Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #20

Aturan yang Origa Pelajari dengan Cara yang Salah

Rindu balik lagi ke pembatas pagar sore itu, bukan buat basa-basi kayak biasanya. Dia bawa pertanyaan yang udah dia pendam sejak kejadian Bagja di toko bangunan, sejak dia sendiri mulai ngerasa was-was tiap kali dadanya kepingin banget waktu berhenti.

Origa udah nunggu di situ, kayak dia tahu Rindu bakal dateng.

"Kamu udah mulai, ya," katanya menjurus.

"Mulai apa?" Rindu duduk di rumput, deket pembatas.

"Make kamarnya," jawab Origa, simpel. "Kekuatannya. Apa pun bentuknya di kamar kamu."

Rindu diem sebentar, mikir apa dia harus jujur.

"Waktu berhenti," akhirnya dia ngaku. "Nggak sering. Tapi udah beberapa kali. Kejadiannya sendiri, aku nggak sengaja."

Origa manggut, kayak udah nebak jawabannya. "Sama kayak aku dulu. Kamu pikir kamu yang milih kekuatan itu. Padahal dia yang milih kamu, tiap kali kamu butuh banget."

"Aku juga liat—" Rindu ragu sebentar, "—adikku bisa ngelempar barang pake tatapannya. Sama ayahku, kemarin, katanya kakinya sempet ngambang di tempat kerja."

Origa diem lama, matanya nerawang, kayak lagi ngitung sesuatu di kepalanya.

"Ketapel sama layang-layang," gumamnya, lebih ke dirinya sendiri. "Aku hafal semua jenisnya. Rumah ini selalu ngasih jenis yang sama, cuma bungkusnya beda-beda buat tiap keluarga."

"Kamu tau soal ini? Dari mana?"

"Karena aku juga punya," jawab Origa. Dia ngangkat tangannya, dan Rindu ngeliat sesuatu yang aneh: kulit di jari-jari Origa, sekilas, kayak berubah tekstur, jadi tipis, jadi kayak permukaan kertas, sebelum balik lagi jadi kulit biasa.

"Itu... apa barusan?"

"Kamarku kertas lipat," kata Origa, natap tangannya sendiri kayak natap sesuatu yang dia benci tapi udah kebiasaan. "Aku bisa nyamar. Ganti bentuk, ganti warna, kayak origami yang dibentuk sesuka hati. Dulu aku pikir itu keren banget. Aku bisa jadi apa aja, sembunyi dari siapa aja yang nggak aku suka."

"Terus kenapa sekarang kamu kelihatan... biasa aja?"

Origa ketawa, tapi ketawanya pahit. "Karena aku udah kebanyakan make."

*

Dia diem sebentar, kayak lagi nyusun kalimat yang paling gampang dimengerti, kayak orang dewasa yang lagi jelasin sesuatu rumit ke anak kecil, walau mereka seumuran.

"Coba bayangin gini," katanya, akhirnya. "Setiap orang itu punya semacam... isi baterai. Isinya itu identitas kamu. Wajah kamu, nama kamu, kebiasaan-kebiasaan kecil yang bikin kamu jadi kamu. Nah, rumah ini kasih kita kekuatan, tapi kekuatan itu harus dituker sama ingatan yang pernah bikin kita sakit hati. Dia nyedot baterai itu. Bukan langsung abis sekali pakai. Tapi tiap kali kita make, dikit-dikit, baterainya berkurang."

"Terus kalau abis?"

"Aku nggak tahu abisnya kayak apa," jawab Origa, jujur. "Tapi aku tahu tandanya. Ibuku, sebelum jadi Bu Sukama, punya kamar boneka. Dia bisa bikin orang lain nurut, kayak boneka. Awalnya dia cuma pake buat hal-hal kecil. Bikin aku sama adik-adikku diem waktu lagi berisik, bikin Ayah nggak ngomel waktu telat masak. Tapi lama-lama, dia pake terus, sampai dia banyak lupa. Mungkin lupa total. Baterainya udah kepake abis buat kekuatan itu."

Rindu ngerasa dingin, walau siang itu nggak sedingin biasanya di dalem pagar.

"Terus kamu?"

"Aku pake kekuatanku buat sembunyi dari pertanyaan," kata Origa, suaranya makin pelan. "Dulu aku sering ditanya soal bapak kandungku yang ninggalin kami. Aku benci ditanya soal itu. Jadi aku belajar nyamar, jadi anak yang paling ceria, paling nggak keliatan sedih, biar nggak ada yang nanya-nanya. Tapi tiap kali aku nyamar, ada bagian dari 'aku yang asli' yang ikut kepake.”

Lihat selengkapnya