Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #15

Aku Khawatir Dunia Nggak Tua-Tua

Rindu bilang ke Bagja, suatu pagi di meja makan, kalau dia mau cari kerja sampingan.

"Buat apa?" tanya Bagja, sambil nyeruput kopi. "Ayah kan udah kerja. Kamu fokus sekolah aja."

"Biar bisa bantu-bantu keuangan, Yah. Lagian, aku juga udah gede. Kayaknya nggak enak kalau cuma diam di rumah terus."

Alasan itu kedengeran masuk akal. Bahkan buat Bagja, yang sekarang jauh lebih gampang percaya sama apa pun yang kedengeran "wajar", alasan itu langsung diterima tanpa curiga.

Tapi aku tahu itu bukan alasan yang sebenarnya.

Yang sebenarnya, Rindu butuh alasan buat sering-sering keluar dari radius rumahku. Dia butuh napas. Dia sering telen beban sendirian tiap kali dia duduk di ruang tamu, ngeliatin ayahnya ketawa tanpa alasan yang jujur, ngeliatin adiknya makin sering nyebut nama "Kak" doang tanpa embel-embel sayang yang dulu selalu ada.

Aku nggak suka ide dia sering keluar.

Tapi aku biarin.

*

Rindu nemuin lowongan itu ditempel di tiang listrik deket gang, kertas fotokopian yang udah agak luntur kena hujan: DICARI KURIR LAUNDRY KELILING. Jam Fleksibel. Sepeda Sendiri Diutamakan.

Sepeda tua di gudang belakang, yang dulu aku "temukan" buat Damba, ternyata muat juga dipakai Rindu, meskipun harus agak nunduk biar setangnya nggak kekecilan.

Pemilik usahanya, Bang Herman, orangnya santai, nggak banyak nanya. "Kamu tinggal jemput cucian dari pelanggan, anter ke rumah cuci, terus anter balik pas udah kering. Aku kasih daftar rute sama alamat. Bayarannya per antar-jemput, bukan gaji bulanan. Cocok buat yang masih sekolah."

"Cocok, Bang," jawab Rindu, dan dia beneran ngerasa itu cocok, meski alasan sebenarnya bukan soal uang.

Jam fleksibel berarti dia bisa keluar kapan aja, seenggaknya sejam dua jam, tanpa harus ngejelasin ke siapa-siapa. Nggak ada shift yang ngiket dia. Nggak ada bos yang nungguin dia di satu tempat, jam yang sama, tiap hari. Dia bisa muter-muter gang, ketemu orang beda-beda tiap harinya, dan yang paling penting, dia bisa sendirian di jalan, dikelilingi angin sama suara sepeda yang berdecit, tanpa ada yang ngawasin.

Aku sebenernya nggak sepenuhnya nyaman sama ini. Kerjaan warung, aku masih bisa ngebayangin dia di satu titik, gampang aku "denger" lewat detak jantungnya kalau dia masih di radius yang wajar. Tapi kurir keliling? Dia bisa ke mana aja. Radiusnya nggak jelas.

Tapi aku juga nggak nemuin alasan buat ngehalangin. Ini cuma anak SMA nyari kerja sampingan yang fleksibel. Wajar banget.

*

Minggu pertama, rutenya masih itu-itu aja: komplek dekat sekolah, beberapa rumah kos, dan satu pelanggan tetap yang paling ramai ngobrol—Mpok Ratna, yang ternyata selain jualan di warung, juga nitip cucian keluarganya tiap minggu karena "males banget nyuci kalau badan gempal begini”.

Lihat selengkapnya