Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #8

Toni dan Rahasia Kecil

Damba dan Toni jadi teman dekat lebih cepat dari yang aku duga.

Aku suka ini pada awalnya. Anak-anak yang berteman itu sederhana, nggak ribet kayak orang dewasa. Mereka nggak nanya-nanya yang aneh-aneh, cuma peduli siapa yang bisa lari lebih kenceng waktu istirahat, siapa yang punya kartu Pokemon paling banyak, siapa yang berani manjat pohon paling tinggi di halaman sekolah.

Toni jadi semacam bayangan kedua buat Damba, ke mana-mana berdua, dan aku dengar tawa Damba jadi lebih sering keluar tiap kali nama Toni disebut di rumah.

"Kak, Toni jago banget main kelereng," kata Damba suatu sore, sambil melepas sepatu di teras. "Katanya dia mau ngajarin aku."

"Ajak aja main ke sini," jawab Rindu, sambil terus menyapu. "Biar Kakak juga kenalan."

Damba langsung semangat. Aku, jujur, nggak langsung setuju sama ide itu. Nggak. Aku nggak benci Toni. Toni cuma anak sembilan tahun yang polos, nggak tahu apa-apa. Tapi setiap kali ada orang baru yang masuk ke dalam batas pagarku, meski cuma anak kecil, itu artinya ada satu pasang mata lagi yang bisa melihatku dari sudut yang nggak bisa aku kontrol sepenuhnya.

Tapi aku juga nggak bisa melarang. Melarang itu mencolok. Dan aku sudah belajar, mencolok itu berbahaya buat aku.

Jadi aku biarin.

*

Toni datang hari Sabtu siang, bawa kantong kresek isi kelereng warna-warni, wajahnya sumringah kayak orang yang baru dapat izin masuk ke tempat rahasia.

"Rumah kamu jauh juga, ya, Damba," katanya, ngos-ngosan sedikit, waktu akhirnya sampai di depan pagar. "Aku sampai nanya dua kali ke orang di jalan."

"Iya, agak nyempil emang," jawab Damba, bangga, kayak itu sesuatu yang keren.

Aku bikin halamanku sehangat mungkin siang itu. Rumput yang lebih hijau dari biasanya, angin yang pas. Aku ingin Toni pulang dengan kesan baik, biar Damba senang, biar semuanya kelihatan normal.

Mereka main kelereng di halaman sampai sore, teriak-teriak setiap kali kelereng meleset atau kena telak. Rindu sesekali keluar bawa air minum, ngobrol sebentar sama Toni, yang ternyata anak yang sopan, pandai basa-basi, bilang terima kasih tiap kali dikasih sesuatu.

"Rumah kamu enak banget, ya," kata Toni, waktu Rindu nawarin es teh. "Adem. Nggak berisik kayak komplek rumahku."

"Makasih," jawab Rindu sambil senyum. Aku tahu ada sedikit kegugupan di senyum itu, semacam kewaspadaan yang belakangan udah jadi kebiasaannya.

Bagja pulang kerja sore itu, ikut nyapa Toni sebentar, terus masuk lagi. Buat beberapa jam, rumah ini kerasa kayak rumah yang benar-benar biasa. Anak-anak main di halaman, orang tua sibuk masing-masing, matahari turun pelan-pelan di balik atap.

Aku hampir lupa buat was-was.

*

Toni pulang menjelang magrib, dadah-dadahan sama Damba di depan pagar, janji mau main lagi minggu depan.

"Sampai ketemu, Damba!"

Lihat selengkapnya