahal semalam udah belajar. Dia coba nebak-nebak. Masukin ini, masukin itu, icip, kerutin dahi, icip lagi.

Hasilnya asin sebelah, hambar sebelah lain.

"Aneh," gumamnya sambil nyicip lagi, berharap rasa itu berubah dengan sendirinya. "Kayaknya aku emang udah lama nggak masak ini."

Dia ketawa kecil. Ketawa yang jujur, bukan dipaksain, karena dia beneran nggak nyadar ada yang salah. Baginya ini cuma keahlian yang berkarat karena jarang dipakai. Bukan sesuatu yang dicuri.

Aku, jujur aja, ngerasa sedikit nggak enak dengerin ketawa itu. Tapi nggak cukup nggak enak buat berhenti.

*

Lihat selengkapnya