Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #24

Pak Yono yang Hampir Pingsan Itu Malah Penasaran

Sisa hari itu, Pak Yono jalan muter-muter gudang kayak orang yang abis ketemu penampakan tapi terlalu takut buat bilang sama siapa-siapa. Dia ngintipin Bagja dari balik rak semen, ngeliatin tiap gerakan kaki Bagja dengan curiga kayak detektif yang lagi ngincer koruptor.

Sekali, waktu Bagja nyender ke tiang gudang sambil nunggu truk pengiriman, Pak Yono diam-diam ngambil penggaris besi, ngukur jarak antara sepatu Bagja sama lantai. Nol koma nol sentimeter. Nempel sempurna. Pak Yono nghela napas lega, tapi lega yang aneh, kayak orang yang setengah kecewa buktinya ilang.

"Pak Yono ngapain di situ?" tanya Bagja, ngeliatin dia jongkok deket kakinya sambil megang penggaris.

"Nggak, nggak apa-apa, Pak," Pak Yono buru-buru berdiri, muka merah, nyembunyiin penggarisnya ke belakang punggung kayak anak SD ketauan nyontek.

*

Sore itu, jam istirahat kedua, Pak Yono nggak bisa nahan diri lagi. Dia narik Bagja ke pojok gudang, di antara tumpukan pipa PVC, tempat paling sepi di seluruh toko.

"Pak Bagja," katanya, serius. "Saya nggak gila. Saya nggak salah liat. Saya kerja delapan tahun di sini. Pak Anto aja suka nyuruh saya cek barang yang keliatannya bagus tapi ternyata cacat, karena mata saya emang tajem."

Bagja diem, nggak tahu harus jawab apa.

"Saya nggak nuduh Bapak aneh-aneh," lanjut Pak Yono. Suaranya turun jadi bisikan yang penuh rahasia, kayak lagi ngomongin harta karun. "Tapi, dari gerak-gerik Bapak, saya rasa… Bapak pesugihan, ya?”

Bagja tertawa terpingkal-pingkal.

“Saya cuma... saya penasaran aja. Kata nenek saya dulu, di kampung ini, suka ada aja cerita soal orang-orang yang abis dapet 'berkah' dari tempat-tempat yang nggak biasa. Katanya, kalau ada yang tiba-tiba jadi tenang banget atau dapet kesaktian padahal baru abis musibah berat, kadang itu bukan kekuatan hati doang. Kadang ada yang bantuin dari luar. Entah itu jimat, pusaka, atau apa."

Bagja ketawa, ketawa yang dipaksain kali ini. "Pak Yono kebanyakan nonton film horor."

Pak Yono ngangkat bahu. Matanya masih fokus. "Tapi saya liat kaki Bapak ngelayang, Pak. Itu bukan film. Itu di depan mata saya, siang bolong, di gudang paku."

Lihat selengkapnya