Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #22

Hari Terakhir yang Rindu Nggak Tahu Itu Hari Terakhir Dia Bisa Mimpi Soal Ibunya

Aku nggak pernah kenal Kenanga secara langsung. Dia meninggal sebelum keluarga ini ketemu aku. Tapi aku nyimpen banyak sekali fragmen tentang dia, dari ingatan-ingatan yang aku ambil dari anak-anak dan suaminya. Dan malam itu, entah kenapa, aku memutuskan buat ngasih satu fragmen itu balik ke Rindu, bukan lewat mimpi biasa, tapi lewat mimpi yang lebih jelas dari biasanya.

Aku sendiri nggak sepenuhnya ngerti kenapa aku ngelakuin ini. Mungkin karena aku mulai ngerasa bersalah. Mungkin karena bagian dari diriku pengen ngeliat gimana reaksi Rindu kalau ketemu ibunya lagi, walau cuma sekilas, cuma di alam mimpi, cuma fragmen yang aku pilih sendiri.

Dalam mimpi itu, Rindu balik ke dapur rumah kontrakan lama mereka. Sore hari, sekitar jam lima, cahaya oranye masuk dari jendela kecil di atas wastafel.

Kenanga berdiri di depan kompor. Punggungnya menghadap Rindu, rambutnya diikat asal-asalan pakai karet gelang, celemek bergambar bunga matahari yang udah pudar warnanya.

"Rindu, tolong ambilin garam."

Dalam mimpi itu, Rindu dalam versi dia yang lebih muda, mungkin lima belas tahun, jalan ke rak bumbu, ambil toples garam, kasih ke ibunya.

"Ibu masak apa?"

"Sup kacang merah. Ayah kamu lagi pengen."

"Ayah selalu pengen itu."

Kenanga ketawa, suara ketawa yang khas, agak melengking di ujung, yang bikin siapa pun yang denger ikut senyum walaupun nggak tahu apa yang lucu.

"Karena Ayah kamu itu, walau nggak pernah bilang langsung, demen banget diperhatiin. Masak apa aja, asal Ibu yang masak, dia bakal makan sampai habis."

Lihat selengkapnya