Malam itu, di meja makan, ributnya kecil. Sekecil-kecilnya ribut yang pernah ada di rumah ini.
Damba nggak mau makan sayur. Bagja maksa, dengan nada yang dipaksain santai, "Abisin dulu, baru boleh maen." Damba ngambek, nyodorin piringnya menjauh, pura-pura kenyang padahal baru tiga suap. Bagja mulai ngomel pelan, capek abis kerja, nggak punya tenaga buat drama picisan soal buncis.
"Ayah nggak ngerti," gerutu Damba, suaranya mulai naik satu oktaf, tanda-tanda mau nangis.
"Ngerti apa? Ini cuma sayur, Damba."
Kecil. Sepele. Jenis ribut yang, kalau di keluarga lain, kelar dalam lima menit terus lupa.
Tapi Rindu, yang duduk di antara mereka berdua, ngerasa dadanya kejepit sesuatu. Bukan karena riuhnya. Riuh ini nggak seberapa dibanding yang biasa dia hadapin. Yang bikin dadanya sesek adalah keinginan yang muncul duluan, lebih cepet dari biasanya, lebih jelas dari biasanya.
Berhenti aja dulu. Sebentar aja.
Dan kali ini beda. Biasanya keinginan itu dateng pas dia udah kepepet, udah nggak sanggup, kayak refleks tangan yang narik diri dari api. Kali ini dia ngerasainnya sebelum keributannya beneran gede. Dia ngerasainnya waktu Damba baru mulai naik nada suaranya, waktu Bagja baru mulai narik napas buat ngomel lebih keras.
Dia bisa milih diem aja. Biarin mereka berantem tiga menit, baikan lagi kayak biasa.
Tapi tangannya udah gerak duluan. Bukan tangan beneran. Sesuatu di dadanya, yang dia udah hafal rasanya, yang dia tarik keluar sengaja kali ini, bukan lagi kejadian sendiri.
Waktu berhenti.