Rindu nyoba satu hal terakhir sebelum benar-benar putus asa: dia coba pegang erat-erat hubungan dia sama Damba, berharap kalau nggak bisa nyelamatin ingatan soal Kenanga, paling nggak dia bisa nyelamatin ikatan mereka berdua.
Tapi bahkan itu, pelan-pelan, mulai aku ambil juga.
Bukan sekaligus. Aku nggak pernah kerja sekaligus. Kalau aku kerja sekaligus, itu ceroboh, dan aku udah bertahun-tahun belajar caranya nggak ceroboh.
Rindu dan Damba dulu punya panggilan khusus. Kak Dudu dan Adek Dadam. Itu berawal dari keseringan nyanyi Dudu Dadam, lagu yang mereka ubah liriknya asal-asalan. Singkatan konyol yang mereka bikin sendiri waktu Damba masih balita, saking deketnya mereka berdua.
Suatu sore, Damba pulang sekolah, manggil dari depan pintu:
"Kak Ririn."
Rindu, yang lagi masak di dapur, berhenti sebentar. Kedengeran sepele. Tapi buat dia, itu kayak denger nama sendiri diucapin salah. Kecil tapi nyeri.
"Kamu... panggil aku apa tadi?"
"Kak Ririn?" Damba bingung. "Emang biasanya manggil apa?"
Rindu nggak jawab. Dia cuma senyum yang dipaksain, lanjut masak.
*
Malam itu, sehabis Damba mandi, Rindu duduk di depannya di kamar. Buku catatan kecil terbuka di pangkuannya.
"Damba, coba deh, kita main game," katanya, nyoba nyari cara paling nggak mencurigakan buat ngetes sesuatu. "Aku sebut kata, kamu jawab apa yang keinget pertama kali. Kayak kuis."
"Oke!" Damba semangat, duduk bersila di depan kakaknya.
"Warna favorit."