Blurb
Aku nggak nyari penghuni. Aku cuma menunggu.
Yang datang ke aku selalu orang yang capek. Malam itu, yang datang cuma tiga orang dengan tiga kardus dan satu koper. Seorang kakak yang udah lama lupa caranya jadi anak kecil. Seorang adik yang kekecilan buat melawan. Seorang ayah yang diam-diam pengen kabur dari kegagalannya sendiri.
Aku kasih mereka rumah yang hangat. Ada kamar yang aku pilihkan sendiri buat masing-masing. Kamar boneka. Kamar es. Kamar layang-layang. Kamar ketapel. Kamar kertas lipat. Aku belum bisa sebut apa aja kekuatannya. Yang jelas, kekuatan dari kamar itu lahir persis dari cara mereka lari dari luka.
Yang nggak aku bilang: setiap kekuatan ada harganya. Dan aku selalu menghisap pelan-pelan sepotong demi sepotong kenangan di sini. Sampai yang tersisa cuma keluarga yang kelihatan baik-baik saja dari luar, tapi kosong kalau diintip ke dalam.
Aku pernah punya penghuni lain sebelum mereka. Keluarga paling harmonis. Nggak pernah berantem. Selalu tenang. Kalau kamu tanya aku, itu bukan kebahagiaan. Itu yang terjadi kalau sebuah keluarga lupa alasan untuk peduli satu sama lain.
Rindu yang pertama sadar sesuatu hilang tiap kali dia membekukan waktu. Tapi menyadari itu tidak sama dengan berhenti menggunakannya.
Pertanyaannya bukan apakah rumah ini jahat?
Pertanyaannya: seberapa banyak dirimu sendiri yang rela kamu lupakan, demi berhenti merasa sakit?