Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #17

Figura Tanpa Foto dan Gelas yang Terus Berputar

Ada satu orang di luar rumah ini yang, tanpa sadar, mulai jadi ancaman kecil buat aku. Bukan Rindu. Bukan siapa-siapa di keluarga Sertamulia. Tapi Bu Wening, wali kelas Damba di SD Sukarela Teristimewa.

Guru-guru itu, kalau kalian perhatiin, punya semacam radar aneh. Mereka nggak selalu pinter soal pelajaran, tapi mereka hafal banget pola anak-anak. Bu Wening udah ngajar dua puluh tahun, dan dia bilang ke rekan gurunya suatu siang, sambil makan siang di kantin sekolah, "Ada yang aneh sama Damba akhir-akhir ini."

Aku nggak bisa "hadir" di kantin sekolah sejauh itu. Jangkauanku ada batasnya. Tapi Damba yang cerita ke Rindu, malam itu, sambil makan.

"Bu Wening tadi nanya-nanya aku, Kak."

"Nanya apa?"

"Nanya kenapa aku nggak pernah cerita soal Ibu lagi. Katanya, dulu aku sering cerita soal Ibu. Tapi aku nggak tau Bu Wening ngomongin siapa."

Rindu berhenti mengunyah. "Kamu bilang apa ke Bu Wening?"

"Aku bilang aku nggak punya cerita apa-apa. Terus Bu Wening kelihatan sedih."

Rindu nggak jawab. Dia cuma ngelus rambut Damba, dan aku bisa lihat dia lagi mikir keras.

Aku juga mikir keras. Karena ini bukan cuma soal Damba yang lupa. Ini soal seseorang di luar keluarga ini yang mulai nyimpen catatan, membandingkan Damba yang dulu sama Damba yang sekarang.

*

Beberapa hari kemudian, Bu Wening dateng ke rumah. Niatnya kunjungan rumah biasa.

Aku nggak suka ini. Tamu dari luar itu variabel yang susah aku kontrol.

Bagja yang buka pintu, agak kaget. "Selamat sore, Bu. Silakan masuk."

Aku bikin ruang tamu terlihat sehangat mungkin. Aku sebar aroma kopi yang baru diseduh, meskipun nggak ada yang beneran nyeduh kopi. Semua trik kecil yang biasanya cukup buat bikin orang ngerasa "di sini aman-aman aja".

Tapi Bu Wening bukan orang yang gampang.

Dia duduk, natap sekeliling ruangan. Matanya berhenti sebentar di figura tanpa foto.

"Ini... kok gak ada fotonya, tapi masih dipajang?”

Lihat selengkapnya