Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #21

Telepon yang Nggak Seharusnya Aku Denger

Rindu nunggu tiga hari sebelum akhirnya berani nelepon nomor itu.

Tiga hari itu dia habisin buat nyusun bukti, bukan cuma keberanian. Dia nulis ulang semua yang Origa bilang soal "baterai identitas", soal kekuatan yang nyicil diri sendiri, di halaman baru buku catatannya.

Dia gambar peta kasar gang dari ingatannya sendiri. Tiap kali dia coba, garis-garisnya kayak nggak mau nyambung dengan benar, seolah tangannya sendiri menolak nunjukkin jalan pulang.

Malam ketiga, waktu Bagja udah tidur dan Damba udah lama merem, Rindu duduk di teras belakang, tempat paling jauh dari kamar-kamar lain. Bulan malam itu setengah, cahayanya jatuh miring di atas buku catatannya, bikin tinta yang udah dia tulis kelihatan kayak berkilau sebentar sebelum balik jadi tinta biasa lagi. 

Dia nggak tahu, tentu aja, kalau "sendirian" itu nggak pernah benar-benar sendirian di mana pun dia berdiri di dalam batas pagarku.

Dia tekan telepon. Nadanya nyambung setelah dua kali dering.

"Halo?"

"Halo, Bu, ini... ini Rindu. Kakaknya Damba. Maaf ganggu malam-malam, Bu."

"Oh, Rindu! Ada apa?" Suara Bu Wening kedengeran ramah, tapi juga langsung waspada, kayak orang yang udah nunggu telepon ini sejak kunjungan rumah itu.

Rindu diem sebentar, narik napas panjang, dan aku bisa ngerasain sesuatu berubah di udara teras itu. Kalimat yang keluar dari mulutnya kali ini kedengeran lebih berat, kayak kata-kata yang udah lama dipendam di dasar sumur dan sekarang ditarik naik satu per satu pakai tali yang hampir putus.

"Bu, saya butuh bantuan yang mungkin kedengeran aneh," katanya. "Bukan cuma buat curhat. Saya butuh Ibu bantu saya nyari."

"Nyari apa, Rindu?"

"Rumah saya," jawab Rindu, dan begitu kata itu keluar, aku ngerasa sesuatu di sepanjang dindingku bergetar pelan, kayak alarm purba yang bangun dari tidur panjang.

Bu Wening pasti keheranan. Kok, bisa, ada anak minta tolong nyari rumah padahal dia sendiri lagi ada di rumah?

"Bukan alamatnya doang. Saya butuh Ibu bantu cari tahu, ada berapa banyak keluarga lain yang, hmm, tenang di tempat yang sama kayak keluarga saya. Keluarga yang... nggak wajar.”

Jeda di ujung telepon kali ini panjang sekali. Aku bisa denger napas Bu Wening berubah, kayak orang yang baru aja diminta buat percaya sesuatu yang terlalu besar buat dipercaya dalam satu tarikan napas.

"Rindu," katanya, akhirnya, suaranya turun satu oktaf, lebih hati-hati, "kamu ngomong kayak ini bukan cuma soal keluargamu lagi."

"Emang bukan, Bu," jawab Rindu, dan suaranya, buat pertama kalinya malam itu, nggak gemetar sama sekali. "Ada anak seumuran saya di sebelah rumah saya. Dia udah kehilangan hampir semua ingatan yang bikin dia jadi dirinya sendiri, karena rumah ini kasih dia kekuatan buat nyamar, buat lari dari kenyataan yang dia nggak sanggup hadepin.”

“Itu sejenis trauma response.”

Lihat selengkapnya