Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #26

Kertas yang Nggak Bisa Aku Ambil Balik

Butuh empat hari sebelum Rindu sadar ada yang salah.

Bukan empat hari yang santai. Empat hari itu dia jalani dengan sekolah, ngayuh sepeda sepulang sekolah, kerja sampingan keliling gang buat ngembaliin pesanan laundry, bantuin Damba ngerjain PR—sesekali diam-diam ngintipin adiknya buat mastiin nggak ada kaleng yang geser sendiri tanpa izin.

Semuanya normal. Sampai suatu sore, Rindu lagi bikin waktu berhenti buat ngerjain PR Matematika. Kebiasaan baru yang, jujur, bikin aku pengen jitakin dia kalau aku punya tangan. Dan di tengah keheningan beku itu, dia iseng nulis di kertas coretan: ngapain aja aku minggu ini.

Dia mulai nulis daftar. Sekolah. Kerja. Damba. Ayah. Dan pas nulis kata "telepon", tangannya berhenti sendiri.

Bukan berhenti kayak lupa kata selanjutnya. Berhenti kayak pena itu nabrak dinding tak kasat mata.

"Telepon siapa?" gumamnya, natap kertas kosong di bawah kata itu.

Dia coba nulis lagi. "Telepon..." Pena itu ngambang di atas kertas, nggak mau turun, kayak lagi nolak nulis sesuatu yang seharusnya gampang.

Aku, dari dalam dinding, langsung waspada. Karena aku tahu persis apa yang sebenernya terjadi: kekuatan Rindu dengan kemampuan bikin waktu berhenti, ternyata nggak cuma berhenti di dunia luar. Kadang dia pake tanpa sengaja ke dalem kepalanya sendiri, ke ingatannya sendiri, bikin bagian-bagian tertentu "beku" bareng waktu, susah diakses, kayak file yang kebuka di komputer yang lagi hang.

Rindu, bingung sama tangannya sendiri, taruh pena itu, ambil HP-nya. Dia buka kontak, scroll ke bawah, dan berhenti di satu nama.

Bu Wening (Wali Kelas Damba)

"Oh," katanya, pelan, kayak baru inget dia punya kontak itu. "Aku... kan udah nelpon Bu Wening?"

Dia buka riwayat telepon. Ada di situ, jelas, tanggal dan waktu telepon ke Bu Wening, empat hari lalu, malam hari, durasi tiga menit dua puluh detik.

Tapi soal janji ketemu besok siangnya? Soal rencana ke ruang BK jam istirahat?

Kosong.

Bukan kosong kayak lupa detail kecil. Kosong kayak halaman buku yang sobek rapi, tanpa bekas, tanpa jahitan yang kelihatan.

"Aneh," bisiknya dengan alis berkerut. Dia coba tatap dinding kamarnya lama-lama, kebiasaan baru lain yang dia pelajari dari Origa.

Kalau dia natap sesuatu cukup lama sambil mikirin sesuatu yang ilang, kadang, dikit-dikit, sesuatu balik nyantol. Bukan kekuatan Origa. Kekuatannya sendiri, versi lain, yang baru dia sadari beberapa hari lalu: kalau dia bisa bikin waktu berhenti buat dunia luar, mungkin dia juga bisa "muterin balik" waktu di dalem kepalanya sendiri. Sedikit. Kalau cukup keras kepala.

Dia merem, natap kegelapan di balik matanya, mikirin telepon itu keras-keras.

Aku nelpon Bu Wening. Aku nanya soal keluarga yang berubah aneh. Terus dia bilang...

Sekelebat. Cuma sekelebat, kayak nonton video yang buffering, tapi cukup: suara Bu Wening.

"Kamu bisa datang ke sekolah besok? Jam istirahat siang."

"Itu dia," pekik Rindu, ke kamar kosong, lompat dari kasur saking semangatnya sampe hampir nyium lantai. "Aku ada janji! Aku lupa ada JANJI!"

Dan di situlah, Rindu nggak cuma curiga sama apa yang hilang.

Lihat selengkapnya