Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #7

Hari ke-1 Damba di Sekolah Baru

Aku nggak pernah punya anak sendiri. Tapi kalau rumah tua kayak aku boleh punya sesuatu yang mirip rasa bangga orang tua, pagi itu aku bisa bilang aku bangga.

Damba bangun tanpa dibangunin. Duduk di pinggir kasur, ngelihat seragam barunya yang tergantung rapi di lemari. Seragam yang aku titipkan lewat cara sederhana: sebuah toko kecil "kebetulan" buka di dekat gang, dengan harga yang "kebetulan" pas dengan uang yang Bagja punya. Begitu cara kerja rumah tua kayak aku. Kami nggak menciptakan dari udara kosong. Kami cuma tahu di mana harus meletakkan sesuatu, dan kapan.

Aku tahu Damba sedang membawa satu ketakutan lama, sisa dari sekolah dulu. Diejek soal gaya rambut, soal buku pinjaman sejak ayahnya bangkrut. Aku nggak menyentuhnya. Beberapa hal lebih baik dibiarkan jadi milik seseorang sepenuhnya, biar dia yang menaklukkannya sendiri.

"Damba," Rindu duduk di sampingnya sehabis nyiapin sarapan, "kamu takut, ya?"

Damba manggut kecil.

Rindu meluk adiknya. "Sekarang beda. Ayah udah kerja. Sekolahnya mungkin nggak sebagus dulu. Tapi, kamu bakal punya temen baru sekarang. Banyak."

*

SD Sukarela Teristimewa. Bangunan sederhana, catnya kuning pudar, halamannya luas dan rindang. Damba jalan masuk gerbang, genggaman di tali tas erat-erat, siap kabur kalau ada yang mulai ngejek.

Nggak ada yang ngejek.

Anak-anak malah nyamperin duluan.

"Kamu dari mana?" tanya seorang anak gempal, namanya Toni.

"Aku... pindahan," jawab Damba, hati-hati.

"Oh, keren! Aku juga pindahan tahun lalu," kata Toni, santai. "Suka main bola? Istirahat nanti main bareng, yuk."

Damba sempat bingung sesaat, kayak lupa caranya bereaksi kalau diajak main tanpa syarat. Lalu dia senyum, kaget sendiri secepat apa senyum itu muncul.

Aku ikut senang dengernya, lewat cerita yang nanti dia bawa pulang, kayak menerima kartu pos dari dunia yang nggak bisa aku jangkau langsung.

*

Tapi nggak semua anak seramah Toni.

Waktu istirahat, di sudut lapangan deket tembok pembatas sekolah, ada tiga anak cowok. Lebih gede badannya, kelas lima, lagi ngumpul sambil ngeliatin sepatu Damba. Sepatu itu, warnanya terlalu mencolok.

"Eh, anak baru," salah satu dari mereka manggil, dengan nada sok akrab tapi ada sesuatu yang licik di baliknya. "Sepatu kamu lucu banget, ya. Beli di mana, di pasar kaget?"

Dua temannya ketawa. Damba berhenti jalan. Dadanya langsung sesek. Badan yang tadinya tegak jadi nunduk otomatis. Refleks lama yang udah bertahun-tahun dia latih tanpa sadar: kalau diejek, diem aja, jangan bikin masalah tambah gede.

"Woy, ditanya, kok, diem?" Anak itu maju selangkah, sengaja nyenggol tas Damba sampe hampir jatoh.

Aku, yang cuma bisa "nyampe" sejauh gerbang sekolah lewat udara yang keluar-masuk dari sana, ngerasain sesuatu berubah di dada Damba. Bukan lagi cuma sesek. Ada yang lain, sesuatu yang mulai ngumpul, panas.

Damba nggak bilang apa-apa. Dia cuma natap batu-batu di sekitar sepatunya. Matanya nggak berkedip, makin merah, kayak lagi nahan sesuatu yang dia sendiri nggak ngerti gimana cara ngeluarinnya selain lewat tatapan itu.

Dan tiba-tiba—

Batu kerikil kecil di deket kaki anak yang paling depan. Meluncur sendiri. Cepet banget, kena tepat di betis anak itu.

"Aduh!" Dia loncat kesakitan. Celingak-celinguk nyari siapa yang ngelempar. "Siapa yang lempar batu?!"

Nggak ada siapa-siapa di deket situ selain Damba. Dan Damba sendiri masih berdiri diem. Tangannya terkulai. Jelas-jelas nggak megang apa pun buat dilempar.

"Kamu yang lempar?" Anak itu nunjuk Damba. Curiga tapi juga bingung. Karena jarak mereka jelas terlalu deket buat lemparan sekeras itu, dan Damba jelas-jelas nggak gerakin tangannya sama sekali.

Lihat selengkapnya