Rindu nemuin pintu itu nggak sengaja. Aku pengen bilang gitu tadi. Tapi, sebenarnya, sebagian dari diriku, bagian yang mulai capek nyimpen rahasia sendirian, diam-diam ngebiarin pintu itu kebuka dikit. Cuma dikit. Tapi cukup buat Rindu akhirnya masuk.
Di balik lemari tua di ujung lorong yang selama ini dikira gudang kosong, ada tangga turun.
Rindu ragu. Tapi dia udah kebiasaan ragu terus jalan aja belakangan ini.
Di bawah, ada ruangan besar, gelap, dengan rak-rak yang menjulang sampai nggak kelihatan ujungnya. Di rak-rak itu, bukan barang. Kabut-kabut kecil, melayang pelan di dalam toples kaca, masing-masing punya cahaya redup sendiri-sendiri, seperti kunang-kunang yang dipenjara baik-baik.
Dia jalan di antara rak-rak itu, ngebaca label-label yang tertulis di tiap toples.
Tawa Istri Sehabis Gagal Ngomel-Ngomel, Milik Keluarga Jayadi, Diambil Tahun ke-3.
Nama Panggilan Waktu Kecil, Milik Keluarga Cassandra, Diambil Bulan ke-8.
Wajah Mendiang Nang, Milik Ibu Sukmiati (Sukama), Diambil Tahun ke-12.
Rindu berhenti di toples terakhir itu.
Dia baca ulang nama yang dicoret. Bu Sukmiati. Mendiang? Jadi, selama ini, Pak Jang bukan suaminya?