Rindu balik lagi ke halaman rumah keluarga Nyang keesokan harinya. Bukan diundang. Dia penasaran sendiri, dan penasaran itu, buat aku, jauh lebih berbahaya daripada curiga biasa.
Kali ini dia ketemu anak-anak Bu Sukama. Ada tiga, umurannya beda-beda, tapi mereka semua punya cara ngomong yang mirip: tenang, datar, sopan, tapi kayak lagi baca skrip yang udah dihafal terlalu lama sampai kehilangan makna.
"Kalian nggak pernah berantem?" tanya Rindu, penasaran, ke anak Bu Sukama yang paling gede, cowok, seumuran dia.
"Nggak pernah," jawabnya, santai. "Ngapain berantem?"
"Ya... namanya juga keluarga. Pasti ada aja yang bikin kesel."
Anak itu mikir sebentar, kayak lagi coba nginget sesuatu yang seharusnya gampang diinget.
"Mungkin dulu pernah," katanya akhirnya, nada suaranya nggak yakin. "Tapi sekarang, buat apa?”