Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #11

Pak Yono yang Lihat Bagja Nggak Injak Tanah

Toko bangunan itu ramai siang itu, banyak tukang bangunan dadakan yang belanja semen sama paku buat proyek renovasi musim kemarau. Bagja sibuk di gudang, ngangkatin karung semen ke rak, keringetan, tapi kerjaannya lancar, sampai Pak Anto, pemilik toko, manggil dia ke depan.

"Pak Bagja, tolong bantu di kasir sebentar. Kasir kita nggak masuk. Lagi sakit sampai hari ini."

Bagja jalan ke depan, dan di situlah semuanya mulai runyam.

Ada pembeli yang komplain harga cat udah naik dari minggu lalu. Bagja coba jelasin, sopan, tapi si pembeli makin ngotot, suaranya makin keras, sampai beberapa pembeli lain ikut nengok. Bagja ngerasa dadanya sesek, keringat dingin keluar walau AC toko nyala penuh.

Dia benci momen kayak gini. Dikomplain di depan orang banyak, disalahin buat sesuatu yang bukan salahnya, harus tetep senyum walau dalem hati pengen banget kabur dari situ, secepat mungkin, sejauh mungkin.

Dan tepat di detik itu—

Kakinya nggak nginjak lantai lagi.

Bukan banyak. Cuma beberapa senti. Tapi cukup buat Pak Yono, yang kebetulan lewat bawa dus paku, berhenti mendadak, matanya melotot, dus di tangannya sampe jatuh.

"Pak... Pak Bagja?"

Bagja, yang lagi sibuk nenangin pembeli yang ngomel, nggak sadar sama sekali. Dia berdiri di situ, sepatu safety-nya melayang tipis di atas lantai keramik, kayak orang yang berdiri di atas kolam yang airnya nggak keliatan.

"Iya, saya minta maaf soal harganya, Pak, memang ada penyesuaian dari distributor—"

"PAK BAGJA," Pak Yono ini kali lebih keras, jalan cepet ke arahnya, matanya masih nggak percaya sama apa yang dia liat. "Bapak... kaki Bapak..."

Bagja baru nengok ke bawah.

Dan detik itu juga, dia jatuh. Beneran jatuh, cuma beberapa senti, tapi cukup bikin dia keseimbangan, tangannya reflek nyekel meja kasir.

Lihat selengkapnya