Aku suka ini. Aku suka ekspresi anak kecil kalau lagi cerita.
Waktu itu, kata Damba, sekolah SD Sukarela Teristimewa lagi bikin acara semacam ungkapan apresiasi, buat tugas Bahasa Indonesia. Tugasnya gampang: bikin kartu ucapan buat "orang yang paling disayang." Gurunya bilang boleh buat siapa aja, ibu, ayah, kakak, nenek, siapa pun yang penting di hati.
Damba mikir keras di kelas. Pensil warna udah dipegang. Kertas kosong di hadapannya.
Anak-anak lain di sekitarnya udah mulai nulis "Untuk Ibu tersayang" atau "Untuk Ayah terhebat." Damba masih diam, melototin kertasnya.
Gurunya lewat dan nanya, "Damba mau bikin buat siapa?"
"Kak Rindu," jawab Damba, cepat, tanpa ragu.
"Oh, buat kakak? Kalau buat Ibu, gimana?"
Damba diam.
"Aku... emang punya ibu, ya, Bu Guru?"
Gurunya ketawa kecil, ngira itu candaan anak kecil. "Ih, Damba, semua orang punya ibu, dong."
"Oh." Damba manggut-manggut, nggak yakin, tapi nggak mau kelihatan aneh di depan teman-temannya. Dia lanjut nulis kartunya buat Rindu, dan nggak nanya lagi.
Tanpa Damba cerita pun, aku sebenarnya tahu kejadian itu.
Aku diam-diam ikutan "hadir" lewat udara yang keluar masuk dari jendela kelas itu. Cuma pengen mastiin kalau Damba bahagia di sekolah, nggak kayak setahun lalu yang diejek teman-teman karena nggak sanggup beli buku pelajaran.
Jangan tanya gimana caranya aku menyusup ke sana. Aku juga nggak sepenuhnya ngerti batasan diriku sendiri sejak punya penghuni.